Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

BI: Pertumbuhan Ekonomi Tak Bisa Hanya Andalkan Suku Bunga

BI: Pertumbuhan Ekonomi Tak Bisa Hanya Andalkan Suku Bunga
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti adanya kesenjangan antara pertumbuhan kredit perbankan dan dana pihak ketiga (DPK). Dok Fortune Indonesia
  • Bank Indonesia menilai kebijakan suku bunga saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
  • BI akan mengombinasikan kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memberi ruang bagi sektor riil serta perbankan, sambil menjaga stabilitas.
  • Penentuan BI-Rate juga mempertimbangkan inflasi global, yield obligasi pemerintah AS, dan perkembangan indeks dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah BI menggabungkan suku bunga dan makroprudensial?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan suku bunga saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bank sentral perlu mengombinasikan kebijakan moneter dengan instrumen lainnya, terutama kebijakan makroprudensial.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan kombinasi kebijakan tersebut diperlukan lantaran kondisi global masih menghadapkan bank sentral pada periode suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer).

"Kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti enggak akan cukup karena kita di satu sisi menghadapi higher for longer dari global. Jadi apa yang kita lakukan? Kita combine dengan kebijakan lainnya," kata Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (3/9).

Destry mengatakan BI tetap memiliki mandat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan perhitungan BI, perekonomian Indonesia saat ini masih berada di sekitar level siklus potensial sehingga masih terdapat ruang untuk tumbuh lebih tinggi.

Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, BI akan menggunakan kebijakan makroprudensial untuk memberikan ruang bagi sektor riil dan perbankan agar dapat terus menopang perekonomian, dengan tetap menjaga stabilitas.

Di sisi lain, Destry mengatakan ruang kebijakan BI-Rate ke depan semakin kompleks. Secara umum, arah suku bunga dapat ditentukan berdasarkan perkembangan inflasi. Ketika inflasi meningkat, suku bunga dapat dinaikkan untuk menjaga stabilitas. Sebaliknya, ketika inflasi rendah, terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, kondisi global membuat penentuan BI-Rate tidak dapat hanya mempertimbangkan perkembangan inflasi domestik.

"Jadi dalam menentukan BI-Rate akan banyak pertimbangan," ujar Destry.

Menurut Destry, perkembangan ekonomi negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Eropa, turut memengaruhi ruang kebijakan moneter Indonesia. Negara-negara tersebut masih menghadapi tekanan inflasi yang tinggi sehingga ruang bagi bank sentralnya untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas. Pelonggaran yang terlalu cepat berisiko kembali meningkatkan tekanan inflasi.

Di Amerika Serikat, tekanan tersebut tercermin dari masih tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah. Destry mencatat yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun berada di atas 5,3 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di kisaran 4,6 persen.

Level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada di sekitar 3 persen. Selain itu, perkembangan indeks dolar AS atau DXY juga menjadi perhatian BI.

Destry menilai kondisi ekonomi Amerika Serikat saat ini semakin kompleks karena tekanan inflasi masih tinggi, sementara pertumbuhan ekonominya justru melambat dibandingkan periode sebelumnya.

"Jadi apa yang kita hadapi sekarang ini makin kompleks, karena saling berkaitan satu isu dengan isu lain makin tinggi," jelasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in News

    See More