Daftar Perempuan Pimpin Lembaga Strategis di Indonesia

Sosok perempuan yang memimpin lembaga strategis Indonesia mencerminkan meningkatnya keterwakilan perempuan dalam jabatan penting di berbagai sektor.
Destry Damayanti di BI, Friderica Widyasari Dewi di OJK, serta Isma Yatun di BPK tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin masing-masing lembaga.
Puan Maharani memimpin DPR RI, Amalia Adininggar Widyasanti mengepalai BPS, dan Sarah Sadiqa memimpin LKPP dengan rekam jejak luas.
Sejumlah lembaga strategis di Indonesia saat ini dipimpin oleh perempuan, mulai dari Bank Indonesia (BI), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Nama-nama yang menduduki posisi tersebut memiliki latar belakang dan perjalanan karier yang beragam.
Destry Damayanti menjadi salah satu nama terbaru setelah resmi menjabat sebagai Gubernur BI periode 2026–2031. Ia sekaligus menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Catatan serupa sebelumnya ditorehkan Isma Yatun sebagai Ketua BPK dan Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI.
Berikut daftar perempuan yang memimpin sejumlah lembaga strategis di Indonesia beserta rekam jejaknya.
Table of Content
Daftar perempuan pimpin lembaga strategis di Indonesia
1. Destry Damayanti
Destry Damayanti resmi menjabat sebagai Gubernur BI periode 2026–2031 setelah mengucapkan sumpah jabatan pada 2 September 2026. Ia mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin BI secara definitif.
Sebelum menduduki posisi tersebut, Destry menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019. Kariernya di bidang ekonomi dan keuangan mencakup posisi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Kepala Ekonom Bank Mandiri, serta Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Destry merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia meraih gelar Master of Science bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat.
2. Friderica Widyasari Dewi
Friderica Widyasari Dewi menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026–2032. Sebelum menduduki posisi tersebut, ia menjadi Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK pada 2022–2026.
Friderica sempat menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2009–2015 dan Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 2015–2016. Ia kemudian dipercaya sebagai Direktur Utama KSEI pada 2016–2019 dan Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas pada 2020–2022.
Pada 2026, Friderica sempat menjadi Pejabat Sementara Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK sebelum dilantik sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK pada 25 Maret 2026.
3. Isma Yatun
Isma Yatun menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sejak April 2022. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi Ketua BPK sekaligus perempuan pertama yang menjadi Anggota BPK sejak lembaga tersebut berdiri.
Isma merupakan lulusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya dan melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia. Sebelum berkarier di lembaga negara, ia pernah bekerja di Bank Danamon dan PT Elnusa Petro Teknik.
Kariernya berlanjut sebagai anggota DPR RI sebelum terpilih menjadi Anggota BPK pada 2017. Di BPK, Isma menjabat sebagai Anggota V pada 2017–2019 dan Anggota IV pada 2019–2022. Lalu, ia terpilih sebagai Ketua BPK pada April 2022 menggantikan Agung Firman Sampurna.
Baca Juga: Profil Destry Damayanti, Terpilih Jadi Gubernur Bank Indonesia
4. Puan Maharani
Puan Maharani merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI. Politikus PDI Perjuangan tersebut pertama kali menduduki posisi itu pada 2019 dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029.
Karier Puan di parlemen dimulai pada 2009 sebagai anggota DPR RI. Pada periode pertamanya, ia pernah menjadi anggota Komisi VI dan Ketua I Fraksi PDI Perjuangan, kemudian menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan pada 2012–2014.
Pada 2014, Puan masuk ke pemerintahan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Ia menduduki jabatan tersebut hingga 2019 sebelum kembali ke DPR dan terpilih sebagai ketua.
5. Amalia Adininggar Widyasanti
Amalia Adininggar Widyasanti menjabat sebagai Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) sejak 19 Februari 2025. Sebelum dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, ia telah menjalankan tugas sebagai Plt. Kepala BPS sejak 17 Juli 2023.
Karier Amalia di pemerintahan dimulai di Kementerian PPN/Bappenas pada 1999. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Ekonomi Internasional, Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik, Staf Ahli Menteri Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan, serta Deputi Bidang Ekonomi.
Sebelum memimpin BPS, Amalia terakhir menjabat sebagai Staf Ahli Menteri PPN Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Inovasi Digital. Ia merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) dan meraih gelar Ph.D. bidang ekonomi dari University of Melbourne, Australia.
6. Sarah Sadiqa
Sarah Sadiqa menjabat sebagai Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Ia resmi dilantik sebagai Kepala LKPP ketujuh pada 2025, menggantikan Hendrar Prihadi.
Ia dikenal sebagai sosok yang telah mengabdi di lingkungan LKPP. Ia pernah dipercaya sebagai Direktur Perencanaan Pengadaan RAPBN, Direktur Iklim Usaha dan Kerja Sama Internasional, Direktur Pengembangan Sistem Katalog, hingga Deputi Bidang Monitoring, Evaluasi, dan Pengembangan Sistem Informasi.
Itulah deretan perempuan yang memimpin lembaga strategis di Indonesia. Mereka menempati posisi di berbagai bidang, mulai dari moneter, pengawasan keuangan, legislatif, hingga statistik nasional.
FAQ seputar perempuan pimpin lembaga strategis di Indonesia
Siapa saja pemimpin perempuan di Indonesia? Beberapa sosok pemimpin perempuan di Indonesia seperti Destry Damayanti Friderica Widyasari Dewi, hingga Isma Yatun.
Siapa Gubernur Bank Indonesia perempuan pertama? Destry Damayanti menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026–2031.
Apa peran perempuan dalam pengambilan kebijakan ekonomi? Mereka membawa perspektif inklusif yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan hingga kebijakan publik.
Mengapa kepemimpinan perempuan di lembaga strategis penting? Keberadaan perempuan memperluas perspektif untuk menghasilkan keputusan lebih inklusif, komprehensif, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.



















