Blok Masela Produksi 9,5 Juta Ton LNG, Bahlil Jamin 60 Persen untuk Domestik

- Pemerintah memastikan 60% produksi LNG Blok Masela dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara 40% sisanya diekspor guna memperkuat ketahanan energi nasional.
- Proyek LNG Abadi Blok Masela bernilai investasi sekitar Rp390 triliun, termasuk teknologi CCS untuk menekan emisi karbon, dan menjadi tonggak penting setelah tertunda hampir tiga dekade.
- Pemerintah memproyeksikan potensi penerimaan negara hingga US$44 miliar serta penyerapan 12.000 tenaga kerja, dengan PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia sebagai calon pembeli utama gas domestik.
Jakarta, FORTUNE – Pemerintah memastikan sebagian besar produksi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Proyek LNG Abadi Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, saat peresmian groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela yang dikembangkan Inpex Corporation di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7). Proyek strategis nasional yang telah tertunda hampir tiga dekade itu akhirnya memasuki tahap konstruksi.
"Gasnya yang sudah kita putuskan, 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk ekspor," kata Bahlil yang juga disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Menurut dia, pasokan gas domestik dari Blok Masela akan menjadi bahan baku bagi berbagai industri strategis nasional. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah pengguna (offtaker), mulai dari industri pupuk hingga sektor ketenagalistrikan.
"Sebagian akan kita pakai untuk hilirisasi PT Pupuk, kemudian kita serahkan kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta untuk meningkatkan nilai tambah serta mendorong penciptaan ekonomi di daerah," ujarnya.
Blok Masela diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 120 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), serta menghasilkan 35.000 barel kondensat per hari. Produksi tersebut diharapkan mampu meningkatkan lifting migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Investasi hampir Rp390 Triliun
Bahlil menyebut proyek ini memiliki nilai investasi sekitar US$20,9 miliar atau setara hampir Rp390 triliun. Nilai tersebut termasuk tambahan investasi sekitar US$1 miliar untuk penerapan teknologi carbon capture and storage (CCS) guna menekan emisi karbon dari kegiatan produksi.
Ia mengatakan dimulainya pembangunan fisik proyek menjadi tonggak penting setelah perjalanan panjang yang dimulai sejak penemuan lapangan gas pada 1998.
"Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu, sudah melewati enam presiden. Baru pada masa Presiden Prabowo Subianto proyek ini bisa dieksekusi," ujarnya.
Menurut Bahlil, selama bertahun-tahun proyek tersebut tertahan akibat perdebatan mengenai konsep pengembangan kilang LNG, apakah dilakukan di laut (offshore) atau di darat (onshore). Setelah pemerintah memberikan kepastian arah kebijakan dan mempercepat proses perizinan, proyek akhirnya dapat memasuki tahap konstruksi.
Ia menambahkan pemerintah juga telah memberikan peringatan kepada sejumlah pemegang konsesi migas yang telah mengantongi Plan of Development (PoD) namun belum merealisasikan investasinya agar segera menjalankan proyek.
"Maka atas dasar itu surat peringatan kita layangkan dan alhamdulillah hari ini kita bisa melakukan groundbreaking," katanya.
Potensi penerimaan negara US$44 Miliar
Pemerintah memperkirakan Proyek LNG Abadi Masela akan memberikan dampak ekonomi dan fiskal yang signifikan sepanjang masa konstruksi dan operasi.
Bahlil menyebut proyek tersebut berpotensi menghasilkan penerimaan negara langsung sebesar US$37,8 miliar dan penerimaan pajak tidak langsung sekitar US$6,3 miliar. Selain itu, proyek diperkirakan mampu menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung.
Sebelumnya, pemerintah telah menyelesaikan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) proyek pada Februari 2026 yang mencakup seluruh komponen utama, mulai dari pengeboran lepas pantai hingga fasilitas pencairan gas di darat. Pembangunan fisik dimulai pada Februari 2026, sementara proses pembebasan lahan di Kepulauan Tanimbar rampung pada akhir Juni 2026.
Untuk memastikan penyerapan gas domestik, PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia telah menandatangani heads of agreement (HoA) sebagai calon pembeli gas dari Blok Masela. Di sisi lain, proses tender EPC ditargetkan berlangsung sepanjang 2026 bersamaan dengan persiapan menuju final investment decision (FID).
Pemerintah juga memberikan participating interest (PI) sebesar 10 persen kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Maluku sebagai bagian dari manfaat ekonomi bagi daerah. Saat ini, kepemilikan participating interest Blok Masela terdiri atas Inpex Masela Ltd. sebesar 65 persen, PT Pertamina Hulu Energi 20 persen, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. 15 persen.




















