Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Realisasi Investasi Semester I-2026 Capai Rp1.010 Triliun

Realisasi Investasi Semester I-2026 Capai Rp1.010 Triliun
Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara Rosan Roeslani memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah direksi Himbara di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6). ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Realisasi investasi Indonesia semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target tahunan, tumbuh 7,2 persen (yoy) dan menyerap lebih dari 1,44 juta tenaga kerja.

  • Kontribusi PMDN dan PMA hampir seimbang serta persebaran investasi antara Jawa dan luar Jawa makin merata, dengan DKI Jakarta tetap menjadi tujuan utama investor.

  • Investasi hilirisasi naik signifikan hingga Rp299,7 triliun atau 29,7 persen total nasional, didominasi sektor mineral dan mayoritas berlokasi di luar Jawa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Realisasi investasi di Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Itu setara 49,5 persen dari target investasi tahun ini yang sebesar Rp2.041,3 triliun.

Dalam artib lain, ada pertumbuhan 7,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengatakan raihan tersebut menunjukkan minat investor menanamkan modal di Indonesia masih terjaga dan berada pada jalur yang sesuai dengan target pemerintah.

Selain memperlihatkan pertumbuhan investasi, realisasi tersebut juga memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Sepanjang Januari-Juni 2026, investasi yang masuk mampu menyerap 1.448.862 tenaga kerja, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Dari sisi sumber investasi, kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) relatif berimbang. PMDN mencapai Rp502,9 triliun atau sekitar 49,8 persen dari total investasi, sedangkan PMA mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen.

Sementara itu, distribusi investasi antara wilayah Jawa dan luar Jawa juga makin merata. Investasi di Jawa mencapai Rp502,8 triliun atau 49,8 persen dari total realisasi, tumbuh 7,7 persen (YoY).

Investasi di luar Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen, meningkat 6,7 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Dari sisi persebaran investasi, Jawa dan luar Jawa kembali hampir seimbang, menunjukkan pemerataan investasi terus berjalan," kata Rosan saat menyampaikan laporan realisasi investasi semester I 2026 yang disiarkan secara virtual, Kamis (16/7).

DKI Jakarta masih terbesar

Berdasarkan wilayah, DKI Jakarta masih menjadi tujuan investasi terbesar pada semester I-2026 dengan kontribusi 17,2 persen dari total realisasi investasi nasional.

Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan investasi Rp138,1 triliun, disusul Jawa Timur sebesar Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.

Rosan menjelaskan, untuk investasi asing, sejumlah provinsi di luar Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau masih menjadi tujuan utama karena didorong investasi pada sektor pengolahan mineral.

Di sisi lain, PMDN masih terkonsentrasi di DKI Jakarta, kemudian diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.

Dilihat berdasarkan sektor usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp150,4 triliun atau 14,9 persen dari total realisasi.

Posisi kedua ditempati kelompok jasa lainnya, yang menurut Rosan didominasi pembangunan pangkalan data, dengan nilai investasi Rp114 triliun atau 11,3 persen.

Selanjutnya adalah sektor pertambangan sebesar Rp105 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sekitar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai Rp85,5 triliun atau 8,5 persen.

Dari sisi negara asal investasi, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia pada semester I-2026 dengan nilai investasi US$8,8 miliar.

Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar US$7,8 miliar, Tiongkok US$3,9 miliar, Jepang US$1,9 miliar, dan Amerika Serikat US$1,7 miliar.

Namun demikian, Rosan mengungkapkan bahwa pada triwulan II-2026 terjadi pergeseran, dan Hong Kong menjadi investor terbesar dengan nilai US$5,5 miliar, melampaui Singapura.

Investasi hilirisasi nyaris 30 persen

Rosan juga menyoroti meningkatnya kontribusi investasi pada sektor hilirisasi. Pada semester I-2026, investasi yang terkait hilirisasi mencapai Rp299,7 triliun, atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional, naik 6,9 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kontribusi tersebut juga meningkat signifikan dibandingkan 2023 yang masih berada pada level 24,5 persen.

"Trennya meningkat cukup tajam. Kami melihat investasi hilirisasi ke depan akan semakin besar, baik dari investor dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya.

Investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral senilai Rp206,5 triliun, diikuti perkebunan dan kehutanan sebesar Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan sebesar Rp3,8 triliun.

Sebagian besar investasi hilirisasi tersebut berada di luar Jawa, dengan kontribusi mencapai 75,7 persen atau sekitar Rp227,3 triliun, terutama di Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Menurut Rosan, pemerintah akan terus mendorong hilirisasi tidak hanya di sektor mineral, tetapi juga pada perkebunan, kehutanan, minyak dan gas, hingga sektor perikanan dan kelautan guna memperluas nilai tambah investasi di berbagai daerah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More