Airlangga: Pipeline Investasi Data Center RI Tembus 1,3 GW

- Airlangga Hartarto menyebut pipeline investasi pusat data Indonesia mencapai 1,3 GW, jauh di atas kapasitas terpasang saat ini sebesar 580 MW.
- Pemerintah meresmikan landing point di Batam dan Bitung untuk memperkuat konektivitas internasional serta menarik investasi pusat data berskala besar.
- Kerja sama dengan ARM ditujukan melatih 15 ribu engineer lokal guna mendukung ambisi Indonesia menjadi pemain utama AI dan semikonduktor di kawasan.
Jakarta, FORTUNE – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan proyek investasi pusat data (data center) di Indonesia yang masih dalam tahap pipeline telah mencapai 1,3 gigawatt (GW).
"Kapasitas terpasang kita sekarang setara dengan 580 megawatt. Yang masih dalam pipeline untuk investasi setara dengan 1,3 gigawatt. Jadi ini sebuah angka yang besar," ujar Airlangga di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (10/7).
Menurut Airlangga, pengembangan data center menjadi bagian dari strategi pemerintah menjadikan transformasi digital sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
"Mengapa transformasi digital penting? Karena tidak perlu melewati tahapan-tahapan pembangunan lama secara berurutan," katanya.
Pemerintah juga meresmikan landing point di Batam yang terhubung dengan Singapura serta di Bitung yang menjadi gerbang konektivitas ke Amerika Serikat. Landing point sendiri merupakan titik lokasi geografis di pesisir pantai di mana kabel serat optik bawah laut (submarine cable) internasional atau domestik mendarat dan masuk ke daratan.
Menurutnya, infrastruktur itu akan memperkuat daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi data center regional.
“Banyak data center yang masuk dan bahkan nanti akan ada puluhan miliar dolar yang akan masuk membangun computing center, membawa chip GPU yang paling advance ke sini,” ujar Airlangga.
Dari sisi industri semikonduktor, pemerintah juga menggandeng perusahaan semikonduktor ARM asal Inggris untuk mengembangkan talenta nasional. Kerja sama tersebut ditargetkan melatih sekitar 15 ribu engineer Indonesia agar mampu mengembangkan semikonduktor di dalam negeri.
"Mesinnya adalah machine learning, bahan bakarnya adalah data. Tidak akan ada AI tanpa data. Tidak akan ada pusat data berskala besar tanpa computing server dan chip semikonduktor," kata Airlangga.
Dalam pemaparannya, Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia juga menargetkan menjadi pemain utama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor, bukan hanya menjadi konsumen. Hal tersebut didukung oleh 235 juta pengguna internet pada 2026 atau setara dengan tingkat penetrasi 81 persen.
Nilai pasar AI Indonesia diperkirakan mencapai US$70 miliar, menjadikannya terbesar keempat di Asia dengan porsi sekitar 6,4 persen dari total pasar kawasan. Sementara itu, Indonesia telah memiliki 182 pusat data yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk 94 di Jakarta dan 16 di Batam.
Permintaan pusat data juga diproyeksikan tumbuh rata-rata 16,8 persen per tahun.


















