Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Freeport Indonesia Bidik Produksi Emas 43 Ton pada 2028

Freeport Indonesia Bidik Produksi Emas 43 Ton pada 2028
PT Freeport Indonesia
Intinya Sih
Sisi Positif
  • PT Freeport Indonesia menargetkan produksi emas naik menjadi 43 ton pada 2028, didukung pemulihan tambang bawah tanah Grasberg dan peningkatan kapasitas penambangan bertahap.
  • Produksi sempat turun akibat longsor pada 2025, namun diproyeksikan pulih penuh akhir 2027 dengan kapasitas tambang mencapai 100 persen dan produksi tembaga sekitar 1,6 miliar pound.
  • Tambang bawah tanah Kucing Liar disiapkan menggantikan DMLZ mulai 2029 agar produksi bijih tetap stabil di kisaran 220.000 ton per hari dan mendukung keberlanjutan operasi hingga 2030.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan lonjakan produksi emas menjadi 43 ton pada 2028, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan target produksi tahun ini yang diperkirakan hanya 21 ton.

Kenaikan tersebut akan ditopang oleh pulihnya operasi tambang bawah tanah Grasberg serta peningkatan kapasitas penambangan secara bertahap hingga mencapai level normal.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan produksi tembaga pada periode yang sama ditargetkan mencapai sekitar 1,6 miliar pound.

"Kami memasuki 2027 ada peningkatan yang signifikan dari jumlah katoda dan juga jumlah emas yang dihasilkan," kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang disiarkan secara virtual pada Selasa (14/7).

Sebelum mencapai target tersebut, produksi Freeport diperkirakan masih berada dalam fase pemulihan. Pada 2026, perseroan menargetkan produksi sekitar 700.000 ounces emas atau sekitar 21 ton, dengan produksi tembaga sekitar 800 juta pound.

Target tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi produksi emas pada 2025 yang mencapai 26,5 ton, bahkan jauh di bawah capaian 2024 sekitar 52,7 ton. Penurunan ini terjadi karena Freeport masih melakukan peningkatan kapasitas (ramp-up) operasi tambang bawah tanah setelah gangguan operasional akibat longsor.

Tony menegaskan penurunan produksi pada 2026 hanya bersifat sementara. Pada 2027, produksi diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1 juta ounces emas atau setara 31 ton, bersamaan dengan produksi tembaga yang diperkirakan mencapai 1,2 miliar pound.

Peningkatan produksi tersebut didorong oleh kenaikan volume bijih yang ditambang. Freeport menargetkan produksi bijih mencapai rata-rata 170.000 ton per hari pada 2027, kemudian meningkat menjadi 208.000 ton per hari pada 2028.

Selanjutnya, pada 2029 kapasitas penambangan ditargetkan mencapai 226.000 ton bijih per hari, yang menurut perseroan merupakan kapasitas operasi normal atau setara 100 persen.

Tambang Kucing Liar jadi penopang produksi

Kondisi di Smelter PT Freeport Indonesia, Gresik. Dok. PT Freeport Indonesia.
Kondisi di Smelter PT Freeport Indonesia, Gresik. Dok. PT Freeport Indonesia.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi setelah 2029, Freeport mengandalkan pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.

Menurut Tony, tambang baru tersebut akan menggantikan kontribusi Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang secara bertahap mengalami penurunan tonase sehingga tingkat produksi perusahaan dapat tetap terjaga.

"Pada 2029, tambang Kucing Liar direncanakan akan mulai bisa kita tambang untuk menggantikan DMLZ yang mulai merendah tonasenya, sehingga kelangsungan penambangan sekitar 220.000 ton bijih per hari dapat dilanjutkan," ujarnya.

Dengan tambahan produksi dari Kucing Liar, Freeport optimistis volume logam yang dihasilkan dapat terus meningkat hingga 2030 seiring tercapainya kapasitas penuh operasi tambang bawah tanah.

Pada kesempatan sama, Tony menjelaskan proses pemulihan operasi tambang bawah tanah Grasberg masih berlangsung setelah longsor yang terjadi pada September 2025. Perseroan memperkirakan kapasitas produksi baru akan kembali normal pada akhir 2027.

Saat ini produksi tambang masih berkisar 65 persen dari kapasitas normal. Pada semester I-2027, kapasitas ditargetkan meningkat menjadi sekitar 75 persen, sebelum mencapai 100 persen pada akhir 2027.

"Produksi tahun ini masih sekitar 65 persen dari kapasitas," kata Tony.

Perseroan masih melakukan berbagai pekerjaan perbaikan di area tambang bawah tanah untuk memastikan aspek keselamatan sebelum produksi ditingkatkan secara bertahap.

Terbatasnya pasokan konsentrat dari Papua sempat membuat smelter baru Freeport di Gresik menghentikan operasinya setelah stok konsentrat habis. Namun, perusahaan menargetkan fasilitas tersebut kembali menerima pasokan konsentrat dari Papua mulai September 2026, kemudian melakukan peningkatan kapasitas hingga akhir tahun.

Sementara itu, fasilitas PT Smelting di Gresik tetap beroperasi dan saat ini mengolah sekitar 50 persen konsentrat yang diproduksi Freeport Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More