Produksi Emas dan Tembaga Freeport-McMoRan Anjlok
Belum pulihnya pengoperasian tambang bawah tanah Grasberg usai insiden semburan lumpur menjadi penyebab.
Produksi tembaga turun 22,3 persen dan emas merosot 66,2 persen.
Freeport fokus memulihkan operasionalisasi Grasberg secara bertahap sambil menanggung biaya restorasi US$406 juta.
Jakarta, FORTUNE - Nestapa akibat semburan lumpur (mud rush) di Grasberg pada September tahun silam rupanya masih menyisakan masalah bagi kinerja finansial Freeport-McMoRan (FCX). Memasuki kuartal pertama 2026, raksasa tambang asal Amerika Serikat ini menyaksikan angka produksinya tertekan menyusul belum pulihnya pengoperasian tambang bawah tanah Papua tersebut.
Dalam laporan kinerja yang dirilis Senin (27/4), rapor merah membayangi entitas anak usahanya di Indonesia, PT Freeport Indonesia (PTFI). Terbatasnya kapasitas operasional akibat insiden tersebut memaksa volume produksi dan penjualan menyusut tajam.
Presiden Direktur dan CEO Freeport-McMoRan, Kathleen Quirk, menyatakan pemulihan menjadi prioritas mutlak saat ini.
βTim global Freeport berfokus pada pemulihan operasional di Grasberg secara aman dan berkelanjutan, mendorong teknologi baru dan program efisiensi untuk meningkatkan profitabilitas holding dan mengembangkan portofolio untuk mendorong pertumbuhan organik untuk menghasilkan nilai tambah bagi pemegang saham,β ujarnya.
Data menunjukkan produksi tembaga FCX pada tiga bulan pertama tahun ini terjepit pada angka 662 juta pound, anjlok 22,3 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang masih mencapai 868 juta pound.
Sejalan dengan itu, volume penjualan tembaga pun melandai ke level 657 juta pound. Beruntung, pasar sedang berpihak; kenaikan harga jual rata-rata yang mencapai US$5,78 per pound menjadi bantalan yang menopang kinerja dari kejatuhan lebih dalam.
Kondisi lebih getir terpampang pada komoditas emas. Produksi logam mulia ini terjerembap hingga 66,2 persen, hanya menyisakan 97.000 ounce dari sebelumnya 287.000 ounce. Namun, lonjakan harga emas dari US$3.072 menjadi US$4.893 per ounce menjadi penyelamat yang mengompensasi minimnya volume yang dilepas ke pasar.
Realitas di lapangan memang pahit. PTFI, yang dalam kondisi normal merupakan lumbung mineral dengan kapasitas 1,7 miliar pound tembaga dan 1,3 juta ounce emas per tahun, kini hanya mampu menyumbang 95 juta pound tembaga dan 92.000 ounce emas pada kuartal ini.
Meski demikian, manajemen mencoba tetap optimistis. Perusahaan melaporkan realisasi penjualan emas sebenarnya sedikit melampaui estimasi internal berkat pengaturan waktu pengiriman hasil pemurnian di Indonesia.
Di sisi lain, upaya perbaikan infrastruktur pemuatan bijih dan eksplorasi di bawah tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) terus dipacu demi menemukan cadangan baru.
Namun, manajemen FCX nampaknya mulai bersikap realistis dengan memangkas target tahunan. Volume penjualan konsolidasi sepanjang 2026 yang semula dipatok 3,4 miliar pound tembaga kini direvisi turun menjadi 3,1 miliar pound. Target emas pun tak luput dari koreksi, dari 800.000 ounce menjadi hanya 650.000 ounce.
Beban pemulihan ini memang tidak murah. Freeport harus merogoh kocek hingga US$406 juta sepanjang kuartal I-2026 untuk biaya fasilitas yang menganggur dan restorasi lingkungan. Kendati angka ini tidak dimasukkan dalam perhitungan biaya tunai unit, tetap saja ia menjadi beban tambahan yang membuat napas keuangan perusahaan kian tersengal di tengah upaya kembali ke kondisi normal.
















