Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Intiland (DILD) Target Prapenjualan Rp1,95 T di 2026, Tumbuh 21%

Intiland (DILD) Target Prapenjualan Rp1,95 T di 2026, Tumbuh 21%
South Quarter. (Dok. Intiland)
Intinya Sih
  • PT Intiland Development Tbk menargetkan prapenjualan Rp1,95 triliun pada 2026, naik 21,1% dari tahun sebelumnya dengan fokus pada segmen residensial dan kawasan industri.
  • Perusahaan akan mengandalkan proyek berjalan seperti pengembangan kawasan industri di Jawa Timur dan peluncuran Tower E Apartemen SQ Res pada paruh kedua 2026.
  • DILD menerapkan strategi deleveraging dengan menurunkan utang 25% menjadi Rp3,08 triliun melalui restrukturisasi pinjaman, penjualan aset non-inti, dan pelunasan sukuk untuk memperkuat keuangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD) membidik prapenjualan ssenillai Rp1,95 triliun pada 2026, bertumbuh 21,1 persen (YoY) dari Rp1,61 triliun.

Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono, mengatakan, pandangan yang melandasi proyeksi tersebut adalah pertimbangan terhadap prospek pasar properti yang masih bergerak selektif, meski tetap memiliki peluang pertumbuhan. Khususnya pada segmen residensial dan kawasan industri.

"Tahun ini kami cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (10/6).

Proyek-proyek baru itu, antara lain: pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur dan rencana perilisan Tower E Apartemen SQ Res pada paruh kedua 2026.

Sejalan dengan itu, DILD tetap menyiapkan pengembangan properti baru tetapi akan dilakukan secara selektif berdasarkan momentum pasar, kesiapan produk, dan daya serap konsumen.

Dari segi pemasaran, perseroan akan memprioritaskan optimalisasi proyek existing, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, penjualan stok siap jual, juga penyusunan program pemasaran yang lebih menyesuaikan kebutuhan pasar.

"Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental perseroan tetap sehat," ujar Archied.

Di luar itu, DILD pun akan mengutamakan strategi deleveraging atau penurunan utang. Tujuannya, menjaga efisiensi operasional, memberikan ruang bagi perusahaan untuk menangkap kans pertumbuhan, dan memperkuat struktur keuangan.

Pada 2025, DILD telah mengurangi total utang sebesar 25 persen dari Rp4,11 triliun menjadi Rp3,08 triliun. Pendorongnya adalah restrukturisasi pinjaman, akselerasi pelunasan, penjualan aset non-inti, juga pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More