Ditopang CPO, Dharma Satya (DSNG) Raih Pendapatan Rp6,29 Triliun

- DSNG membukukan pendapatan Rp6,29 triliun pada semester I/2026, naik 3,4% secara tahunan, dengan segmen kelapa sawit menyumbang 90% total pendapatan.
- Kenaikan volume dan harga jual CPO, PK, serta PKO menopang kinerja, meski TBS diolah turun 4,5%; OER naik menjadi 23,51% dan kadar FFA turun menjadi 2,98%.
- Laba bersih naik 7,8% menjadi Rp985,88 miliar setelah beban keuangan turun; energi terbarukan tumbuh, sementara penjualan produk kayu melemah akibat permintaan global belum pulih.
Jakarta, FORTUNE - PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan pendapatan Rp6,29 triliun pada paruh pertama 2026, naik tipis 3,4 persen secara tahunan. Peningkatan kinerja DSNG utamanya ditopang oleh segmen kelapa sawit, yang berkontribusi hingga 90 persen terhadap total pendapatan.
Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo, mengatakan volume penjualan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) mengalami kenaikan sepanjang semester pertama 2026. Selain itu harga rata -rata penjualan (average selling price /ASP) CPO, PK, dan Palm Kernel Oil (PKO) juga naik masing-masing sebesar 2,5 persen, 13,0 persen, dan 9,4 persen hingga mendorong pertumbuhan kinerja keuangan.
"Di tengah dinamika industri, kami tetap berfokus pada peningkatan produktivitas, penerapan praktik agronomi yang baik, efisiensi operasional, serta keberlanjutan program replanting. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi upaya kami untuk menjaga daya saing -langkah dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang," jelas Andrianto dalam keterangan resminya, Kamis (30/7).
Dari sisi operasional, DSNG mengolah sekitar 1,3 juta ton tandan buah segar (TBS) sepanjang semester I/2026, turun 4,5 persen YoY. Sejalan dengan itu, produksi CPO tercatat sebesar 299,3 ribu ton, sedangkan produksi PK dan PKO masing-masing mencapai 56,6 ribu ton dan 18,4 ribu ton.
Menurut Adrianto, meskipun volume produksi mengalami penurunan, perseroan tetap menjaga efektivitas operasional yang tercermin dari peningkatan Oil Extraction Rate (OER) menjadi 23,51 persen dari sebelumnya 23,33 persen.
Kualitas CPO juga tetap terjaga dengan penurunan kadar Free Fatty Acid (FFA) menjadi 2,98 persen dibandingkan 3,05 persen pada periode yang sama tahun lalu, yang menjadikan kualitas CPO-nya premium.
Pada segmen produk kayu, Adrianto menyebut permintaan global, khususnya di Eropa dan Amerika Utara, masih belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut berdampak pada volume penjualan produk kayu Perseroan. Volume penjualan panel tercatat sebesar 58,6 ribu meter persegi atau turun 6 persen YoY, sedangkan volume penjualan engineered flooring mencapai 116,2 ribu meter kubik, turun 64 persen YoY.
Sementara itu, segmen energi terbarukan (Renewable Energy/RE) menunjukkan perkembangan yang positif. Ekspor Palm Kernel Shells (PKS) dan Wood Pellets terus meningkat. Telah beroperasinya fasilitas pabrik wood pellet secara penuh juga telah berkontribusi terhadap meningkatnya volume penjualan wood pellets.
Hingga akhir semester pertama 2026, volume penjualan PKS meningkat 29 persen YoY menjadi 31.450 ton, sedangkan penjualan wood pellets meningkat 103 persen YoY menjadi 21.640 ton.
DSNG menerapkan pengelolaan operasional yang lebih efisien sehingga laba bersih terdorong naik. Adrianto menyebut perseroan melakukan menekan beban keuangan menjadi Rp169,5 miliar dari Rp231,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian laba bersih yang dibukukan sebesar Rp985,88 miliar, tumbuh 7,8 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara EBITDA relatif stabil pada kisaran Rp 2 triliun.
"Kami terus berupaya menjaga kinerja usaha melalui pengelolaan operasional dan keuangan yang disiplin di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri," ujarnya.
Posisi keuangan Perseroan juga tetap terjaga hingga akhir Juni 2026. Total aset tercatat sebesar Rp 17,81 triliun dengan ekuitas meningkat menjadi Rp 12,13 triliun. Sementara itu, total liabilitas menurun menjadi Rp 5,68 triliun, mencerminkan pengelolaan struktur permodalan yang tetap prudent.

















