Laba Maskapai Global Terancam Susut 50%, Bagaimana Indonesia?

- IATA memproyeksikan laba maskapai global turun hampir 50% akibat konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga bahan bakar dan biaya operasional.
- Meski tekanan global meningkat, industri penerbangan Indonesia diperkirakan tetap stabil dengan pertumbuhan penumpang domestik rata-rata 5,8% dan internasional 6,6% per tahun hingga 2030.
- INACA menilai faktor seperti ekspansi armada, kebijakan pemerintah menekan harga tiket, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara akan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor penerbangan nasional.
Jakarta, FORTUNE - Industri penerbangan global menghadapi tekanan baru akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan laba maskapai dunia dapat terpangkas hampir separuh pada tahun ini seiring melonjaknya harga bahan bakar dan meningkatnya biaya operasional. Di tengah tantangan tersebut, pelaku industri penerbangan Indonesia justru masih melihat peluang pertumbuhan yang relatif stabil dalam lima tahun ke depan, meski tetap mewaspadai dampak gejolak geopolitik global.
Melansir Fortune.com, IATA memproyeksikan laba bersih industri penerbangan global turun menjadi US$23 miliar pada tahun ini, dari US$45 miliar pada 2025. Margin laba bersih industri juga diperkirakan menyusut menjadi hanya 2 persen, turun tajam dari 4,2 persen pada tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, mengatakan maskapai yang memiliki kondisi keuangan lebih rapuh dan operator yang melayani kawasan Teluk Persia menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak konflik saat ini.
Menurut Walsh, perang Iran yang kini memasuki bulan keempat telah memaksa maskapai mengubah jalur penerbangan untuk menghindari wilayah konflik. Akibatnya, konsumsi bahan bakar meningkat karena jarak tempuh penerbangan menjadi lebih panjang.
Tekanan semakin besar setelah terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar penerbangan di pasar global.
Dalam laporan industri yang dirilis akhir pekan lalu, IATA memperkirakan harga bahan bakar akan melonjak sekitar 70 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tersebut diperkirakan menambah beban biaya industri penerbangan global hingga US$100 miliar.
Meski demikian, permintaan perjalanan udara sejauh ini masih cukup kuat. IATA memperkirakan musim liburan musim panas tetap menjadi periode sibuk bagi maskapai.
Kenaikan harga tiket sekitar 20 persen sepanjang tahun ini belum secara signifikan mengurangi minat masyarakat untuk bepergian. Sejumlah maskapai bahkan melaporkan pelanggan premium masih bersedia membayar tarif yang lebih tinggi.
CEO United Airlines, Scott Kirby, mengaku terkejut karena permintaan perjalanan udara tidak sepeka yang diperkirakan terhadap kenaikan harga tiket.
Namun, Walsh mengingatkan bahwa daya tahan konsumen memiliki batas.
"Ketidakpastian terbesar adalah berapa lama penumpang dan pengirim barang mampu menoleransi kenaikan biaya konektivitas ini," ujarnya.
Perang Iran menjadi ujian baru bagi industri penerbangan yang baru beberapa tahun menikmati pemulihan pascapandemi. Pada 2020, sektor ini mencatat kerugian kumulatif lebih dari US$137 miliar. Kondisi mulai membaik pada 2023 dengan laba industri mencapai US$27 miliar, sebelum meningkat menjadi US$45 miliar pada 2025.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi, Walsh tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri penerbangan.
"Lima hingga sepuluh tahun ke depan bisa menjadi salah satu periode paling menarik bagi industri penerbangan," katanya.
Menurut dia, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya, dan memperbaiki pengalaman pelanggan.
INACA optimistis industri penerbangaan stabil
Berbeda dengan proyeksi global yang dibayangi tekanan biaya, industri penerbangan Indonesia diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup kuat hingga 2030.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) memperkirakan sektor penerbangan nasional akan memasuki fase pertumbuhan yang lebih stabil sepanjang 2026-2030 setelah sebelumnya mengalami perlambatan usai lonjakan pemulihan pascapandemi.
Proyeksi tersebut tertuang dalam buku Indonesia Aviation Outlook 2026: Strategic Plan & Investment Opportunities yang diluncurkan INACA di Jakarta pada 6 Juni 2026.
Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, mengatakan Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat untuk memperbesar kontribusi sektor penerbangan terhadap perekonomian nasional.
"Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan pasar domestik yang sangat besar, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun sektor transportasi udara yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan," ujarnya, mengutip ANTARA.
INACA mencatat industri penerbangan nasional saat ini sedang mengalami plateau effect, yaitu kondisi ketika pertumbuhan mulai melandai setelah sempat melonjak tinggi pada masa pemulihan pascapandemi.
Sepanjang 2024-2025, pertumbuhan jumlah penumpang dan volume kargo dinilai tidak lagi setinggi periode 2022-2023 ketika mobilitas masyarakat kembali pulih secara signifikan.
Meski demikian, prospek jangka menengah masih dinilai positif. INACA memperkirakan jumlah penumpang domestik akan tumbuh rata-rata 5,8 persen per tahun pada periode 2026-2030. Sementara pertumbuhan penumpang internasional diproyeksikan mencapai 6,6 persen per tahun.
Dari sisi logistik, volume kargo domestik diperkirakan meningkat rata-rata 5,86 persen per tahun, sedangkan kargo internasional diproyeksikan tumbuh sekitar 6,68 persen per tahun.
Sejumlah faktor diperkirakan menjadi penggerak utama pertumbuhan tersebut. Mulai dari bertambahnya armada pesawat yang kembali beroperasi setelah menjalani perawatan, masuknya pesawat baru ke armada maskapai, hingga berbagai kebijakan pemerintah untuk menekan harga tiket pesawat.
Selain itu, perpindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) yang ditargetkan mulai berfungsi pada 2028 diyakini akan meningkatkan mobilitas penumpang dan distribusi logistik, terutama ke kawasan Indonesia Timur.
Pertumbuhan perdagangan elektronik, ekspansi industri hilirisasi, peningkatan ekspor komoditas bernilai tinggi dan produk yang mudah rusak, serta pengembangan fasilitas kargo internasional di sejumlah bandara juga diperkirakan akan menopang permintaan jasa penerbangan.
INACA mengakui konflik geopolitik global tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai karena memengaruhi operasional sejumlah rute internasional yang melintasi kawasan tersebut. Di sisi lain, pelaku industri melihat peluang dari kemungkinan penerapan mekanisme fuel surcharge yang lebih fleksibel, pembahasan penyesuaian tarif batas atas dan tarif batas bawah, serta berbagai program pemerintah untuk menekan harga tiket pada periode puncak perjalanan seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, maupun musim liburan sekolah.
Denon menegaskan bahwa pertumbuhan industri penerbangan nasional tidak dapat dicapai oleh maskapai semata. Menurutnya, dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari regulator, operator bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, pemasok bahan bakar, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.


















