Industri Plastik Terdesak Percepat Efisiensi di Tengah Lonjakan Biaya Operasional

- Industri plastik nasional menghadapi tekanan biaya tinggi akibat ketergantungan impor bahan baku dan gangguan rantai pasok global, dengan nilai impor mencapai sekitar US$2,55 miliar pada kuartal I 2026.
- PT ExxonMobil Lubricants Indonesia menekankan efisiensi operasional melalui penggunaan pelumas sintetis yang dapat mengurangi konsumsi energi hingga 10 persen serta memperpanjang usia pakai peralatan produksi.
- Asosiasi industri menyoroti pentingnya diversifikasi sumber bahan baku seperti kondensat dan LPG, namun implementasi alternatif ini masih terkendala regulasi dan bea masuk yang perlu disesuaikan.
Jakarta, FORTUNE – Industri plastik nasional semakin terdesak untuk memperkuat efisiensi operasional di tengah tekanan biaya produksi yang masih tinggi akibat ketergantungan pada impor bahan baku dan gangguan rantai pasok global.
Tekanan tersebut tercermin dari masih besarnya kebutuhan impor bahan baku plastik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor plastik dan turunannya mencapai sekitar US$2,55 miliar pada kuartal I 2026.
Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) Syah Reza mengatakan pengendalian biaya operasional merupakan langkah yang dapat langsung dioptimalkan oleh perusahaan di tengah ketidakpastian eksternal. Menurutnya, peningkatan keandalan mesin dan pengurangan downtime dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus menekan biaya.
“Salah satu upaya efisiensi operasional ini dapat dilakukan melalui optimalisasi pelumasan sintetis, hal ini menjadi langkah strategis dan nyata untuk meningkatkan keandalan peralatan produksi, menekan downtime, meningkatkan efisiensi energi, menjaga stabilitas produksi, serta mengendalikan operasional secara lebih konsisten,” kata dia dalam keterangannya, Jumat (12/6).
EMLI mengklaim penggunaan pelumas sintetis mampu membantu mengurangi konsumsi energi hingga 10 persen serta memperpanjang usia pakai pelumas dan peralatan. Perusahaan juga menyoroti bahwa praktik pelumasan yang tidak tepat menjadi salah satu penyebab utama kegagalan mesin di sektor industri, sehingga pemeliharaan yang lebih baik dinilai dapat meningkatkan produktivitas pabrik.
“Optimalisasi penggunaan pelumas yang didukung oleh sistem pemantauan dan manajemen yang tepat akan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya dan stabilitas produksi di masa depan,” ujarnnya.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi industri plastik tidak hanya berasal dari proses produksi. Pelaku industri sebelumnya juga mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku membuat biaya produksi sangat sensitif terhadap gejolak global.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiono, sebelumnya menyampaikan bahwa pasokan dan harga bahan baku menjadi perhatian utama industri, sehingga diversifikasi sumber pasokan dan peningkatan efisiensi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlangsungan produksi.
“Saat ini kami sudah bisa mencari alternatif bahan baku pengganti nafta, yaitu yang pertama adalah kondensat. Kemudian yang kedua adalah LPG,” ujar Fajar dalam keterangannya, Selasa (21/4).
Meski LPG dinilai memiliki potensi besar sebagai substitusi, implementasinya masih terkendala regulasi, terutama terkait bea masuk. Pelaku industri pun mendorong penyesuaian kebijakan agar alternatif ini dapat dimanfaatkan secara lebih kompetitif dan berkelanjutan.

















