Pemerintah Putar Otak Atasi Gangguan Pasokan Bahan Baku Plastik

Pemerintah berupaya menjaga industri plastik di tengah gangguan pasokan global akibat ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.
Kementerian Perindustrian menyiapkan strategi diversifikasi impor bahan baku seperti nafta.
Pemerintah mendorong industri agar lebih adaptif mencari sumber bahan baku internasional.
Jakarta, FORTUNE - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian tengah memutar otak untuk menjaga keberlangsungan industri plastik di tengah ancaman gangguan pasokan global. Ketegangan di Selat Hormuz akibat gagalnya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor yang berpotensi menghambat distribusi bahan baku utama industri tersebut.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan tantangan utama industri saat ini terletak pada aspek harga dan ketersediaan pasokan. Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya mempertimbangkan intervensi harga saja, tapi juga melakukan upaya lainnya.
“Kami akan terus mencari upaya substitusi pasokan, sambil berkoordinasi dengan supplier agar ada ruang untuk menekan margin, khususnya bagi industri kecil,” kata Agus di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (15/4)
Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah mulai mengupayakan diversifikasi impor bahan baku, khususnya nafta, yang selama ini sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Agus menyebut komunikasi dengan sejumlah negara alternatif telah dilakukan, meskipun detailnya masih bersifat rahasia.
Ia menegaskan kelangkaan bahan baku tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi merupakan fenomena global akibat ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini memicu persaingan antarnegara dalam mengamankan pasokan bahan baku strategis, termasuk plastik dan turunannya.
Sebagai bagian dari upaya diversifikasi, pemerintah mulai melihat adanya pasokan alternatif, salah satunya dari Malaysia, meski volumenya masih terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan nasional secara signifikan. Proses penjajakan kerja sama dengan negara lain pun masih berlangsung.
Dalam situasi ini, pemerintah mendorong pelaku industri untuk lebih adaptif dan proaktif dalam mencari sumber bahan baku, termasuk dari pasar internasional. Fleksibilitas dalam strategi pengadaan dinilai menjadi kunci agar industri tetap beroperasi di tengah tekanan global.
Meski menghadapi tantangan, Agus tetap optimistis industri nasional mampu bertahan, berkaca pada pengalaman selama pandemi Covid-19. Saat itu, sektor industri Indonesia dinilai menunjukkan resiliensi tinggi dan mampu pulih lebih cepat dibandingkan banyak negara lain.
“Kita punya pengalaman untuk bisa melewati tekanan seperti ini,” ujarnya.Â



















