Asics Spin Off Onitsuka Tiger untuk Percepat Ekspansi

- Asics Corp mengumumkan pemisahan bisnis Onitsuka Tiger ke OT Group mulai 1 Januari untuk mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan daya saing di pasar global.
- Pasar menyambut positif langkah ini, dengan saham Asics naik hampir 2 persen di Tokyo, sementara kapitalisasi pasarnya kini mencapai sekitar US$20 miliar.
- Onitsuka Tiger mencatat pertumbuhan penjualan 43 persen menjadi 136,5 miliar yen dan margin laba tertinggi di antara lini bisnis Asics, didorong permintaan wisatawan serta tren sepatu retro.
Jakarta, FORTUNE — Produsen perlengkapan olahraga asal Jepang, Asics Corp, mengumumkan rencana pemisahan (spin off) bisnis merek premium Onitsuka Tiger, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan di tengah lonjakan wisatawan ke Jepang dan meningkatnya permintaan terhadap sepatu bergaya retro.
Asics menyatakan, bisnis Onitsuka Tiger yang telah berusia hampir 80 tahun akan dialihkan ke OT Group, anak usaha yang sepenuhnya dimiliki perusahaan, melalui skema spin off yang akan efektif mulai 1 Januari mendatang. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan daya saing bisnis.
“Ketika organisasi tumbuh terlalu besar, proses pengambilan keputusan sering kali melambat karena semakin banyak lapisan persetujuan yang harus dilalui,” ujar Kepala Strategi Mitsubishi UFJ eSmart Securities, Tatsunori Kawai, sebagaimana dilansir dari Reuters, Rabu (10/6).
Menurutnya, spin off merupakan langkah yang tepat bagi perusahaan yang sedang tumbuh pesat.
Onitsuka Tiger telah memiliki posisi merek yang kuat dan independen di pasar, sementara persaingan domestik di segmen tersebut relatif terbatas. Karena itu, pemisahan usaha dinilai tidak akan mengganggu bisnis inti Asics.
Saham Melesat Pasca Pengumuman

Pengumuman tersebut direspons positif pasar. Saham Asics naik hampir 2 persen dalam perdagangan di Tokyo, berbanding terbalik dengan indeks acuan TOPIX yang turun 0,7 persen. Dalam lima tahun terakhir, harga saham Asics telah melonjak sekitar tujuh kali lipat, sehingga kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai sekitar US$20 miliar.
Onitsuka Tiger menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan Asics dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan merek tersebut melonjak 43 persen secara tahunan menjadi 136,5 miliar yen (sekitar US$851 juta) pada tahun yang berakhir Desember lalu. Pertumbuhan tersebut didukung oleh tingginya permintaan di Eropa, meningkatnya jumlah wisatawan asing ke Jepang, serta pelemahan nilai tukar yen.
Popularitas merek ini juga tercermin dari tingginya minat wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah Ana Lebl, wisatawan asal Brasil berusia 18 tahun yang membeli sepatu Mexico 66 SD di toko Onitsuka Tiger di Tokyo pekan lalu.
“Saya sering melihatnya secara online dan modelnya sangat menarik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbelanja di toko Onitsuka Tiger menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungannya ke Jepang. Bahkan sebelum berangkat, beberapa temannya telah menanyakan apakah ia akan mengunjungi toko tersebut dan menceritakan sepatu yang mereka beli.
Dari sisi profitabilitas, bisnis Onitsuka Tiger membukukan margin laba hampir 38 persen, tertinggi di antara lima kategori bisnis utama Asics.
Pada Februari lalu, produsen alas kaki dan pakaian olahraga itu juga memperkirakan akan kembali mencetak laba rekor pada tahun ini.
Dikenal melalui desainnya yang minimalis, Onitsuka Tiger berakar dari perusahaan pendahulu Asics yang didirikan pada 1949 oleh Kihachiro Onitsuka. Saat itu, Onitsuka memiliki keyakinan bahwa membangun generasi muda yang sehat melalui olahraga merupakan bagian penting dari upaya membangkitkan Jepang pasca Perang Dunia II.
Onitsuka kemudian mengembangkan sepatu basket pertamanya dan menamai merek tersebut “Tiger”, terinspirasi oleh kekuatan dan kelincahan harimau yang ia anggap sebagai hewan paling kuat di Asia.


















