Final Piala Dunia Bawa Berkah Bagi Adidas, Nike Gigit Jari

- Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina yang sama-sama disponsori Adidas, membuat Nike kehilangan peluang besar dari penjualan jersey dan merchandise resmi.
- Memo internal Nike menegaskan meski hasil turnamen tak sesuai harapan, perusahaan tetap fokus pada transformasi bisnis di bawah CEO Elliott Hill untuk memperkuat posisi di pasar sepak bola.
- Nike menghadapi tantangan produksi selama turnamen namun melihat peluang besar di sepak bola putri menjelang Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil.
Jakarta, FORTUNE - Nike Inc. mengungkapkan hasil akhir Piala Dunia 2026 tidak berjalan sesuai harapan perusahaan. Pada partai final yang berlangsung Minggu (20/7), Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina. Kedua finalis sama-sama mengenakan perlengkapan Adidas, setelah sebelumnya menyingkirkan dua tim yang disponsori Nike, yakni Prancis dan Inggris, di babak semifinal.
Dalam memo internal yang ditinjau Bloomberg News, Wakil Presiden sekaligus General Manager Nike Football, Camilo Andrade, menyatakan bahwa partai final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina—dua tim yang sama-sama disponsori Adidas—bukanlah skenario yang diinginkan Nike.
"Kami tahu akhir turnamen ini bukanlah seperti yang kami impikan," demikian tulis Andrade dalam memo dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/7).
Namun, dia menegaskan terlepas dari hasil pertandingan maupun siapa yang mengangkat trofi, tim Nike telah menjalankan tugasnya dengan baik.
Bagi perusahaan perlengkapan olahraga seperti Nike, kegagalan tim-tim sponsornya melaju ke final berarti kehilangan peluang meraup lonjakan pendapatan dari penjualan jersey dan merchandise resmi.
Di lain pihak, tim yang melaju ke babak final membuat popularitas jersey Lionel Messi dan Lamine Yamal meningkat pesat dan banyak dibeli penggemar menjadi tambahan pendapatan bagi Adidas, rival utama Nike.
Di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer (CEO) Elliott Hill, Nike tengah menjalankan transformasi bisnis dengan kembali menempatkan olahraga sebagai fokus utama. Piala Dunia menjadi salah satu momentum penting bagi perusahaan untuk memperkuat posisinya di pasar sepak bola.
"Kami menjalankan rencana sesuai yang kami inginkan dan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kami," tulis Andrade.
Meski demikian, ia mengakui Nike menghadapi berbagai tantangan selama turnamen berlangsung.
"Di tengah berbagai tantangan, tim sepak bola ini tidak hanya menciptakan kisah kebangkitan yang luar biasa, tetapi juga memberikan alasan bagi Nike dan dunia untuk tetap percaya," ujarnya.
Sebelum turnamen dimulai, jersey Nike sempat menuai kritik karena bagian bahunya terlihat berkerut. Selain itu, keterlambatan produksi juga menyebabkan sebagian stok produk bertema Piala Dunia tidak tiba di toko sesuai jadwal yang direncanakan.
Ke depan, Nike melihat peluang besar di sepak bola putri. Andrade menyebut perusahaan memiliki kesempatan besar untuk menjadi pemimpin di segmen tersebut, terlebih Piala Dunia Wanita 2027 akan digelar di Brasil.
Pada Piala Dunia 2026, Nike memasok perlengkapan pertandingan bagi sejumlah tim nasional, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Norwegia.
"Kami harus terus melangkah, terus percaya, dan terus mencoba. Dominasi itu akan datang," kata Andrade.
Di luar sepak bola, Adidas juga mencatat sejumlah keberhasilan dalam beberapa bulan terakhir. Dua pelari yang disponsori Adidas mencetak rekor pada Maraton London dengan menembus batas waktu dua jam yang selama ini juga menjadi target Nike. Sementara itu, pelari Josh Kerr memecahkan rekor dunia nomor lari satu mil putra dengan mengenakan sepatu merek Brooks.
Nike sedang berada di bawah tekanan untuk memulihkan pertumbuhan penjualan usai mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan mulai menunjukkan perbaikan di pasar Amerika Serikat dan kategori lari, meski masih menghadapi pelemahan permintaan di Cina serta pada merek Converse.


















