Garap Pasar Perawatan Gigi, SATU Dental Andalkan 57 Klinik

- SATU Dental Group mengoperasikan 57 klinik di Indonesia dan menargetkan pembukaan satu klinik per bulan, dengan lokasi dipilih berdasarkan demografi, kepadatan, daya beli, serta karakter wilayah.
- Ekspansi berlangsung saat akses perawatan gigi masih terbatas: SKI 2023 mencatat sekitar 90 persen masyarakat bermasalah gigi belum ditangani tenaga medis profesional.
- Grup mengintegrasikan klinik, Klik Dental, dan Dua Lab & Tech, sambil menstandarkan layanan melalui academy bagi hampir 600 dokter gigi.
Jakarta, FORTUNE – SATU Dental Group memperluas jaringan layanan kesehatan gigi melalui 57 klinik yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Hal itu menjadi strategi perusahaan untuk memperbesar akses perawatan gigi sekaligus membangun standar layanan yang seragam di seluruh jaringan.
CEO SATU Dental Group, Satria Situmorang, mengatakan pemilihan lokasi klinik dilakukan berdasarkan analisis demografi, kepadatan penduduk, daya beli, serta karakter wilayah. Pertimbangan tersebut diperlukan karena pendekatan bisnis untuk kawasan perkantoran berbeda dengan area permukiman.
“Jadi kita punya data demografi di masing-masing kecamatan atau masing-masing area, lalu kita bisa lihat kepadatan penduduknya seberapa padat, lalu spending-nya seperti apa. Lebih dari itu kita juga melihat karakter dari lokasi tersebut,” ujar Satria dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/9).
Menurut dia, SATU Dental telah menggunakan analisis tersebut di Jabodetabek, Surabaya, dan Semarang. Perusahaan juga memiliki data untuk sejumlah kota lain di Indonesia. Dari sisi kepemilikan, sebagian besar klinik dimiliki perusahaan, sedangkan sebagian lainnya dikembangkan melalui kemitraan dengan dokter gigi.
"Target kami, dalam satu bulan membuka satu klinik," katanya, menambahkan.
Ekspansi jaringan dilakukan di tengah masih terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan gigi. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 90 persen masyarakat Indonesia yang mengalami masalah gigi belum memperoleh perawatan dari tenaga medis profesional. Selain itu, rasio pelayanan medis masih berada di angka 1:8.000 dan terdapat 2.375 puskesmas yang beroperasi tanpa dokter gigi.
“Kami melihat pertumbuhan itu sebagai grup keseluruhan, tidak pernah dilihat anak usaha ini itu punya berapa, anak usaha itu kita melihatnya pertumbuhan grup, karena sebenarnya strateginya itu menyeluruh satu men-support yang lain, jadi sebenarnya yang matters most ke kita sebagai bisnis adalah grup secara keseluruhan,” kata Satria.
Integrasi ekosistem bisnis

Media briefing SATU Dental di Jakarta, Selasa (15/9)/Dok. Fortune IDN/Desy Y. SATU Dental tidak hanya mengembangkan jaringan klinik, tetapi juga membangun ekosistem yang mencakup Klik Dental sebagai platform perdagangan elektronik kebutuhan gigi dan Dua Lab & Tech sebagai laboratorium gigi berbasis teknologi. Integrasi tersebut diarahkan untuk mendukung operasional layanan sekaligus mengelola kebutuhan rantai pasok dan produksi perangkat gigi.
Klik Dental saat ini memasarkan lebih dari 200 merek kebutuhan gigi. Sementara itu, Dua Lab & Tech menjadi bagian dari infrastruktur pendukung layanan yang dikembangkan grup.
Dengan model tersebut, SATU Dental berupaya menghubungkan layanan klinis dengan bisnis pendukung dalam satu ekosistem. Strategi ini memungkinkan perusahaan mengelola pertumbuhan jaringan secara terintegrasi, alih-alih memperlakukan setiap unit usaha sebagai bisnis yang berdiri sendiri.
Satria mengatakan, SATU Dental telah beroperasi selama sekitar 4,5 tahun. Hingga kini, jaringan tersebut memiliki hampir 600 dokter gigi, dengan sekitar 80 persen di antaranya perempuan.
Pertambahan jumlah klinik juga menuntut perusahaan menjaga konsistensi kualitas layanan. Untuk itu, SATU Dental mengembangkan SATU Dental Academy yang digunakan sebagai sarana pelatihan dan pembinaan dokter gigi di seluruh jaringan.
VP Medical Affairs SATU Dental Group, drg. Melissa Delania, Sp.Pros, mengatakan, proses perekrutan dokter baru banyak berasal dari rekomendasi dokter internal. Meski demikian, setiap dokter yang bergabung tetap harus mengikuti proses seleksi dan pelatihan internal untuk menyamakan prosedur operasional serta standar medis.
“Jadi dokter-dokter dari dalam yang merasa mereka puas, mereka senang dengan bekerja bersama di satu dental, biasanya mereka merekomendasikan lagi teman-temannya. Nah dari situ kita seleksi lagi dan biasanya baru kita mendapatkan dokter-dokter tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelatihan tidak hanya berlaku bagi dokter yang baru lulus, tetapi juga bagi dokter yang telah lama menyelesaikan pendidikan kedokteran gigi. Program tersebut mencakup pembinaan keterampilan teknis dan kemampuan nonteknis yang dibutuhkan dalam pelayanan pasien.
“Semua dokter mendapat mentoring, kita bikin training internal ini untuk menyamakan SOP dan menyamakan standar,” kata drg. Melissa.
SATU Dental menyatakan penguatan jaringan dan standarisasi layanan tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi hambatan masyarakat dalam memperoleh perawatan gigi. Selain persoalan ketersediaan fasilitas, perusahaan melihat kekhawatiran mengenai biaya dan rasa sakit sebagai faktor yang turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk menunda perawatan.
Dalam momentum Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026, SATU Dental juga mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sejak dini, membersihkan karang gigi secara berkala, dan menjalani perawatan rutin. Bagi perusahaan, momentum tersebut menjadi ruang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, sementara dari sisi bisnis, kebutuhan terhadap layanan kesehatan gigi membuka peluang pertumbuhan bagi jaringan klinik dan ekosistem pendukungnya.


















