Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Harga Minyak Bergejolak, Castrol Waspadai Gangguan Pasokan Pelumas

Harga Minyak Bergejolak, Castrol Waspadai Gangguan Pasokan Pelumas
Dengan rekam jejak global dan solusi pelumasan berperforma tinggi, Castrol menghadirkan pendekatan terpadu untuk meningkatkan keandalan proses dan mengurangi risiko downtime industri (Castrol Indonesia)
  • Gejolak harga minyak dunia menekan rantai pasok industri pelumas di Asia Pasifik.
  • Castrol Indonesia memprioritaskan keamanan pasokan bagi pelanggan, terutama industri pertambangan.
  • Perusahaan menawarkan condition monitoring dan pemeliharaan berbasis keandalan untuk memperpanjang masa pakai pelumas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Castrol Indonesia memperkuat keamanan pasokan dan mendorong efisiensi penggunaan pelumas bagi industri pertambangan guna merespons gejolak harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level US$100 per barel. Langkah ini diambil menyusul gangguan rantai pasok di kawasan Asia Pasifik akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah serta potensi hambatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

General Manager B2B Castrol Indonesia, Troy Howard, menyatakan kondisi geopolitik saat ini menciptakan tekanan ekstrem bagi industri pelumas di kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, gangguan terhadap aliran minyak mentah menjadi perhatian utama karena komoditas tersebut berkaitan langsung dengan produksi base oil sebagai bahan baku pembuatan pelumas.

“Memastikan kami memiliki produk untuk melanjutkan pasokan bagi pelanggan kami sangat, sangat penting,” ujar Troy dalam diskusi bertajuk Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Opex di Jakarta, Jumat (11/9).

Tekanan industri ini seiring dengan lonjakan harga minyak dunia. Laporan Reuters pada Jumat (11/9) melansir harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh US$109,97 per barel—level tertinggi dalam empat bulan terakhir—sebelum terkoreksi ke US$105,98 per barel.

Secara kumulatif, Brent mencatat kenaikan lebih dari 10 persen dalam sepekan akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari konflik Amerika Serikat-Iran serta serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada manufaktur pelumas. Troy menjelaskan, apabila kilang lebih memfokuskan produksi pada diesel dan minyak mentah, produsen base oil akan menghadapi kendala signifikan dari sisi ketersediaan bahan baku maupun lonjakan biaya produksi.

“Jadi jika diesel terus menjadi fokus, maka itu akan menjadi kendala bagi produsen base oil,” ujarnya.

Menghadapi tantangan tersebut, Castrol meluncurkan strategi efisiensi untuk menjaga ketahanan operasional pelanggan, khususnya di sektor pertambangan yang mengoperasikan alat berat secara nonstop dalam kondisi ekstrem. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memperpanjang masa pakai pelumas melalui metode condition monitoring dan pemeliharaan berbasis keandalan (reliability-based maintenance).

“Jika kami dapat memperpanjang minyak melampaui bagian normal, itulah yang dapat kita lakukan. Itu dapat membantu menciptakan umur panjang produk dan mengurangi permintaan karena harus membeli kembali lebih banyak minyak,” kata Troy.

Meskipun porsi biaya pelumas hanya berkisar 3-4 persen dari total biaya kepemilikan dan operasional (total cost of ownership/TCO) alat berat, dampak kegagalan pelumasan dapat memicu kerugian finansial jauh lebih besar.

Kerusakan pada mesin atau transmisi tidak hanya berujung pada biaya penggantian oli, tetapi juga menyebabkan downtime, hilangnya ketersediaan alat, peningkatan biaya perbaikan, pengadaan suku cadang, hingga beban tenaga kerja. Oleh karena itu, perusahaan diimbau memperhitungkan dampak pelumasan terhadap total biaya produksi per ton.

Tantangan operasional lainnya terletak pada risiko kontaminasi selama proses distribusi dan penanganan pelumas—mulai dari keluar pabrik, pemindahan dari drum ke truk servis, hingga masuk ke dalam mesin. Lingkungan pertambangan yang berdebu, basah, dan terisolasi mempertinggi risiko penurunan kualitas produk.

“Semua adalah area di mana produk itu bisa terkontaminasi atau dikompromikan. Jadi ini adalah cara yang sangat menantang bagi kita untuk menjaga pelumas itu,” katanya.

Troy menegaskan gangguan pasokan minyak mentah melalui Selat Hormuz berdampak secara merata pada pelaku industri di seluruh kawasan.

“Untuk Asia Pasifik kita semua berada di perahu yang sama. Kita semua merasakannya di seluruh ASPAC,” katanya. 

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Business

    See More