Airbus Proyeksikan Asia-Pasifik Butuh 19.120 Pesawat Baru

- Airbus memproyeksikan Asia-Pasifik membutuhkan 19.120 pesawat penumpang baru hingga 2045, setara 45 persen permintaan global, didorong pertumbuhan lalu lintas penumpang 5,1 persen per tahun.
- Sekitar dua pertiga armada baru akan memenuhi pertumbuhan perjalanan, sedangkan sepertiganya untuk peremajaan. Populasi kelas menengah kawasan diperkirakan mencapai tiga miliar orang pada 2045.
- Permintaan didominasi 15.700 pesawat lorong tunggal dan 3.420 widebody. Pesawat generasi baru dinilai memungkinkan rute langsung antarkota sekunder serta mengurangi ketergantungan pada mega-hub.
Jakarta, FORTUNE - Kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan industri penerbangan global dalam dua dekade mendatang. Airbus memperkirakan kawasan ini membutuhkan 19.120 pesawat penumpang baru hingga 2045, atau sekitar 45 persen dari total permintaan global yang mencapai 42.060 pesawat.
Proyeksi tersebut tertuang dalam Global Market Forecast (GMF) 2026–2045 Airbus. Pertumbuhan kebutuhan armada itu didorong oleh lalu lintas penumpang di Asia-Pasifik yang diperkirakan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 5,1 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 3,9 persen.
Dengan laju tersebut, volume lalu lintas penumpang kawasan diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat selama periode proyeksi.
“Kami melihat adanya evolusi dalam jaringan penerbangan di Asia-Pasifik dan cara rute-rute tersebut saling terhubung,” kata President Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley, dalam keterangannya, Selasa (15/9).
Menurut dia, ekspansi penerbangan jarak jauh kini berjalan bersamaan dengan perubahan pola konektivitas, ketika maskapai mulai menghubungkan kota-kota sekunder secara langsung ke perekonomian global.
Perubahan tersebut membuat maskapai tidak lagi sepenuhnya bergantung pada model hub-and-spoke tradisional. Dengan memanfaatkan pesawat generasi terbaru, maskapai dapat membuka koneksi langsung antarkota, melewati mega-hub tradisional, sekaligus menciptakan jaringan penerbangan baru yang sebelumnya belum layak secara komersial.
Dari total 19.120 pesawat baru yang dibutuhkan Asia-Pasifik, sekitar sepertiganya akan digunakan untuk peremajaan armada. Sementara itu, dua pertiga sisanya dibutuhkan untuk mengakomodasi pertumbuhan lalu lintas penumpang. Airbus menilai permintaan tersebut ditopang fundamental ekonomi dan demografi yang kuat.
Pada 2045, populasi kelas menengah Asia-Pasifik diperkirakan mencapai tiga miliar orang. Seiring dengan urbanisasi yang cepat, perjalanan udara diperkirakan kian menjadi bagian penting dari aktivitas sosial dan ekonomi, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap konektivitas antarwilayah.
Berdasarkan kategori pesawat, permintaan terbesar akan datang dari pesawat lorong tunggal (single-aisle). Asia-Pasifik diperkirakan membutuhkan sekitar 15.700 pesawat berkapasitas 100–244 kursi hingga 2045. Kebutuhan tersebut mencerminkan ekspansi jaringan penerbangan domestik dan intrakawasan, selain peremajaan armada dan peningkatan kapasitas jangka panjang.
Pesawat lorong tunggal dengan kemampuan jelajah lebih jauh seperti Airbus A321XLR dan A220 akan memainkan peran dalam perubahan tersebut. Pengoperasian pesawat ini memungkinkan maskapai membuka rute antarkota baru dan menghubungkan kota-kota sekunder secara lebih langsung.
A220, khususnya, dinilai dapat membuat rute dengan permintaan relatif kecil menjadi layak untuk dioperasikan. Secara global, pesawat tersebut telah membuka lebih dari 400 rute baru. Di Asia-Pasifik, Airbus memperkirakan A220 berpotensi membuka lebih dari 800 rute antarkota baru yang saat ini belum terlayani.
Selain pesawat lorong tunggal, Asia-Pasifik juga akan menjadi pasar terbesar bagi pesawat berbadan lebar (widebody). Airbus memperkirakan kebutuhan kawasan tersebut mencapai 3.420 pesawat berbadan lebar baru, hampir separuh dari total permintaan global untuk kategori tersebut.
Peluang itu menjadi salah satu medan persaingan penting bagi Airbus. Dalam tiga tahun terakhir, Keluarga A350 dan A330neo telah membantu Airbus meningkatkan pangsa backlog pesawat berbadan lebar di Asia-Pasifik menjadi 50 persen. A350 juga semakin menguat sebagai pilihan maskapai untuk penerbangan antarbenua jarak jauh.
Pada kategori terbesar, Airbus menempatkan A350-1000 sebagai penerus alami Boeing 777-300ER. Perseroan melihat kebutuhan penggantian armada sekaligus pertumbuhan lalu lintas sebagai peluang untuk memperbesar penetrasi pesawat berbadan lebar di kawasan.
“Seiring dengan berlanjutnya ekspansi rute penerbangan jarak jauh, maskapai juga semakin beralih dari model hub-and-spoke tradisional dengan menghubungkan kota-kota sekunder secara langsung ke perekonomian global,” kata Anand.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi pesawat generasi terbaru memungkinkan maskapai di kawasan menyusun ulang peta konektivitas. Perubahan itu tidak hanya membuka rute baru, tetapi juga berpotensi memperkuat hubungan ekonomi antarkota dan mendukung kemakmuran jangka panjang Asia-Pasifik.
Posisi Airbus di kawasan tersebut saat ini juga cukup kuat. Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 119 maskapai di Asia-Pasifik mengoperasikan sekitar 5.000 pesawat komersial Airbus, dengan pangsa pasar mencapai 58 persen. Hampir 3.500 pesawat lainnya telah dipesan untuk pengiriman pada masa mendatang.
Pesanan tersebut mencakup sekitar 61 persen dari total backlog seluruh produsen pesawat di pasar pesawat jet berkapasitas di atas 100 kursi di Asia-Pasifik. Dengan pertumbuhan penumpang yang diproyeksikan mencapai 5,1 persen per tahun dan kebutuhan armada baru yang mencakup hampir separuh permintaan global, Asia-Pasifik akan menjadi salah satu arena pertumbuhan paling penting bagi industri penerbangan dalam 20 tahun mendatang.




















