Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Akibat Lonjakan Harga Minyak, Tambang Mulai Beralih ke Hybrid dan EV

Akibat Lonjakan Harga Minyak, Tambang Mulai Beralih ke Hybrid dan EV
ilustrasi tambang (pexels.com/Tom Fisk)
  • Lonjakan harga minyak mendorong perusahaan tambang mempertimbangkan alat berat hybrid dan kendaraan listrik.

  • Efisiensi bahan bakar dinilai perlu tetap diimbangi produktivitas alat berat dalam operasi pertambangan.

  • Biaya investasi, keandalan baterai, dan infrastruktur pendukung menjadi perhatian dalam peralihan teknologi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Lonjakan harga minyak dunia yang menekan biaya operasional memicu perusahaan pertambangan di Indonesia mulai mengalihkan penggunaan alat berat dari mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) ke teknologi hybrid dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Pergeseran strategi efisiensi energi ini diungkapkan oleh Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (Pertaabi) dalam diskusi bertajuk Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Opex di Jakarta, Jumat (11/9).

Department Head of Long-term Research & Regulation Pertaabi, Widhi Setya, menjelaskan mayoritas pengoperasian pertambangan saat ini masih mengandalkan mesin pembakaran internal. Kendati demikian, kenaikan harga bahan bakar membuat ongkos bahan bakar—yang merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar—makin membebani industri, sehingga mendorong pencarian unit yang lebih efisien.

“Beberapa bulan terakhir, saya melihat memang ada tren pergeseran dari ICE ke hybrid atau EV,” kata Widhi.

Sebelum mempertimbangkan peralihan teknologi, para pelaku industri tambang telah melakukan serangkaian efisiensi internal. Upaya tersebut mencakup pengoptimalan performa mesin, peningkatan keahlian operator melalui pelatihan, hingga perbaikan infrastruktur jalan tambang demi menghemat konsumsi BBM.

Namun, langkah optimalisasi internal tersebut dinilai telah mencapai batas maksimum dan tidak lagi menghasilkan penurunan biaya signifikan. Akibatnya, pergantian unit operasional menjadi opsi tercepat yang kini dipertimbangkan pelaku industri.

“Dengan melakukan secara internal seperti itu mungkin penurunan cost-nya tidak terlalu signifikan. Makanya cara tercepat salah satunya adalah bergeser. Kami mencari unit atau alat berat yang memang bisa lebih efisien secara fuel cost-nya,” ujar Widhi.

Meski demikian, adopsi elektrifikasi pada alat berat pertambangan belum dapat dijadikan solusi instan. Industri masih mengkaji apakah penghematan energi dari unit hybrid maupun EV sebanding dengan tingkat produktivitas yang dihasilkan. Pelaku industri pun mulai menggeser tolok ukur efisiensi dari sekadar liter per hour menjadi liter per ton demi memastikan volume produksi tetap optimal.

“Yang kami lagi kaji adalah apakah dengan pemanfaatan hybrid atau EV, mungkin secara kalkulasi fuel consumption bisa lebih rendah, tapi bagaimana dengan produktivitasnya? Apakah produktivitas ini memang bisa meng-cover sesuai dengan existing alat berat yang kita gunakan saat ini?” katanya.

Di samping kalkulasi produktivitas, transisi ini dihadapkan pada tantangan besarnya biaya investasi serta belum siapnya ekosistem pendukung, seperti stasiun penukaran baterai (battery swap station) dan fasilitas pemeliharaan di area tambang. Daya tahan serta keandalan baterai pada medan kerja ekstrem juga masih menjadi perhatian mendasar.

“Baterai ini yang notabene cost-nya sangat tinggi dan reliability-nya juga belum kita pastikan menjadi perhatian besar,” ujar Widhi.

Pada akhirnya, keputusan transisi alat berat bergantung pada perhitungan menyeluruh terhadap total biaya kepemilikan (total cost of ownership), yang mencakup harga unit, tingkat konsumsi energi, produktivitas, perawatan, hingga usia pakai baterai. Kendati demikian, tekanan biaya bahan bakar yang terus meningkat dipastikan tetap menjadi pendorong utama pergeseran teknologi pada sektor ini.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Business

    See More