Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Laba Astra Kontraksi, Tertekan Bisnis Alat Berat dan Pertambangan

Laba Astra Kontraksi, Tertekan Bisnis Alat Berat dan Pertambangan
Menara Astra. (dok. Astra)
Intinya Sih
  • Astra mencatat pendapatan Rp157,9 triliun, turun 3 persen, dan laba bersih Rp12,5 triliun, turun 19 persen, setelah penyesuaian nilai wajar investasi serta penurunan nilai aset Rp2,4 triliun.
  • Laba segmen solusi pertambangan dan alat berat anjlok 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat penjualan emas Martabe, Komatsu, dan aktivitas jasa tambang yang melemah.
  • Otomotif, jasa keuangan, dan segmen lain tumbuh, sementara Astra memperketat alokasi modal serta menyiapkan buyback baru hingga Rp8 triliun dan UNTR hingga Rp2 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan kinerja sepanjang semester I 2025. Astra membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp157,9 triliun pada semester I 2026, turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, laba bersih tidak termasuk pos non-berulang (non-recurring items), tercatat Rp14,9 triliun, turun 7 persen. Sedangkan bila memperhitungkan penyesuaian nilai wajar investasi dan penurunan nilai aset senilai Rp2,4 triliun, laba bersih perseroan 19 persen menjadi Rp12,5 triliun.

Presiden Direktur Astra International, Rudy mengatakan penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya bisnis solusi pertambangan & alat berat.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, kontribusi laba bersih segmen ini anjlok 46 persen menjadi Rp2,7 triliun, dipengaruhi minimnya penjualan emas dari tambang Martabe, turunnya penjualan alat berat Komatsu, serta penurunan aktivitas jasa penambangan akibat berkurangnya kuota produksi batu bara nasional (RKAB).

“Pada semester pertama 2026, Grup Astra mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis otomotif dan jasa keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat sehingga mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” kata Rudy dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7).

Segmen otomotif membukukan kenaikan laba bersih 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, didorong peningkatan penjualan mobil nasional serta kontribusi yang lebih besar dari bisnis komponen.

Angka itu sejalan dengan industri, di mana penjualan mobil nasional tumbuh 16 persen menjadi 437 ribu unit, sementara pangsa pasar Toyota dan Daihatsu tetap bertahan di kisaran 51 persen.

Sementara itu, bisnis jasa keuangan mencatat pertumbuhan laba bersih 6 persen menjadi Rp4,6 triliun, didukung kenaikan pembiayaan baru sebesar 10 persen menjadi Rp61,8 triliun, serta peningkatan kontribusi dari bisnis asuransi.

Di luar tiga bisnis inti, segmen lain-lain membukukan pertumbuhan laba bersih 31 persen menjadi Rp1,6 triliun, terutama ditopang oleh kenaikan harga minyak sawit dan kontribusi dari bisnis gudang industri (industrial warehouse) yang baru diakuisisi.

Menurut manajemen, strategi baru Astra dibangun di atas empat pilar utama, yakni Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment. Perseroan akan memusatkan investasi pada bisnis yang memiliki sinergi kuat dengan ekosistem Astra, menerapkan disiplin alokasi modal yang lebih ketat, serta memperkuat tata kelola untuk menghasilkan imbal hasil yang berkelanjutan bagi pemegang saham.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Astra menyatakan akan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi usaha, penguatan neraca keuangan, dan peningkatan nilai bagi investor melalui strategi alokasi modal yang lebih disiplin.

“Kami mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” kata Rudy.

Bersamaan dengan itu, perseroan menyiapkan program pembelian kembali (buyback) saham melalui Astra dan PT United Tractors Tbk (UNTR) sebagai bagian dari strategi meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham.

Sejak November 2025, Astra dan UNTR telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp7,4 triliun hingga akhir Juni 2026, yang mencerminkan komitmen keduanya untuk meningkatkan total imbal hasil bagi pemegang saham. Astra juga mengumumkan program share buyback baru hingga Rp8 triliun untuk jangka waktu 12 bulan yang dimulai pada bulan Juli. UT turut mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk jangka waktu tiga bulan yang dimulai pada bulan Juli.

Selain buyback, Astra juga mulai menerapkan Management Share Ownership Program (MSOP) jangka panjang sebagai upaya menyelaraskan kepentingan manajemen dengan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Latest in Business

See More