Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Bayan Resources (BYAN) Umumkan Force Majeure Usai RKAB 2026 Tak Terbit

Bayan Resources (BYAN) Umumkan Force Majeure Usai RKAB 2026 Tak Terbit
PT Bayan Resources Tbk sebagai saham batu bara (pexels.com/mike-van-schoonderwalt-1884800)
  • BYAN mengumumkan keadaan kahar setelah perubahan RKAB Tahun 2026 belum memperoleh persetujuan.
  • Tiga anak usaha BYAN menyampaikan pemberitahuan kepada pelanggan karena terkendala memenuhi pasokan batu bara.
  • Pada Selasa (15/9), saham BYAN turun 5,18 persen ke Rp10.525 per saham pada sesi perdagangan 11:44.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seberapa penting persetujuan RKAB bagi operasional BYAN?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengumumkan kodisi kahar atau force majeure, usai gagal memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026.

Direktur Bayan Resources, Low Yi Ngo menyampaikan belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB membuat sejumlah anak usaha perseroan menghadapi kendala dalam memenuhi kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan. Kondisi tersebut dialami PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP).

Ketiga anak usaha tersebut kemudian menyampaikan pemberitahuan keadaan kahar kepada pelanggan berdasarkan perjanjian penyediaan batu bara atau Coal Supply Agreement.

"Force majeure tersebut dikarenakan persetujuan atas perubahan RKAB Tahun 2026 belum diterbitkan kepada anak-anak perusahaan, walaupun permohonan persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku," ujar Low, dikutip dari keterbukaan informasi, Selasa (15/9).

Menurutnya, belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB tersebut memberikan dampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan. Pasalnya, persetujuan RKAB diperlukan agar anak usaha dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah.

Dengan pengumuman tersebut, BYAN berharap kondisi tersebut dapat meminimalisir risiko dan konsekuensi bagi perseroan dan anak-anak usahanya, serta menginformasikan kepada pelanggan tentang situasi BYAN apabila tidak bisa memenuhi permintaan.

"Kondisi saat ini memengaruhi kemampuan perseroan dan anak-anak perusahaannya untuk memenuhi kewajibannya kepada para pelanggannya," ujar dia.

Hal ini terjadi ditengah isu yang bergulir terkait pengambilalihan saham perseroan oleh pengusaha asal Kalimantan, Andi Syamsuddin Arsyad, alias Haji Isam. Pasar berspekulasi pihak yang terkait dengan kelompok usaha Jhonlin Group akan mengambil alih sekitar 62 persen saham perseroan.

Per hari ini, Selasa (15/9), pada sesi perdagangan pukul 11:44, saham BYAN anjlok hingga 5,18 persen dalam sehari ke level Rp10.525 per saham. Secara year to dated, saham BYAN telah merosot 35,63 persen.

    Share Article
    Editorial Team
    Ekarina .
    EditorEkarina .

    Latest in Business

    See More