Garam dan Pariwisata, Penggerak Ekonomi Desa Les di Buleleng

- Desa Les di Buleleng mempertahankan tradisi pembuatan Garam Les secara turun-temurun sambil mengintegrasikannya ke dalam konsep wisata budaya dan ekonomi berkelanjutan melalui program Desa Sejahtera Astra sejak 2024.
- Produksi Garam Les dilakukan dengan metode tradisional berbasis tanah pesisir dan air laut, menghasilkan garam khas bernilai ekonomi tinggi meski terkendala cuaca, abrasi, serta minimnya regenerasi petani.
- Melalui dukungan Astra dan konsep wisata Nyegara Gunung, Desa Les berhasil meningkatkan pendapatan warga hingga 25 persen serta meraih Juara Umum Desa Wisata Terbaik ADWI 2024.
Bali, FORTUNE — Di tengah modernisasi pariwisata Bali, Desa Les di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, masih mempertahankan satu tradisi yang telah diwariskan lintas generasi: produksi garam tradisional. Warisan budaya yang dikenal sebagai Garam Les atau garam palungan itu kini tidak hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari strategi wisata berbasis budaya dan pemberdayaan ekonomi desa.
Desa Les, yang masuk dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) sejak 2024, berupaya mengintegrasikan potensi ekonomi lokal, budaya, alam, hingga edukasi dalam satu ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Garam tradisional menjadi salah satu ikon utama yang memperkuat identitas desa tersebut.
Ladang-ladang garam Desa Les membentang di pesisir pantai utara Bali. Berbeda dengan produksi garam modern, proses pembuatan Garam Les masih mengandalkan air laut, media tanah pesisir, serta panas matahari. Teknik ini menghasilkan karakter rasa dan kandungan mineral yang menjadi ciri khas produk tersebut.
Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Les, Nyoman Nadiana, mengatakan metode pembuatan Garam Les diyakini memiliki jejak akulturasi budaya yang kuat dengan Cina. Letak Desa Les yang berada di jalur perdagangan kuno di pesisir utara Bali disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan teknik tersebut.
“Jadi ini memang jalur perdagangan, kuat diduga Cina memang berakulturasi dengan kita, makannya setiap upacara pakai uang keping Cina termasuk kuat diduga ngasih tau teknik pembuatan garam ini,” kata pria yang akrab disapa Don Rare itu saat dikunjuni Fortune Indonesia, Jumat (5/6).
Proses pembuatan garam diawali dengan menyiram air laut ke petak-petak tanah pesisir yang telah dibentuk khusus. Penyiraman dilakukan berulang kali hingga tanah menyerap kandungan garam dari air laut. Campuran tanah dan air laut tersebut kemudian disaring menggunakan wadah berbentuk kerucut atau kukusan yang ditempatkan di atas batang kelapa berbentuk palung atau perahu, yang menjadi asal-usul sebutan garam palungan.
Air hasil penyaringan selanjutnya dijemur hingga mengkristal menjadi garam. Menurut Don Rare, proses tradisional tersebut menjadi pembeda utama Garam Les dengan garam yang diproduksi melalui metode evaporasi biasa.
“Sebulan setengah, dua bulan, dia akan taruh unsur hara tanah baru. Beberapa ember saja. Jadi proses pembuatan Garam Les adalah sangat tradisional, setelah itu menggunakan media tanah. Ini yang terpenting. Karena beberapa tempat kebanyakan itu air laut ditampung beberapa saat. Baru disemai. Makanya rasanya pasti sangat pahit,” katanya, menjelaskan.
Ia menambahkan, campuran tanah pesisir dan air laut yang digunakan bukanlah tanah kotor, melainkan medium yang memperkaya kandungan mineral dalam garam. “Karena ada kandungan mineral baik tanah sama mineral baik air laut,. Jadi ini perpaduannya segara dan tanah. Ada unsur pertiwi di sini,” ujarnya.
Table of Content
Menumbuhkan nilai ekonomi

Dengan luas ladang rata-rata sekitar satu are, petani dapat menghasilkan sekitar 25 kilogram garam dalam satu kali panen. Panen dilakukan hingga dua kali dalam sepekan selama musim kemarau.
“Proses produksi sangat mengandalkan cahaya matahari. Sekali panen bisa menghasilkan kurang lebih 25 kilogram,” ujar Don Rare.
Ketergantungan pada cuaca membuat produksi Garam Les berlangsung sangat terbatas. Menurut Don Rare, dalam setahun masa produksi efektif hanya berlangsung sekitar 4,5 hingga lima bulan.
“Intinya karena ini hanya ketika musim kemarau, satu tahun itu efektifnya 4,5-5 bulan. Karena kan, di musim panas, beberapa bulan yang lalu hujan dulu, kan? Jadi setahun sekali untuk masa produksi dan panen,” katanya.
Selain tantangan cuaca, keberlanjutan Garam Les juga menghadapi ancaman lain. Don Rare yang masih mengelola ladang garam warisan keluarganya mengatakan jumlah ladang garam terus menyusut dari waktu ke waktu dan kini hanya tersisa sekitar 15 ladang.
"Satu, karena abrasi. Dua, karena memang enggak ada generasi, siapa mau bertani kayak gini? Panas dan lain sebagainya. Tiga, karena pariwisata. Mending bangun vila, bangun kolam di tepi pantai,” ujarnya.
Meski diproduksi secara tradisional dan sangat bergantung pada cuaca, Garam Les masih memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Secara agregat, produksi garam tradisional Desa Les mencapai sekitar 2–3 ton per panen selama musim kemarau, meskipun volumenya fluktuatif mengikuti kondisi cuaca.
Hasil produksi petani kemudian diserap dan dipasarkan oleh BUMDes, termasuk untuk memenuhi permintaan dari Pemerintah Provinsi Bali yang mencapai sekitar 1 ton per bulan atau setara Rp25 juta.
Untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut sekaligus memperluas sumber pendapatan masyarakat, Desa Les mulai mengintegrasikan aktivitas produksi garam ke dalam paket wisata desa. Langkah ini menjadi bagian dari strategi yang lebih luas melalui konsep wisata "Nyegara Gunung", yang menghubungkan potensi pesisir hingga kawasan perbukitan dalam satu alur perjalanan.
Menurut Don Rare, Desa Les memiliki karakter geografis yang unik karena mencakup kawasan pantai, pusat permukiman, hingga pegunungan dalam satu wilayah desa.
“Hanya Desa Les yang sebuah desa yang formatnya komplit satu desa. Jadi gini, Desa Les itu kalau kayak anatomi tubuh kakinya di laut, pusat desanya juga panjang, jadi dari pantai, pasar, sampai ke air terjun itu sudah masuk bukit,” katanya.
Dengan karakter geografis tersebut, pengalaman wisata yang ditawarkan dirancang dimulai dari kawasan laut, kemudian masuk ke desa, hingga berakhir di wilayah pegunungan. “Bikin apa pun selalu seperti itu, termasuk trip. Makanya di arah pantai dulu, laut, barulah masuk-masuk desa, teman-teman bisa merasakan gunungnya,” ujarnya.
Pengembangan budaya dan produk lokal
Di sektor budaya, wisatawan dapat mengenal tradisi lokal melalui Sanggah Kemulan Dadap dan kesenian Tapel Ngandong. Aktivitas melihat langsung proses pembuatan Garam Les juga menjadi bagian dari pengalaman budaya yang ditawarkan.
Sementara itu, wisata alam mencakup aktivitas snorkeling, trekking ke Bukit Yangudi, hingga mengunjungi Air Terjun Yeh Mampem yang berada di kawasan dataran tinggi. Untuk wisata edukasi, pengunjung dapat mempelajari pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Les yang telah mengembangkan pengolahan sampah organik untuk kebun hingga budidaya spirulina.
Dari sisi kuliner, desa menawarkan sejumlah makanan khas seperti Mengguh yang menyerupai bubur, Jukut Blook berbahan pucuk daun labu dan singkong, hingga hidangan khas Bali yang disajikan di Bali Moela.
Melalui kombinasi wisata budaya, alam, edukasi, dan kuliner tersebut, Don Rare berharap Desa Les dapat menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda dari Bali bagian selatan.
“Makanya saya punya tagline, kalau mau escape, ya, ke Les aja. Karena Les jadinya artinya juga escape. Melarikan diri, pelarian,” ujarnya.
Ia menambahkan, nama Desa Les sendiri diyakini berasal dari kata ngenes atau mekiles yang bermakna berpindah atau pergi ke tempat lain sambil bersembunyi.
Upaya pengembangan ekonomi desa tersebut mendapat dukungan melalui program Desa Sejahtera Astra. Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, mengatakan sejak bergabung dalam program tersebut pada 2024, Desa Les telah menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan.
“Program ini telah menjangkau lebih dari 800 masyarakat desa, mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 25 persen, menyerap puluhan tenaga kerja baru, serta membantu penyerapan pasar terhadap produk lokal hingga 100 persen,” ujarnya.
Menurut Windy, Astra melihat Desa Les memiliki kombinasi potensi alam, budaya, dan ekonomi lokal yang kuat serta masyarakat yang aktif menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.
“Astra melihat potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sehingga mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan lingkungan,” katanya.
Melalui program DSA, masyarakat memperoleh pendampingan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, hingga kewirausahaan.
Kepala Desa Les, Gede Adi Wistara, mengatakan dukungan tersebut turut memperkuat posisi desa sebagai destinasi wisata sekaligus pusat pembelajaran.
“Karena kita jadi binaan Astra, tentu kita selalu siap. Menyambut kunjungan ataupun penelitian,” ujarnya.
Desa Les sendiri meraih predikat Juara Umum Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Penghargaan tersebut menjadi modal penting bagi desa untuk terus mengembangkan model pembangunan yang menggabungkan pelestarian budaya, penguatan ekonomi lokal, dan pariwisata berkelanjutan—dengan Garam Les sebagai salah satu simbol utamanya.


















