Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Menilik Ekosistem Astra yang Mengubah Wajah Bengkel UMKM

Menilik Ekosistem Astra yang Mengubah Wajah Bengkel UMKM
Bengkel Autotama di Karangasem, Bali/Dok. Fortune IDN/Desy Y.
Intinya Sih
  • Bengkel Autotama di Bali berkembang pesat berkat pembinaan YDBA, dari usaha kecil menjadi jaringan tiga cabang dengan omzet miliaran rupiah melalui pelatihan manajemen dan peningkatan standar operasional.
  • HBBA Jawa Timur dan Bali membangun ekosistem pembelajaran bagi bengkel UMKM lewat budaya 5R, Quality Control Circle, serta digitalisasi pencatatan untuk meningkatkan efisiensi dan loyalitas pelanggan.
  • Program HBBA juga menanamkan praktik keberlanjutan seperti pengelolaan limbah B3, penggunaan alat ramah lingkungan, dan kolaborasi industri agar pertumbuhan bengkel tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bali, FORTUNE – Dua dekade lalu, Bengkel Autotama di Karangasem, Bali, hanyalah usaha perbaikan kendaraan yang dirintis I Wayan Sutama dengan modal sekitar Rp100 jutaan. Berdiri di atas lahan seluas 1.900 meter persegi, bengkel itu melayani kebutuhan masyarakat sekitar dengan sumber daya yang terbatas. Kini, usaha tersebut telah berkembang menjadi jaringan dengan tiga cabang, mempekerjakan sekitar 100 karyawan, dan membukukan omzet sekitar Rp7 miliar pada 2025.

Pertumbuhan itu tidak datang begitu saja. Di balik ekspansi usaha dan peningkatan pendapatan, terdapat proses panjang yang mencakup perubahan pola pikir, peningkatan standar operasional, hingga keberanian untuk terus belajar di tengah perubahan industri otomotif yang semakin cepat.

Sutama mengakui bahwa ketika memulai usaha, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan pelanggan atau permodalan. Ia juga harus berhadapan dengan persoalan yang kerap dialami banyak bengkel independen, mulai dari keterbatasan akses pengetahuan bisnis hingga kesulitan mendapatkan pemasok yang dapat dipercaya.

"Saya memang sering dibohongi dulu, oleh partner saya atau tertipu sparepart palsu dan lain sebagainya," ujarnya dalam temu media bersama Himpunan Bengkel Binaan YDBA (HBBA) Jawa Timur dan Bali di Karangasem, Bali, Kamis (4/6).

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup untuk membangun usaha yang berkelanjutan. Dibutuhkan pemahaman yang lebih luas mengenai manajemen usaha, pelayanan pelanggan, hingga tata kelola operasional.

Kesempatan itu datang pada 2009 ketika ia mengirim surat elektronik kepada Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk mengikuti program pembinaan. Awalnya, pelatihan diberikan kepada para mekanik. Setahun kemudian, giliran dirinya mengikuti berbagai pelatihan manajemen bengkel. "Awalnya mekanik dulu. Setelah itu 2010 baru saya training di manajemen bengkelnya. Semua terintegrasi, misalnya suku cadang kini dari Astra Otoparts," kata Sutama.

Proses pembelajaran tersebut menjadi salah satu titik balik penting bagi perkembangan Autotama. Praktik pengelolaan bengkel yang sebelumnya dilakukan secara intuitif mulai disusun menjadi sistem yang lebih terstruktur. Standar pelayanan diperbaiki, pengelolaan sumber daya manusia diperkuat, dan tata kelola usaha dibangun secara lebih profesional.

Membangun fondasi usaha bengkel, apa yang paling penting?

Perjalanan Autotama merupakan salah satu contoh transformasi yang ingin diwujudkan oleh Himpunan Bengkel Binaan YDBA (HBBA) Jawa Timur dan Bali. Organisasi yang berdiri pada 2014 tersebut lahir dari keyakinan bahwa pelaku usaha bengkel tidak dapat tumbuh sendirian. Di tengah perkembangan teknologi kendaraan, meningkatnya ekspektasi pelanggan, dan ketatnya persaingan, keberadaan ekosistem pembelajaran menjadi semakin penting.

Ketua HBBA Jawa Timur dan Bali, Rachmad Fitranto, mengatakan salah satu fondasi yang terus diperkuat adalah penerapan budaya 5R, yakni Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. Menurutnya, prinsip tersebut menjadi dasar pembentukan disiplin operasional sehari-hari. "Bengkel yang tertata dengan baik tidak hanya meningkatkan produktivitas kerja, tetapi juga menciptakan lingkungan usaha yang lebih profesional dan nyaman bagi pelanggan," ujarnya.

Selain itu, anggota juga diperkenalkan pada budaya inovasi melalui pendekatan Quality Control Circle (QCC). Melalui metode ini, pelaku usaha didorong menyelesaikan masalah berdasarkan data dan fakta lapangan. Dengan demikian, perbaikan tidak dilakukan secara sporadis, melainkan menjadi bagian dari budaya continuous improvement yang berkelanjutan.

Namun, pembinaan tidak berhenti pada aspek teknis. Salah satu perubahan terbesar justru terjadi pada cara pandang para pemilik usaha dalam menjalankan bisnis. Program Basic Mentality yang menjadi fondasi pembinaan YDBA mendorong pelaku usaha melihat bengkel bukan sekadar sumber penghasilan harian, melainkan aset yang perlu dibangun untuk jangka panjang.

Perubahan pola pikir tersebut menjadi landasan bagi transformasi berikutnya, termasuk penerapan pencatatan usaha yang lebih tertib dan pemanfaatan teknologi digital. Saat ini, sekitar 50 persen anggota HBBA telah beralih ke sistem pencatatan digital untuk menyimpan data pelanggan dan riwayat servis kendaraan.

Menurut Rachmad, digitalisasi bukan semata soal penggunaan teknologi. Tantangan terbesar justru terletak pada perubahan kebiasaan dan pola pikir pelaku usaha. "Bukan soal teknis, ini soal kebiasaan dan mindset. Banyak pemilik bengkel terbiasa berpikir, selesai servis, selesai urusan. Padahal persaingan semakin ketat, kemampuan memperbaiki kendaraan saja tidak lagi cukup," katanya.

Penerapan layanan purnajual seperti pengingat servis berkala (maintenance reminder) menjadi salah satu standar yang penting. Banyak bengkel melayani kendaraan milik wisatawan maupun perusahaan rental, sehingga kebutuhan pelanggan menjadi lebih beragam dan dinamis. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan menjaga hubungan dengan pelanggan setelah kendaraan keluar dari bengkel menjadi faktor yang menentukan loyalitas pelanggan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, HBBA mendorong anggotanya memanfaatkan sistem pencatatan digital. Melalui sistem ini, data pelanggan dan riwayat servis dapat tersimpan lebih rapi sehingga memudahkan tindak lanjut secara berkala. Selain itum ada pendampingan langsung, membuka ruang berbagi pengalaman antaranggota, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan administrasi dan data pelanggan.

Melalui pendekatan tersebut, digitalisasi tidak lagi dipandang sebagai beban tambahan, melainkan alat untuk meningkatkan kualitas layanan. Ketika data pelanggan tersimpan dengan baik, bengkel dapat memberikan pengingat servis tepat waktu, memahami riwayat kendaraan secara lebih akurat, dan membangun hubungan yang lebih erat dengan pelanggan.

Penerapan keberlanjutan di bengkel

WhatsApp Image 2026-06-04 at 10.20.40 PM (1).jpeg
Temu media bersama Himpunan Bengkel Binaan YDBA (HBBA) Jawa Timur dan Bali di Karangasem, Bali, Kamis (4/6)/Dok. Fortune IDN/Desy Y.

Transformasi yang didorong HBBA juga mulai menyentuh aspek keberlanjutan. Kesadaran terhadap pengelolaan lingkungan menjadi semakin penting seiring meningkatnya aktivitas usaha dan penggunaan berbagai material yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan benar. Bengkel Redana Motor milik Eka Redana yang juga Sekretaris Korwil Bali, HBBA Jatim Bali menjadi salah satu contoh penerapan praktik tersebut. Sebelum mengikuti berbagai program pembinaan, kondisi bengkel tidak jauh berbeda dari gambaran umum bengkel lawas: lantai menghitam akibat tumpahan oli, limbah belum dikelola secara optimal, dan kesadaran terhadap dampak lingkungan masih terbatas. "Bengkel biasanya identik dengan kotor, lantainya hitam, bercecer oli di mana-mana," ujarnya.

Setelah mendapatkan pelatihan, pengelolaan limbah menjadi bagian dari standar operasional usaha. Lantai bengkel diperkeras dan dilapisi keramik agar tumpahan oli tidak langsung meresap ke tanah. Sistem oil trap dipasang untuk memisahkan oli dan air limbah sebelum dibuang. Limbah oli dan kemasan pelumas juga dipisahkan serta dikelola secara lebih bertanggung jawab. "Jadi kita diajarkan bagaimana penanganan limbah B3, misalnya limbah oli. Bagaimana penangaannya yang aman," ujarnya.

Pengelolaan limbah juga dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain yang dapat memanfaatkan kembali material tertentu. Salah satunya adalah oli bekas yang dikumpulkan dan disalurkan untuk kebutuhan industri, sehingga tidak berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan. "Untuk oli bekas, kebetulan kita di Bali punya pabrik keramik. Jadi itu bahan dasar untuk membakar keramik. Intinya, setiap bengkel anggota HBBA diwajibkan punya penanganan pengelolaan limbah," kata Eka.

Tidak hanya itu, penggunaan alat recovery freon membantu mengurangi pelepasan gas pendingin ke atmosfer. Praktik pemilahan sampah organik, residu, dan limbah lainnya juga telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di bengkel.

Bagi anggota HBBA, pengelolaan limbah bukan sekadar memenuhi persyaratan usaha. Praktik tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan pertumbuhan bisnis tidak mengorbankan lingkungan tempat usaha beroperasi.

Dampak pembinaan kemudian meluas, sejumlah anggota kini menjadi guru tamu dan penguji di sekolah menengah kejuruan bidang otomotif. Sebagian lainnya membuka lapangan kerja baru bagi mekanik lokal serta menjadi tempat belajar bagi generasi muda yang ingin berkarier di industri otomotif. Ketika pola pikir berubah, standar meningkat, dan kemauan untuk terus belajar tumbuh, bengkel-bengkel kecil dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal yang memberi manfaat jauh lebih besar bagi masyarakat di sekitarnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More