Harga Bahan Baku Tekstil Naik 40 Persen, Bagaimana Kondisi Industri TPT?

Kenaikan harga bahan baku tekstil global , terutama paraxylene, memicu lonjakan biaya produksi.
Pemerintah melalui Kemenperin memperkuat koordinasi lintas sektor.
Pelaku industri beradaptasi lewat pengelolaan stok, pemanfaatan serat rayon lokal sebagai alternatif, meski utilisasi pabrik masih rendah akibat ketidakpastian pasar dan praktik perdagangan tidak adil.
Jakarta, FORTUNE - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kembali diuji. Kenaikan harga bahan baku global yang meroket hingga 40 persen menjadi hantu baru yang mengancam struktur biaya produksi di dalam negeri.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui dinamika global, terutama lonjakan harga bahan baku berbasis energi, telah memukul langsung jantung industri. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan pihaknya tengah bersiaga memantau fluktuasi harga sembari memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Kami terus mencermati fluktuasi harga bahan baku global yang berdampak pada industri TPT nasional, dengan memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan kelancaran rantai pasok,” kata Agus dalam keterangan resmi, Selasa (21/4).
Dalam radar pemerintah, lonjakan harga paraxylene (PX)—komponen utama pembuatan poliester—telah menyentuh angka 40 persen, mengekor tren pasar global. Kenaikan ini secara otomatis menyeret naik biaya produksi di seluruh lini, mulai dari hulu hingga produk jadi.
Sementara itu, stok monoethylene glycol (MEG) terpantau masih aman hingga April, meski Kemenperin memberi catatan agar pengawasan diperketat untuk periode mendatang.
Efek domino ini tidak hanya berhenti pada harga kain. Komponen pendukung seperti kemasan berbasis plastik turut terkerek. Dalam beberapa kasus ekstrem, ketidakpastian ini berujung pada penyesuaian volume ekspor hingga retur barang akibat pergeseran kondisi pasar internasional.
Di tengah tekanan bahan baku petrokimia, pemerintah mulai melirik potensi domestik. Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Rizky Aditya Wijaya, menyebut optimalisasi bahan baku alternatif sebagai kunci. Serat rayon yang berbasis sumber daya alam dalam negeri kini didorong menjadi penopang utama.
“Pemanfaatan rayon memberikan alternatif yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri,” ujar Rizky.
Menurutnya, meski industri tertentu seperti produk hygiene (popok) masih sangat bergantung pada bahan baku spesifik tanpa substitusi, subsektor lain sebenarnya memiliki fleksibilitas untuk beralih.
Sebagai langkah antisipatif, Kemenperin tengah meramu sistem pemantauan terpadu berbasis data real-time. Selain itu, sejumlah opsi kebijakan fiskal mulai dikaji, mulai dari insentif untuk bahan baku strategis, dukungan efisiensi energi, hingga penyesuaian aturan perdagangan demi mengamankan pasokan.
Namun, di mata pelaku usaha, persoalannya bukan sekadar harga. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyatakan tekanan biaya produksi kemungkinan besar telah diteruskan ke tangan konsumen dengan potensi kenaikan harga ritel sekitar 10 persen.
Menariknya, Redma mencatat permintaan pasar domestik sebenarnya masih stabil. Lonjakan harga barang impor justru memberi panggung bagi produk berbahan lokal untuk tampil lebih kompetitif.
“Hingga saat ini, pasokan bahan baku dalam negeri untuk poliester maupun rayon masih tersedia. Tidak ada kendala dari sisi barang, hanya harganya yang meningkat,” kata Redma pada Rabu (8/4).
Masalah fundamental justru terlihat dari angka utilisasi industri yang masih "setengah napas". APSyFI mencatat tingkat utilisasi produsen poliester masih terpuruk di bawah 40 persen, sementara produsen rayon berkisar 70 persen.
Bagi Redma, rendahnya utilisasi ini adalah residu dari ketidakpastian pasar dan praktik perdagangan yang tidak adil (unfair trade) di dalam negeri. Kondisi ini membuat sebagian pemain industri memilih "mati suri" ketimbang merugi.
“Banyak pelaku industri yang sudah berhenti memilih tidak beroperasi kembali selama praktik unfair di pasar domestik masih terjadi,” katanya.

















