Ada Revisi Formula HPM, Ini Dampak ke Bisnis Nikel UNTR

Jakarta, FORTUNE - Revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang berlaku medio April 2026 berpotensi berdampak positif terhadap PT United Tractors Tbk (UNTR).
Presiden Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro, mengatakan, secara teori, penyesuaian HPM tersebut akan mengubah formula untuk bijih nikel (nickel ore), yang terbagi menjadi: saprolit (saprolite) dan limonit (limonite ore).
"Kami sudah lakukan simulasi, secara garis besar, yang saprolit tak terlalu terpengaruh, tapi pengaruhnya ke limonit, yang harganya akan naik lumayan tinggi, mungkin dari US$7 menjadi US$12-US$13 per ton," kata Iwan setelah Konferensi Pers RUPST 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (17/4).
Saat ini, UNTR mengoperasikan bisnis nikel lewat PT Stargate Pacific Resources. Namun, dampak dari revisi formula HPM terhadap Stargate belum signifikan.
Hal itu karena operasional Stargate masih berada di fase awal. Saat ini, Stargate baru menjual bijih nikel. Sebab, smelter Rotary Klin-Electric Furnace (RKEF) perusahaan masih dalam fase pembangunan. Selain itu, perseroan pun belum memiliki smelter High Pressure Acid Leach (HPAL).
Smelter RKEF berfungsi untuk mengolah bijih nikel saprolit, sedangkan HPAL untuk limonit.
"Bisa saya simpulkan dampaknya cukup minimal, bahkan mungkin upside karena harga ore-nya naik," kata Iwan.
Sebagai konteks, Kementerian ESDM mengubah formula HPM untuk nikel dan bauksit dan efektif berlaku pada 15 April 2026. Tujuannya, evaluasi kebijakan sebelumnya serta upaya mengoptimalisasi penerimaan negara.
Phintraco Sekuritas mencatat, untuk bijih nikel, formula HMP kini menginput variabel tambahan, seperti: kandungan besi, kobalt, krom, kadar air, dengan corrective factor (CF) utama sekitar 30 persen, sesuai kadar nikel. Sementara itu, bijih bauksit akan memakai acuan harga aluminium global dengan faktor pengali, lalu disesuaikan sesuai kadar raektif silika.
Secara luas, bagaimana dampaknya terhadap emiten nikel lain selain UNTR? "Revisi HPM berpotensi menjadi katalis positif bagi penambang bijih seperti ANTM dan INCO karena dapat meningkatkan ASP, namun menjadi katalis negatif bagi smelter seperti NCKL dan MBMA, mengingat kenaikan harga bijih dapat langsung menekan margn jika tidak diimbangi kenaikan ASP produk olahan," jelas tim riset Phintraco Sekuritas.
















