Rumah Sakit Geser Strategi, Preventif dan Wellness Jadi Arah Baru

Jakarta, FORTUNE - Perubahan lanskap industri kesehatan semakin nyata. Di tengah meningkatnya kasus penyakit kronis pada usia produktif, rumah sakit tidak lagi semata mengandalkan layanan kuratif, melainkan mulai menggeser strategi ke pendekatan preventif dan wellness sebagai sumber pertumbuhan baru. Manuver tersebut bukan tanpa dasar, data World Health Organization menunjukkan penyakit tidak menular (non-communicable diseases/NCDs) seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke menyumbang sekitar 74 persen dari total kematian global.
Di Indonesia, tren tersebut tercermin dalam data terbaru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Prevalensi diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 11,7 persen dari 10,9 persen pada 2018, sementara hipertensi masih dialami sekitar 30,8 persen populasi dewasa, menegaskan eskalasi risiko kesehatan, terutama di kelompok usia produktif.
Fakta tersebut tidak terlepas dari perubahan gaya hidup. Pola makan yang tidak seimbang, tingkat stres yang tinggi, minimnya aktivitas fisik, hingga kualitas tidur yang buruk kian menjadi faktor risiko utama. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong munculnya kebutuhan baru: layanan kesehatan yang mampu mendeteksi risiko sejak dini, bukan sekadar mengobati saat penyakit telah berkembang.
Dalam konteks ini, layanan preventif mulai mengambil peran strategis. Rumah sakit menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari pemeriksaan rutin, pemantauan kondisi tubuh, hingga edukasi gaya hidup. Relasi antara pasien dan penyedia layanan pun bergeser dari episodik menjadi berkelanjutan.
“Sebagian besar penyakit kronis berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan rutin sangat penting agar kondisi dapat dikendalikan sejak awal dan tidak berkembang menjadi komplikasi," ujar dr. Timoteus Richard, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong," dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/4).
Pendekatan ini menempatkan pemetaan risiko sebagai fondasi utama. Aspek kesehatan yang dipantau tidak lagi terbatas pada keluhan, melainkan mencakup kondisi metabolik seperti gula darah, kolesterol, dan hormon; tekanan darah dan kesehatan jantung; fungsi ginjal serta hati; hingga berat badan dan komposisi tubuh. Faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, dan pola makan juga menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh.
Dalam praktiknya, dr. Timoteus mengatakan deteksi dini dilakukan melalui serangkaian pemantauan berkala. Pemeriksaan laboratorium seperti gula darah puasa dan HbA1c untuk risiko diabetes, profil lipid untuk kolesterol, hingga fungsi ginjal dan hati menjadi standar. Selain itu, monitoring tekanan darah, indeks massa tubuh, serta pemeriksaan jantung seperti EKG atau treadmill test dilakukan sesuai kebutuhan medis. Evaluasi gaya hidup pun menjadi komponen penting untuk mencegah gangguan kesehatan lebih lanjut. Pendekatan komprehensif ini memungkinkan rumah sakit menyusun terapi yang lebih personal dan terukur. Tidak hanya berfokus pada diagnosis, tetapi juga pada pengelolaan risiko jangka panjang.
Dari sisi bisnis, model preventif membuka peluang pertumbuhan baru. Layanan ini menciptakan interaksi yang lebih rutin dengan pasien, memperkuat loyalitas sekaligus membuka potensi monetisasi berkelanjutan, berbeda dengan layanan kuratif yang cenderung bersifat reaktif. Tren ini sejalan dengan dinamika global. Laporan Global Wellness Institute mencatat nilai industri wellness dunia telah melampaui US$5 triliun, dengan preventive health sebagai salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat. Sementara itu, studi McKinsey & Company menunjukkan lebih dari 70 persen konsumen kini aktif berinvestasi dalam kesehatan dan kesejahteraan, menandakan pergeseran perilaku dari reaktif menjadi preventif.
Transformasi ini juga tercermin dalam strategi pelaku industri. Bethsaida Healthcare, anak usaha Paramount Enterprise International yang juga menaungi Bethsaida Hospital Gading Serpong, tengah menjalankan rencana pengembangan lima tahun yang mencakup ekspansi rumah sakit, peningkatan fasilitas medical center, serta investasi pada teknologi medis dan digital.
Managing Director Bethsaida Healthcare, dr. Magdalena, menyebut integrasi layanan menjadi kunci dalam menjawab kebutuhan tersebut. “Integrasi antar unit dan antar COE memungkinkan kami mengarahkan pasien ke layanan yang paling tepat dengan koordinasi yang kuat antar tim medis, sehingga proses layanan lebih efisien dan hasil perawatan semakin optimal,” ujar dr. Magdalena.
Langkah ini diperkuat dengan transformasi digital. Pada 2026, Bethsaida Hospital menargetkan menjadi smart hospital melalui penerapan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), data analytics, serta sistem berbasis portal untuk meningkatkan pengalaman pasien sekaligus efisiensi operasional.
Saat ini, Bethsaida Healthcare mengelola enam rumah sakit dan lebih dari 31 unit bisnis di 11 kota, termasuk jaringan klinik serta layanan wellness seperti Seraphim Wellness Center. Ekspansi ini mencerminkan pergeseran peran rumah sakit, tidak lagi sekadar tempat berobat, tetapi menjadi mitra dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
“Tujuan utama kami bukan hanya menurunkan angka di hasil laboratorium, tetapi menjaga kualitas hidup pasien tetap optimal. Dengan monitoring rutin dan kepatuhan terhadap terapi, komplikasi dapat dicegah,” ujar dr. Timoteus, menambahkan.
Risiko yang ingin ditekan bukanlah hal sepele. Penyakit kronis yang tidak terkelola dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, kerusakan saraf, hingga gangguan penglihatan. Selain berdampak pada kesehatan individu, beban ekonomi yang ditimbulkan juga signifikan. Data World Bank menunjukkan penyakit tidak menular dapat menekan produktivitas tenaga kerja sekaligus meningkatkan beban pembiayaan kesehatan, khususnya di negara berkembang.
Dalam konteks tersebut, strategi preventif dan wellness menjadi semakin relevan, tidak hanya sebagai pendekatan medis, tetapi juga sebagai model bisnis berkelanjutan. Rumah sakit yang mampu membangun ekosistem layanan terintegrasi, dari deteksi dini hingga pengelolaan jangka panjang, berpotensi memenangkan persaingan di tengah perubahan perilaku konsumen.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan arah transformasi yang berfokus pada pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan berorientasi pada pencegahan. "Melalui deteksi dini, monitoring berkala, serta kolaborasi multidisiplin, kami ingin memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang tepat, aman, dan berkelanjutan demi kualitas hidup yang lebih baik," ujarnya.
Ke depan, batas antara layanan medis dan industri wellness diperkirakan akan semakin tak berjarak. Di tengah tekanan biaya kesehatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat, rumah sakit tidak lagi hanya bersaing dalam teknologi pengobatan, tetapi juga dalam kemampuan menjaga pasien tetap sehat, sebuah pergeseran yang mengubah wajah industri kesehatan secara fundamental.


















