Pertamina NRE Operasikan PLTS Berkapasitas 11,5 kWp, Mampu Tekan Cost Rp365 Juta

- Pertamina NRE mengoperasikan sistem tenaga surya 11,5 kWp dengan BESS 32 kWh di tongkang minyak OB Patra 2303 untuk mendukung kebutuhan energi kapal.
- Penerapan teknologi ini menekan konsumsi diesel sekitar 28 kiloliter per tahun, menghemat biaya Rp365 juta, dan mengurangi emisi hingga 79,2 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
- Pertamina berencana memperluas instalasi serupa ke enam tongkang tambahan hingga 2029 sebagai bagian dari upaya de-dieselisasi dan target pengembangan tenaga surya nasional.
Jakarta, FORTUNE - Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengoperasikan sistem tenaga surya berkapasitas 11,5 kWp yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 32 kWh pada kapal Tongkang Minyak OB Patra 2303 untuk mendukung kebutuhan energi sekaligus mengurangi emisi.
Pertamina memperluas pemanfaatan energi bersih di seluruh rantai bisnisnya. Penerapan teknologi tersebut merupakan instalasi perdana di tongkang minyak di Grup Pertamina, sekaligus menjadi implementasi awal teknologi surya pada kapal pengangkut kargo minyak bumi yang dioperasikan oleh PT Pertamina Trans Kontinental (PTK).
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menjelaskan pengembangan sistem tenaga surya di kapal memerlukan integrasi berbagai aspek yang cukup kompleks, baik dari sistem kelistrikan, operasional kapal, standar keselamatan hingga keandalan sistem.
"Implementasi proyek ini jauh dari sederhana. Saat ini, kita dapat melihat hasilnya dengan jelas: pengurangan konsumsi diesel yang signifikan dan kontribusi yang berarti untuk menurunkan emisi karbon. Ini menunjukkan bahwa teknologi energi bersih dapat memberikan manfaat lingkungan dan efisiensi operasional," kata John, Senin (15/6).
Berdasarkan perhitungan, pemanfaatan energi surya pada OB Patra 2303 berpotensi menekan konsumsi bahan bakar diesel sekitar 28 kiloliter per tahun dan menghasilkan penghematan biaya operasional sekitar Rp365 juta per tahun. Sistem tersebut juga diproyeksikan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 79,2 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
"Ini menunjukkan bahwa solusi energi terbarukan dapat diimplementasikan secara efektif di sektor maritim, yang secara tradisional sangat bergantung pada bahan bakar fosil," ujarnya.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono mengungkapkan penerapan dedieselisasi dapat dicapai tidak hanya di darat tetapi juga di laut.
"Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk mengembangkan kapasitas tenaga surya hingga 100 GW, dengan dedieselisasi sebagai salah satu prioritas utamanya. Jika dapat diimplementasikan di laut, peluang adopsi di sektor lain akan lebih besar lagi," ujar Agung.
Pada 2029, instalasi serupa direncanakan akan diperluas secara bertahap ke enam tongkang minyak tambahan.

















