Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

GOTO Cetak Laba Bersih Rp607 Miliar di Semester I 2026

GOTO Cetak Laba Bersih Rp607 Miliar di Semester I 2026
logo GoTo (gotocompany.com)
Intinya Sih
  • GOTO membukukan laba bersih Rp607,48 miliar pada semester I-2026, berbalik dari rugi Rp580,01 miliar tahun sebelumnya.

  • Pendapatan ditopang oleh jasa pengiriman sebear Rp3,2 triliun, sementara total aset perseroan mencapai Rp47,47 triliun per 30 Juni 2026.

  • GOTO menaikkan target EBITDA fintech menjadi Rp1,7–1,8 triliun dan menurunkan on-demand menjadi Rp1,4–1,5 triliun setelah kebijakan komisi baru berlaku.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih sebesar Rp607,48 miliar pada semester I-2026. Kinerja tersebut berbalik dari rugi bersih Rp580,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih GOTO ditopang kenaikan pendapatan sebesar 28,45 persen secara tahunan menjadi Rp10,99 triliun pada semester I 2026. Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan GOTO mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut dan melampaui Rp1 triliun untuk pertama kali.

“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya,” ungkap Hans dalam keterangan resmi.

Jasa pengiriman berkontribusi besar

Secara keseluruhan, kinerja GOTO cetak laba bersih ditopang oleh jasa pengiriman yang menyumbang Rp3,2 triliun. Pencapaian ini tumbuh 16,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, pendapatan dari imbalan jasa sebesar Rp3,15 triliun, pendapatan jasa e-commerce senilai Rp550,72 miliar, dan pendapatan iklan mencapai Rp254,45 miliar ikut berkontribusi pada kinerja keuangan perseroan sepanjang paruh pertama 2026. 

GOTO juga mencatatkan pendapatan lain-lain senilai Rp1,12 triliun. Sementara itu, dana yang didapatkan dari pinjaman tumbuh sebesar Rp2,7 triliun atau naik 64,67 persen secara tahunan.

Seiring pertumbuhan aktivitas bisnis, biaya dan beban GOTO naik menjadi Rp10,21 triliun atau tumbuh 16,87 persen dari sebelumnya Rp8,73 triliun. Dari sisi neraca keuangan, total aset perseroan mencapai Rp47,47 triliun per 30 Juni 2026, dengan total liabilitas dan ekuitas yang berada di level yang sama.

Target EBITDA fintech naik, on-demand diturunkan

Perusahaan memproyeksikan bisnis fintech menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan laba. Sebaliknya, kontribusi bisnis on-demand service diperkirakan melemah.

“Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis on-demand service akan berkurang, sementara bisnis fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” kata Hans.

Oleh karena itu, perseroan melakukan penyesuaian target pada dua bisnis utama tersebut. GOTO menargetkan EBITDA bisnis fintech dinaikkan menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun. Proyeksi ini lebih tinggi daripada target sebelumnya sebesar Rp1,4–1,5 triliun.

Sementara itu, target EBITDA bisnis on-demand service diturunkan untuk setahun penuh menjadi Rp1,4–1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun. Langkah ini dilakukan sebagai konsekuensi logis dari penyesuaian penerapan komisi baru.

GoTo telah menerapkan aturan komisi baru

Per 1 Juli 2026, GOTO resmi menetapkan kebijakan komisi baru berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Aturan ini berlaku untuk layanan transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen terhadap pendapatan bersih GOTO.

Menurut pihak manajemen, dampak dari penyesuaian komisi diperkirakan baru terlihat pada laporan keuangan kuartal tiga. Untuk mengantisipasinya, perseroan memastikan pedoman EBITDA Grup tetap dipertahankan di level Rp3,2–3,4 triliun.

Sebagai informasi, pemerintah resmi menerapkan kebijakan komisi 8 persen sejak 1 Juli 2026. Kebijakan ini memungkinkan aplikator menerima 8 persen potongan aplikasi dari biaya perjalanan, sementara 92 persen bagian akan menjadi pendapatan mitra driver. Perubahan skema komisi tersebut diakui sejumlah aplikator membawa penyesuaian bagi perusahaan demi menjaga stabilitas ekosistem.

GoTo akan terus berinvestasi pada pengembangan ekosistem

Direktur Utama GoTo Hans Patuwo menegaskan perusahaan akan terus berinvestasi pada pengembangan ekosistem. Hal ini termasuk mendukung kesejahteraan mitra melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, dan umrah gratis.

Menurut Hans, kesuksesan jangka panjang GoTo juga bergantung pada kesejahteraan seluruh pihak yang berada di dalam roda ekosistem perusahaan.

“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” jelas Hans.

Meski optimis terhadap prospek bisnis ke depannya, Hans mengingatkan bahwa proyeksi kinerja perusahaan tetap bergantung pada berbagai faktor, seperti kompetisi pasar, inflasi, dan kondisi ekonomi makro.

FAQ seputar GOTO cetak laba bersih

Berapa laba bersih GOTO?

PT GoTo Gojek Indonesia Tbk (GOTO) mencatatkan laba bersih senilai Rp607,48 miliar pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih Rp580,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Apa faktor pemicu kenaikan laba GOTO?

Kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan bersih naik mencapai Rp10,99 triliun atau tumbuh 28,45 persen secara tahunan.

Bagaimana target EBITDA GOTO ke depan?

Perusahaan mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh 2026 di kisaran Rp3,2–3,4 triliun.

Apakah saham GOTO masih layak dibeli?

Keputusan membeli saham GOTO sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko.

Share Article
Editorial Team

Latest in Business

See More