Lotte Chemical Indonesia Akhirnya Dapat Pasokan Nafta dari Malaysia
Pasokan diperoleh melalui kontrak senilai US$25,29 juta antara Lotte Chemical Titan (M) Sdn Bhd dan LCI.
Langkah ini diambil setelah konflik Amerika Serikat–Israel–Iran menutup Selat Hormuz.
LCI meminta dukungan pemerintah Indonesia berupa penyederhanaan regulasi impor, insentif fiskal, serta jaminan keamanan jalur pelayaran.
Jakarta, FORTUNE - PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) berhasil mengamankan pasokan nafta dari Malaysia guna menjamin kelangsungan produksi petrokimia di dalam negeri. Langkah ini diambil menyusul tersendatnya arus bahan baku dari Timur Tengah akibat eskalasi konflik bersenjata di kawasan tersebut.
Kepastian pasokan diperoleh setelah induk usaha, Lotte Chemical Titan Holding Berhad (LCTH), menandatangani kontrak penjualan nafta lintas anak perusahaan. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Malaysia, kesepakatan tersebut diteken pada 17 April 2026 antara Lotte Chemical Titan (M) Sdn Bhd (LCTM) dan LCI.
“Menyusul pecahnya perang yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran pada 28 Februari 2026 dan penutupan Selat Hormuz, LCTM telah melakukan Transaksi dengan LCI untuk mengurangi risiko operasional dan memastikan kelangsungan bahan baku,” demikian keterangan manajemen dalam pengumuman resminya, Rabu (22/4).
Nilai kontrak pengadaan bahan baku ini mencapai US$25,29 juta atau setara RM103,7 juta. Penentuan harga dilakukan dengan mengacu pada mekanisme pasar yang berlaku.
Saat ini, LCTM merupakan anak usaha yang dimiliki penuh oleh LCTH, sedangkan LCI adalah entitas dengan kepemilikan saham grup 51 persen.
Langkah strategis ini menjadi solusi atas tekanan pasokan yang melanda LCI dalam beberapa waktu terakhir. Selama ini, perusahaan sangat bergantung pada kucuran bahan baku dari Timur Tengah.
Namun, jalur logistik tersebut lumpuh sejak pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran, serta ditutupnya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Hambatan logistik ini sempat memaksa manajemen LCI mengambil kebijakan pahit dengan menurunkan tingkat produksi. Langkah tersebut terpaksa dilakukan demi menjaga napas operasional perusahaan di tengah ketidakpastian global.
Direktur Management Support LCI, Cho Jin-woo, menyatakan perusahaannya tetap berupaya beroperasi meski harus melakukan penyesuaian produksi akibat perubahan rute logistik.
“Kami mengevaluasi setiap hari untuk memastikan situasi terkini yang transparan seiring berkembangnya kondisi,” ujar Cho dalam keterangan tertulisnya.
Pihak manajemen mengakui bahwa diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci utama di tengah tingginya volatilitas geopolitik. Meski kontrak baru telah dikantongi, risiko akibat fluktuasi ekonomi global tetap diwaspadai. Manajemen berkomitmen meminimalkan risiko tersebut melalui strategi grup yang terintegrasi.
Guna menjaga stabilitas operasional ke depan, LCI juga telah melayangkan permintaan dukungan kepada pemerintah Indonesia. Perusahaan mengusulkan sejumlah langkah relaksasi, di antaranya penyederhanaan regulasi impor, pembebasan bea masuk LPG, hingga pemberian insentif fiskal sementara demi meredam lonjakan biaya produksi.
Selain bantuan domestik, LCI juga mendorong adanya langkah diplomatik pemerintah guna memastikan keamanan jalur pelayaran internasional. Intervensi pemerintah dinilai sangat penting, bukan hanya bagi keberlangsungan bisnis LCI, melainkan juga sebagai fondasi bagi momentum hilirisasi industri kimia nasional secara keseluruhan.


















