Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Lonjakan Harga Plastik 55% Picu Kekhawatiran Industri Mainan Global

Lonjakan Harga Plastik 55% Picu Kekhawatiran Industri Mainan Global
Tren Gadget Meningkat, Mainan Fisik Tetap Dibutuhkan Anak (Dok. IDN Times)
Intinya Sih
  • Harga plastik global melonjak hingga 55% akibat gangguan rantai pasok dan konflik Timur Tengah, memicu kekhawatiran besar di industri mainan dan kosmetik menjelang musim belanja akhir tahun.
  • Produsen seperti Learning Resources Inc. mempercepat pembelian stok untuk mengamankan pasokan, sementara sebagian besar beban kenaikan biaya masih ditanggung pabrik mitra agar harga jual tetap stabil.
  • Konflik di kawasan Teluk Persia menyebabkan keterlambatan pengiriman bahan kimia penting dan kontainer, menambah tekanan biaya bagi sektor manufaktur global termasuk kosmetik yang menghadapi lonjakan logistik dan energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Lonjakan harga plastik global hingga 55 persen akibat gangguan rantai pasok dan konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran industri mainan. Kondisi ini mendorong produsen mulai mengantisipasi kenaikan harga yang lebih tinggi, terutama menjelang musim belanja akhir tahun.

Salah satu produsen mainan asal AS, Learning Resources Inc., mengambil langkah proaktif dengan meningkatkan pembelian stok lebih awal dari biasanya. CEO Learning Resources, Rick Woldenberg, mengungkapkan bahwa perusahaan sengaja mengamankan persediaan sekitar satu bulan lebih cepat guna menghindari potensi lonjakan harga lebih lanjut.

“Kami khawatir terhadap ketersediaan pasokan untuk Natal. Karena itu, kami memilih mengeluarkan biaya lebih awal daripada menunggu situasi memburuk,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Kamis (9/4).

Kenaikan harga bahan baku terjadi di berbagai negara basis produksi seperti Cina, Vietnam, dan India. Bahan plastik utama seperti low-density polyethylene (LDPE) mengalami lonjakan harga signifikan diikuti pasokan yang mulai terbatas di pasar.

Meski menghadapi tekanan biaya, Learning Resources berupaya menahan harga jual agar tetap stabil bagi konsumen. Dalam kondisi ini, sebagian besar beban kenaikan biaya masih ditanggung oleh pihak pabrik mitra.

Di sisi lain, perusahaan juga mengantisipasi potensi kenaikan tarif impor di AS yang diperkirakan berlaku dalam waktu dekat. Learning Resources sendiri sebelumnya aktif menentang kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump dan bahkan menjadi penggugat utama dalam perkara di Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian tarif tersebut.

Gangguan pasokan plastik yang dipicu konflik di Timur Tengah turut memperparah kondisi rantai pasok global, terutama pada industri petrokimia yang menjadi bahan dasar plastik. Sejumlah pemasok di Asia dilaporkan menangguhkan pengiriman, sementara harga bahan kimia seperti etilena, metanol, dan propilena melonjak tajam.

Meski sempat terjadi penurunan harga minyak dan gas setelah kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, ketidakpastian masih membayangi pasar. Pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia—belum sepenuhnya menjamin normalisasi pasokan.

Selain itu, kerusakan fasilitas energi, penurunan produksi di ladang minyak, serta gangguan operasional kilang membuat pemulihan pasokan diperkirakan berlangsung bertahap.

CEO Dow Inc., Jim Fitterling, bahkan memperkirakan normalisasi aliran petrokimia dari kawasan Teluk Persia dapat memakan waktu hingga sembilan bulan setelah jalur distribusi kembali dibuka.

Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap harga plastik diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, menambah tantangan bagi pelaku industri manufaktur global, termasuk sektor mainan, dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan menjelang puncak permintaan akhir tahun.

Tak bagi industri mainan, konflik Timur Tengah Iran juga mengganggu antai pasok industri kosmetik, mendorong kenaikan biaya berbagai komponen mulai dari wadah plastik dan tabung lipstik hingga transportasi, menurut laporan Reuters.

Tekanan biaya menjadi tema yang terus berulang pekan lalu dalam salah satu pameran dagang terbesar sektor ini di kota Bologna, Italia utara, ketika para eksekutif memantau blokade Iran terhadap jalur pelayaran vital Selat Hormuz yang telah memasuki minggu kelima.

Pameran Cosmoprof menarik 3.100 peserta pameran dari 68 negara serta 255.000 pengunjung dari 150 negara, mulai dari perusahaan yang mencari solusi kemasan hingga peritel yang berburu produk baru.

Perusahaan kosmetik mengkhawatirkan kenaikan biaya bahan baku dan transportasi akibat lonjakan harga minyak serta terganggunya pengiriman, menurut lima eksekutif industri kepada Reuters.

“Kami mulai melihat kenaikan biaya yang dipicu inflasi harga energi, diperparah oleh keterlambatan pengiriman,” ujar Simone Dominici, CEO grup kosmetik asal Italia, Kiko.

Ia memperkirakan tambahan biaya logistik bagi grup tersebut mencapai sekitar 1,5 juta euro (US$1,7 juta) sepanjang tahun.

Kiko, yang menjual lipstik mulai dari 5 euro dan maskara dari 7,5 euro, mengoperasikan lebih dari 1.000 toko di seluruh dunia.

“Dengan banyaknya kontainer yang tertahan di Timur Tengah, ketersediaan kontainer menjadi semakin ketat, sehingga distribusi barang tidak berjalan efisien,” ujar Dominici.

Ia menambahkan bahwa kenaikan harga sejumlah komponen kimia dan bahan kemasan—yang sebagian besar dipasok dari Asia Timur—akan semakin menambah tekanan biaya.

Di tengah terganggunya rantai pasok akibat krisis Iran, Yonwoo, produsen kemasan untuk L’Oréal dan perusahaan K-beauty, mengaku tengah berupaya keras mengamankan stok resin plastik untuk memproduksi wadah produk perawatan kulit dan kosmetik.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Latest in Business

See More