Jakarta, FORTUNE - Saat ini, reputasi perusahaan memiliki nilai yang dapat diukur. Studi terbaru dari Burson menunjukkan bahwa perusahaan dengan reputasi kuat dapat memperoleh tambahan laba tahunan tidak terduga bagi pemegang saham sebesar 4,78 persen, yang menciptakan “Ekonomi Reputasi” global senilai US$7,07 triliun.
Penelitian berjudul “The Global Reputation Economy: A New Asset Class for a New Era” sukses mengukur nilai finansial dari sebuah reputasi, mengubahnya dari konsep abstrak menjadi aset konkret. Analisis menunjukkan, di antara perusahaan yang diteliti, skala “laba reputasi” ini dapat menambah nilai mulai dari US$2 juta hingga US$202 miliar dalam bentuk keuntungan tak terduga bagi pemegang saham, melebihi perkiraan dari metrik kinerja finansial konvensional.
“Selama puluhan tahun, para pemimpin secara intuitif menyadari bahwa reputasi itu penting, tetapi mereka tidak pernah bisa mengukurnya sebagai aset keuangan. Kini, kita bisa melakukannya,” kata Corey duBrowa, CEO Global Burson, dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1).
“Studi kami menunjukkan bahwa reputasi adalah sistem yang saling terhubung, yang jika dikelola dengan cermat, dapat menghasilkan miliaran dolar dalam bentuk keuntungan yang terukur, membangun ketahanan terhadap berbagai gejolak, dan memberikan kepastian kepada para pemimpin untuk mengambil langkah-langkah berani. Selain itu, reputasi yang kuat juga dapat memberikan pengaruh finansial melampaui sekadar konsep loyalitas yang sederhana," katanya, menambahkan.
Meskipun pemimpin reputasi unggul di semua aspek, penelitian ini mengidentifikasi tempat kerja sebagai area yang menawarkan peluang dan tantangan yang signifikan. Selain itu, walau tempat kerja menempati peringkat terendah (11 persen) dari total delapan faktor penentu reputasi di studi ini, penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan kerja menentukan kesenjangan sebesar 11,8 persen antara perusahaan dengan performa terbaik dan terburuk.
Studi ini juga memperingatkan bahwa kesenjangan dapat menjadi krisis bagi perusahaan yang tidak mengelola integrasi AI dengan baik. “Perusahaan harus melampaui ‘strategi AI’ dan menciptakan ‘strategi sumber daya manusia berbasis AI’ karena cara mereka mengelola transisi ini akan menegaskan komitmen mereka dalam menghargai karyawan,” kata Matt Reid, Global Corporate dan Public Affairs Lead, Burson, dan U.S. CEO, Burson Buchanan.
Menurut Reid, perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan ulang dan berkolaborasi dengan karyawan untuk menciptakan masa depan bersama akan memperoleh nilai tambah bagi reputasinya. Sebaliknya, perusahaan yang memandang AI hanya sebagai alat untuk mengurangi tenaga kerja akan membayar ‘pajak reputasi,’ di mana keuntungan efisiensi yang diperoleh akan terimbangi oleh penurunan nilai reputasi.
