Jakarta, FORTUNE - Pengembang properti, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), meraih prapenjualan atau marketing sales senilai Rp5,52 triliun pada 2025.
Capaian itu meningkat 27 persen (YoY) dari prapenjualan 2024. Selain itu, angka tersebut juga lebih tinggi 11 persen dari target tahunan perseroan pada 2025, yakni Rp5 triliun.
Katalis pertumbuhannya adalah performa penjualan pada kuartal-IV 2025. "Summarecon Agung mencatat marketing sales Rp1,96 triliun pada kuartal-IV 2025, naik 15 persen (YoY) dan 41 persen (QoQ)," demikian dikutip dari riset Stockbit, Senin (12/1).
Secara detail, segmen residensial atau rumah tapak berkontribusi sekitar 74 persen dari total prapenjualan perseroan selama 2025. Setelah itu, prapenjualan tertinggi kedua berasal dari segmen ruko, yakni sebesar 17 persen. Lalu diikuti oleh prapenjualan segmen lainnya, yakni: kavling tanah (7 persen), apartemen (2 persen), serta perkantoran dan komersial (0,1 persen).
Berdasarkan sektor, Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menjelaskan, diskusi dengan para pengembang menunjukkan bahwa permintaan pembeli kelas menengah ke atas tingkat awal (segmen Rp1 miliar-Rp5 miliar) mulai melambat, sedangkan segmen di atas Rp5 miliar menguat.
"Para pengembang berencana untuk memfokuskan peluncuran 2026 pada segmen tersebut," kata Analis BRIDS, Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya, "Hal ini terjadi meskipun insentif PPN diperpanjang hingga 2027, yang terus mendukung keterjangkauan."
Kendati demikian, BRIDS tetap memandang positif perpanjangan insentif tersebut dalam mendukung proyeksi prapenjualan para pengembang properti pada 2026 dan 2027. BRIDS memproyeksikan prapenjualan industri akan tumbuh masing-masing 4 persen pada masing-masing tahun itu.
"Prapenjualan properti residensial yang lebih stabil pada 2026 seharusnya berasal dari pengembang dengan bauran harga kelas atas, sedangkan properti industri bergantung pada proposisi masing-masing aset," kata Ismali dan Wilastita.
