Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Bos Summarecon: Pinjol dan Judol Jadi Penghambat Utama KPR Generasi Muda

IMG-20250827-WA0066.jpg
Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Andrianto Pitojo Adi. Dok Fortune Indonesia
Intinya sih...
  • Dirut Summarecon mengungkapkan kesulitan masyarakat memperoleh KPR akibat pinjol yang dapat menurunkan kredit skor BI checking.
  • Pemerintah diharapkan segera menertibkan pinjol dan pay later untuk mengurangi tingkat konsumsi gen Z dan milenial.
  • SMRA mencatat pertumbuhan minat pembelian rumah dari generasi milenial dan Gen Z di Summarecon Bekasi dan Serpong.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), Adrianto Pitojo Adhi, mengatakan pinjaman online (pinjol) menjadi salah satu kendala utama yang menyebabkan pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) oleh konsumen, khususnya generasi muda, ditolak oleh perbankan.

Menurutnya, riwayat gagal bayar pada pinjol dapat merusak skor kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, atau yang lebih dikenal sebagai BI Checking. Skor kredit yang buruk menjadi lampu merah bagi bank untuk menyetujui pinjaman besar seperti KPR.

“Belum lagi judol [judi online]. Judol, kan, susah diturunkan, karena ketika ada pinjaman online, begitu KPR-nya enggak lolos karena TV-nya belum lunas, kulkasnya belum lunas, sangat kasihan,” ujar Adrianto dalam acara Indonesia Summit 2025 di Jakarta, Rabu (27/8).

Melihat fenomena ini, Adrianto berharap pemerintah bisa segera menertibkan ekosistem pinjol. Ia menilai menjamurnya pinjol dan layanan pay later telah mendorong tingkat konsumsi yang tidak sehat di kalangan Gen Z dan milenial, yang pada akhirnya menghalangi mereka mencapai tujuan finansial jangka panjang seperti membeli rumah.

Imbauan serupa disuarakan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad. Ia mengingatkan generasi muda untuk tidak terjebak gaya hidup konsumtif yang dipicu media sosial. Dia pun menyarankan anak-anak muda membeli barang sesuai kapasitas finansial masing-masing.

“Jadi, ya, sebenarnya jangan termakan sama media sosial. Mereka harus sadar dirinya dulu, sesuai dengan kapasitas dirinya sendiri, jangan ke pinjol. Nanti-nanti masuk ke pinjol, nanti nanti nyoba ke judol, itu sendiri rusak,” katanya.

Ironisnya, kendala ini muncul di tengah tingginya minat pembelian rumah dari generasi milenial dan Gen Z. Data internal Summarecon sepanjang 2023-2024 menunjukkan kontribusi signifikan dari kedua kelompok ini. Di Summarecon Bekasi, pembelian hunian oleh milenial mencapai 62 persen, sementara Gen Z menyumbang 16-17 persen. Di kawasan Serpong, penjualan didominasi oleh milenial sebesar 49 persen dan Gen Z sebesar 37 persen.

Dari sisi kinerja keuangan, pada kuartal I-2025 SMRA membukukan pendapatan bersih Rp2,10 triliun, turun 1,39 persen dari Rp2,13 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga tercatat susut 46,02 persen dari Rp441,39 miliar menjadi Rp238,22 miliar.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us