Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Bitcoin Bergejolak, INDODAX Ingatkan Investor Soal Manajemen Risiko

Bitcoin Bergejolak, INDODAX Ingatkan Investor Soal Manajemen Risiko
ilustrasi crypto bitcoin (pexels.com/Alesia Kozik)

Jakarta, FORTUNE - Eskalasi konflik di Timur Tengah sejak ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada Sabtu (28/2) terus meluas. Situasi memanas setelah Selat Hormuz ditutup, disusul serangan balasan Iran terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Perkembangan tersebut mendorong lonjakan harga energi. Harga minyak dilaporkan menembus sekitar US$80 per barel, memicu sentimen risk-off di berbagai kelas aset sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas pasokan energi global.

Di tengah ketidakpastian itu, harga emas dunia menguat hingga kisaran US$5.100 per troy ons seiring meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai. Sementara itu, saham teknologi di Amerika Serikat mencatat pemulihan terbatas. Pasar kripto yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam sehari menjadi salah satu indikator yang paling cepat merefleksikan perubahan sentimen investor.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat turun ke US$63.100 pada akhir pekan sebelum melonjak ke US$70.000 di awal pekan. Saat ini, aset kripto terbesar tersebut bergerak di kisaran US$68.000, dengan total kapitalisasi pasar kripto global mencapai sekitar US$2,33 triliun.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai volatilitas yang terjadi mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makroekonomi.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya, dalam keterangan kepada Fortune Indonesia, Rabu (4/3).

Pada fase awal gejolak pasar, investor biasanya cenderung mengambil sikap risk-off guna menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlangsung lebih lama, sebagian investor mulai mempertimbangkan aset yang dinilai lebih defensif. Antony menilai langkah rasional yang dapat dilakukan adalah menghindari keputusan investasi yang dipicu rasa takut ketinggalan momentum atau fear of missing out (FOMO), serta menerapkan diversifikasi portofolio disertai manajemen risiko yang disiplin.

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” kata Antony, menambahkan.

Sejalan dengan itu, INDODAX menegaskan komitmennya untuk menjaga likuiditas, keamanan sistem, serta transparansi perdagangan. Di tengah dinamika geopolitik global, perusahaan juga terus memperkuat edukasi terkait manajemen risiko. Pendekatan investasi yang disiplin serta perspektif jangka panjang dinilai tetap menjadi kunci bagi investor untuk merespons volatilitas pasar secara rasional dan adaptif.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Bitcoin Bergejolak, INDODAX Ingatkan Investor Soal Manajemen Risiko

04 Mar 2026, 16:04 WIBMarket