Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

ETF dan Regulasi Jadi Tekanan, Citi Pangkas Target Bitcoin 27%

ETF dan Regulasi Jadi Tekanan, Citi Pangkas Target Bitcoin 27%
ilustrasi Bitcoin (Unsplash/Kanchanara)
Intinya Sih
  • Citigroup memangkas target harga Bitcoin dan Ether masing-masing menjadi US$82.000 dan US$2.240 akibat melemahnya minat investor serta arus keluar besar dari produk ETF kripto.
  • Laporan Citi mencatat arus keluar ETF Bitcoin mencapai US$4,5 miliar pada Juni, sementara ETF Ether kehilangan sekitar US$529 juta, menandakan tekanan kuat di pasar aset digital.
  • Lambatnya pembahasan regulasi aset digital di AS dan pergeseran minat investor ke sektor AI memperburuk sentimen kripto, membuat pasar tetap dalam fase bearish dengan risiko penurunan lanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Citigroup memangkas proyeksi harga Bitcoin dan Ether untuk 12 bulan ke depan di tengah memburuknya prospek pasar aset digital. Bank investasi tersebut menilai melemahnya minat investor, arus keluar dana dari produk exchange-traded fund (ETF), hingga lambatnya perkembangan regulasi aset kripto di Amerika Serikat menjadi faktor utama yang membebani dua mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

Dalam laporan riset terbarunya, Citi memangkas target harga Bitcoin menjadi US$82.000 dari sebelumnya US$112.000, atau turun sekitar 27 persen. Sementara itu, target harga Ether direvisi menjadi US$2.240 dari sebelumnya US$3.175.

Menurut Citi, perubahan proyeksi tersebut didorong oleh keputusan perusahaan memangkas asumsi arus masuk bersih ETF Bitcoin selama 12 bulan menjadi nol, dari sebelumnya diperkirakan mencapai US$10 miliar. Langkah itu mencerminkan pandangan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih akan tertahan dalam waktu dekat.

"Arus dana ETF, yang merupakan salah satu pendorong utama harga, baru-baru ini berbalik menjadi negatif," demikian pernyataan Citi, mengutip Reuters.

Bank tersebut mencatat arus dana ETF Bitcoin telah berkurang sekitar US$3,3 miliar sepanjang tahun ini. Secara khusus, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat membukukan arus keluar sebesar US$4,5 miliar pada Juni atau sekitar Rp80,98 triliun (kurs Rp18.000 per dolar AS), menjadikannya bulan terburuk bagi produk investasi tersebut. Sementara ETF Ether spot juga mencatat penarikan dana sebesar US$529 juta atau sekitar Rp9,51 triliun pada periode yang sama.

Melansir Yahoo Finance, Citi memperkirakan adopsi aset kripto oleh investor yang lebih luas masih akan tertunda hingga muncul katalis baru yang mampu mengembalikan optimisme pasar. Sejumlah analis juga mengaitkan tekanan di pasar kripto dengan pergeseran perhatian investor ke rencana initial public offering (IPO) sejumlah perusahaan besar, termasuk SpaceX.

Selain tekanan dari arus keluar ETF, Citi menilai lambatnya pembahasan regulasi aset digital di Amerika Serikat turut memperburuk sentimen pasar. Pembahasan Digital Asset Market Clarity Act, yang ditujukan sebagai kerangka regulasi komprehensif untuk aset digital, masih mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan antara industri perbankan dan pelaku kripto, terutama terkait mekanisme imbal hasil stablecoin.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap potensi aksi jual Bitcoin oleh perusahaan pengelola perbendaharaan aset digital (Digital Asset Treasury atau DAT) juga dinilai membebani pasar. Citi menambahkan, pelemahan sentimen tersebut terjadi bersamaan dengan pergeseran minat investor menuju aset-aset yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).

Di tengah tekanan tersebut, Bitcoin dan Ether kini diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan harga jangka panjang (long-term moving averages), yang mencerminkan sentimen pasar masih berada dalam fase bearish. Dalam skenario terburuk, Citi memperkirakan harga Bitcoin dapat turun hingga US$53.000 dalam setahun ke depan, sedangkan Ether berpotensi menyentuh US$1.094, dengan asumsi kondisi makroekonomi memasuki resesi dan arus keluar ETF terus berlanjut.

Data Decentralized/Decibel menunjukkan Bitcoin yang sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran US$126.000 pada Oktober 2025 kini diperdagangkan di sekitar US$59.000, atau sekitar 50 persen lebih rendah dari puncaknya. Sementara Ether berada di kisaran US$1.590, turun sekitar 65 persen dibandingkan rekor tertingginya pada Agustus 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya volatilitas, lemahnya permintaan ETF, serta ketidakpastian regulasi masih menjadi tantangan utama bagi prospek pasar kripto dalam jangka menengah.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More