Minat Beli Bitcoin Kian Surut, Akankah Sentuh US$40.000?

- Minat beli Bitcoin mencapai titik terendah sepanjang siklus pasar, dengan indikator apparent demand minus 273.000 BTC selama lebih dari 200 hari berturut-turut.
- Harga Bitcoin masih bertahan di kisaran US$59.703 meski tekanan jual meningkat akibat likuidasi posisi leverage dan lemahnya permintaan riil di pasar spot.
- Arthur Hayes memprediksi harga Bitcoin bisa turun hingga US$40.000 dalam enam bulan ke depan, dipicu kebijakan moneter AS yang makin ketat dan sentimen global yang menekan pasar kripto.
Jakart, FORTUNE — Tekanan terhadap pasar Bitcoin belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah melemahnya permintaan riil dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat, sejumlah analis memperkirakan ruang penurunan harga aset kripto terbesar di dunia itu masih terbuka dalam beberapa bulan ke depan.
Data on-chain terbaru menunjukkan minat beli Bitcoin berada pada titik terendah sepanjang siklus pasar saat ini. Di saat yang sama, Co-founder BitMEX Arthur Hayes memprediksi harga Bitcoin berpotensi terkoreksi hingga menyentuh kisaran US$40.000 dalam enam bulan mendatang.
Mengutip CoinMarketCap, Senin (29/6), indikator apparent demand Bitcoin berada di level minus 273.000 BTC. Angka tersebut menjadi yang terendah pada siklus pasar saat ini dan telah bertahan di zona negatif selama 208 hari berturut-turut.
Indikator apparent demand menggambarkan keseimbangan antara permintaan Bitcoin di pasar spot dengan pasokan baru yang masuk ke pasar, sekaligus memperhitungkan peredaran kembali Bitcoin lama. Ketika indikator bergerak di wilayah negatif, kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual lebih besar dibandingkan permintaan baru dari investor.
Sepanjang November 2025 hingga Mei 2026, indikator tersebut sempat bergerak di kisaran nol hingga minus 150.000 BTC. Meski beberapa kali mengalami pemulihan pada Februari, Maret, dan Mei, pergerakannya belum mampu kembali ke area positif.
Penurunan terbaru mengindikasikan semakin banyak Bitcoin lama yang kembali beredar di pasar. Hal ini menunjukkan aktivitas distribusi aset masih lebih dominan dibandingkan akumulasi oleh investor.
Meski permintaan melemah, harga Bitcoin masih bertahan di area support penting. Saat ini Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$59.703 atau turun sekitar 2,93 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Sebelumnya, harga sempat turun dari sekitar US$61.500 hingga menyentuh US$58.500 akibat meningkatnya tekanan jual yang dipicu likuidasi posisi leverage dan aktivasi stop-loss. Namun, aksi beli kembali muncul di area tersebut sehingga harga mampu pulih mendekati level psikologis US$60.000.
Di sisi lain, data funding rate berbobot open interest menunjukkan mayoritas pelaku pasar masih mempertahankan posisi long atau bertaruh pada kenaikan harga Bitcoin.
Sejak akhir Oktober hingga awal Januari, funding rate sebagian besar berada di wilayah positif. Namun, pada periode yang sama harga Bitcoin justru terus melemah, mengindikasikan optimisme investor belum diikuti oleh peningkatan permintaan di pasar spot.
Pada Februari, Bitcoin sempat turun dari kisaran US$90.000 menuju sekitar US$75.000. Ketika itu, funding rate bergerak lebih fluktuatif seiring meningkatnya ketidakpastian pasar dan gelombang likuidasi. Memasuki pertengahan Mei hingga awal Juni, indikator tersebut kembali positif, tetapi belum mampu mendorong terbentuknya tren kenaikan harga yang berkelanjutan.
Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan transaksi berbasis leverage masih lebih cepat dibandingkan peningkatan permintaan riil sehingga reli Bitcoin dinilai belum memiliki fondasi yang kuat.
Pandangan serupa datang dari Co-founder BitMEX Arthur Hayes. Mengutip BeInCrypto, Hayes memperkirakan harga Bitcoin masih berpotensi turun hingga kisaran US$40.000 dalam enam bulan mendatang atau sekitar 35 persen di bawah level saat ini.
Meski memproyeksikan koreksi dalam jangka pendek, Hayes tetap mempertahankan target jangka panjang yang lebih optimistis.
“Kalau saya salah, tidak masalah. Saya tetap pada posisi long, saya tetap senang bagaimanapun juga,” ujarnya.
Menurut Hayes, tekanan terbesar terhadap Bitcoin saat ini berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen-3,75 persensekaligus mengubah proyeksi kebijakan ke arah yang lebih ketat. Proyeksi median suku bunga untuk 2026 dinaikkan menjadi 3,8 persen dari sebelumnya 3,4 persen.
Perubahan tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember meningkat menjadi sekitar 37 persen, dibandingkan sekitar 24 persensebulan sebelumnya, berdasarkan data Wintermute.
Selain itu, sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh, kegagalan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta likuidasi posisi long senilai sekitar US$600 juta pada akhir pekan lalu turut memperbesar tekanan terhadap harga Bitcoin.
Dalam jangka pendek, perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor yang menentukan arah kebijakan The Fed sekaligus sentimen utama bagi pergerakan pasar aset kripto dalam beberapa pekan mendatang.











