Bitcoin Tergelincir ke US$60.000, Alarm Investor Menyala

- Bitcoin anjlok ke sekitar US$60.000 akibat penguatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, menekan pasar kripto global hingga turun lebih dari 2 persen.
- Sentimen negatif diperparah oleh pernyataan hawkish Ketua The Fed serta penurunan minat publik terhadap bitcoin, tercermin dari data Google Trends dan indeks ketakutan pasar yang berada di level rendah.
- Selain faktor makroekonomi, aksi jual investor besar dan meningkatnya minat pada IPO SpaceX turut memperdalam tekanan, membuat harga bitcoin kini hampir 50 persen di bawah rekor tertingginya.
Jakarta, FORTUNE – Pasar aset digital kembali berada di bawah tekanan. Bitcoin (BTC) melemah tajam pada perdagangan Kamis (25/6) dan sempat menembus level psikologis US$60.000 seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Mengutip data CoinMarketCap, nilai kapitalisasi pasar kripto global turun 2,17 persen menjadi US$2,1 triliun. Bitcoin tercatat melemah 2,8 persen ke posisi US$60.991 per koin atau sekitar Rp1,09 miliar dengan asumsi kurs Rp18.024 per dolar AS.
Tekanan jual tidak hanya terjadi pada bitcoin. Indeks CoinDesk 20 yang merepresentasikan pergerakan 20 aset kripto terbesar dunia terkoreksi 2,34 persen. Ethereum turun 2,91 persen ke US$1.620, Binance Coin (BNB) melemah 2,43 persen menjadi US$564, XRP merosot 3,23 persen ke US$1,07, Dogecoin (DOGE) terkoreksi 3,39 persen ke US$0,07, sementara Solana (SOL) turun 2,35 persen ke level US$68,1.
Melansir TradingView, bitcoin bahkan sempat bergerak di bawah US$60.000, level terendah sejak akhir 2024. Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar semakin memperhitungkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Sentimen negatif dipicu oleh pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh yang mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Kenaikan imbal hasil instrumen keuangan AS membuat sebagian pelaku pasar memilih memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman dan memberikan pengembalian lebih menarik.
Menariknya, tekanan tidak hanya melanda aset kripto. Instrumen lindung nilai seperti emas dan perak juga mengalami koreksi signifikan. Harga emas turun di bawah US$4.000 per ons troi untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, sementara perak melemah hingga berada di bawah US$60 per ons, level terendah sejak penghujung 2025.
Di tengah penurunan harga, perhatian publik terhadap bitcoin juga menunjukkan tren penurunan. Data Google Trends memperlihatkan pencarian global untuk kata kunci “bitcoin” menyentuh titik terendah sejak Juni 2025.
Melansir Yahoo Finance, popularitas pencarian bitcoin dalam setahun terakhir mencapai puncaknya pada periode 1–8 Februari 2026. Pada saat itu, harga bitcoin terkoreksi dari sekitar US$78.000 menjadi US$63.000 Namun, pada periode 14–21 Juni 2026, tingkat pencarian hanya mencapai 29 persen dibandingkan puncak popularitasnya. Angka tersebut setara dengan level pencarian yang tercatat pada akhir Juni hingga awal Juli tahun lalu.
Melemahnya minat masyarakat juga sejalan dengan memburuknya sentimen investor. Data CoinGlass menunjukkan indeks ketakutan dan keserakahan (Crypto Fear & Greed Index) berada di level 21, yang mengindikasikan kondisi pasar sedang diliputi rasa takut.
Dalam beberapa bulan terakhir, indeks tersebut bahkan beberapa kali masuk ke zona “ketakutan ekstrem”, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pasar kripto.
Tekanan berkepanjangan ini terjadi setelah pasar aset digital mengalami koreksi besar sejak Oktober 2025. Saat itu, bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.080 sebelum memasuki tren penurunan yang berlangsung hingga saat ini.
Harga bitcoin kini diperdagangkan hampir 50 persen di bawah rekor tersebut dan belum mampu kembali menembus level US$85.000 dalam tiga bulan terakhir.
Selain tekanan makroekonomi, sejumlah faktor lain turut membebani pasar. Penjualan 32 bitcoin oleh Michael Saylor bulan lalu serta tingginya minat investor terhadap penawaran saham perdana (initial public offering atau IPO) SpaceX milik Elon Musk disebut menjadi salah satu pemicu berlanjutnya tekanan di pasar aset digital. Dengan kombinasi sentimen suku bunga tinggi, penguatan dolar AS, dan menurunnya minat investor, pasar kripto masih menghadapi tantangan besar untuk kembali membangun momentum pemulihan dalam jangka pendek.











