Tokenisasi Properti via Blockchain Diproyeksi Capai Rp67.450 T di 2035

Jakarta, FORTUNE - Industri kripto mulai meluas sektor properti sebagai ladang pertumbuhan baru melalui pemanfaatan teknologi blockchain. Salah satu skema yang banyak dibicarakan adalah tokenisasi aset properti, yang dinilai berpotensi membuka akses investasi lebih luas sekaligus menciptakan model bisnis baru di sektor real estat.
Laporan Deloitte Center for Financial Services memperkirakan pasar tokenisasi properti akan berkembang pesat dalam satu dekade ke depan. Nilainya diproyeksikan meningkat dari sekitar US$300 miliar pada 2024 menjadi US$4 triliun pada 2035, atau setara sekitar Rp67.450 triliun dengan asumsi kurs Rp16.885 per dolar AS.
Potensi tersebut mulai menarik perhatian pelaku bisnis properti skala menengah, termasuk pengusaha rumah kos yang tergabung dalam Asosiasi Rumah Kost Indonesia (ARKI). Mereka mulai mengeksplorasi peluang diversifikasi pendapatan melalui instrumen digital, termasuk tokenisasi aset berbasis blockchain.
SVP Strategy & Business Pintu Andy Putra mengatakan minat dari anggota ARKI terhadap industri aset digital cukup tinggi. "Kami melihat anggota ARKI sangat terbuka dan antusias mempelajari cara kerja investasi aset kripto, termasuk memahami manfaat dan risikonya. Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan nilai tambah dan pemahaman yang komprehensif mengenai industri aset digital," ujar Andy Putra dalam keterangannya, Kamis (5/3).
Dalam konteks itu, Pintu memberikan edukasi kepada para anggota asosiasi mengenai dasar investasi kripto, strategi pengelolaan risiko, hingga pentingnya melakukan riset sebelum menanamkan modal. Program ini diharapkan membantu para pengusaha kos mengelola pendapatan usaha secara lebih beragam dan terukur.
Ketua ARKI Florencia Irena Lipin menilai kolaborasi tersebut membuka perspektif baru bagi pelaku bisnis properti tradisional. "Hal ini menunjukkan bahwa bisnis properti tradisional seperti rumah kost tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi finansial," ujarnya.
Di sisi lain, pasar kripto sendiri tengah menghadapi tekanan harga. Bitcoin (BTC) tercatat turun hampir 50 persen dari puncaknya yang sempat mencapai US$126.210 pada Oktober 2025. Pada 16 Februari 2026, harga Bitcoin berada di kisaran US$68.000.
Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, menilai kondisi pasar seperti ini membuat sebagian pelaku pasar mulai melirik instrumen derivatif kripto sebagai alternatif strategi perdagangan.
"Trading derivatif kripto tidak hanya soal mengejar potensi keuntungan, tapi juga tentang bagaimana seorang trader perlu mengontrol dan mengantisipasi risiko," ujar Iskandar, Kamis (19/2).
Data Coinglass menunjukkan ketika harga Bitcoin sempat merosot ke US$60.000 pada 6 Februari 2026, pasar kripto mengalami gelombang likuidasi hingga US$4,85 miliar. Situasi tersebut turut menekan indeks fear & greed ke level 6, yang menjadi titik terendah sepanjang awal 2026.
Menurut Iskandar, instrumen derivatif memberikan fleksibilitas bagi trader untuk mengambil posisi berbeda sesuai kondisi pasar. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa ini masuk ke dalam kategori produk investasi high risk high return. "Penting untuk manajemen risiko, menganalisis kondisi pasar dan menambah informasi juga sangat penting," ujarnya.


















