"Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA," ujar Jonathan dalam keterangannya, dikutip Senin (27/4).
Saham BBCA Capai Level Terendah Sejak 2021, Apa Penyebabnya?

Saham BBCA turun ke level terendah sejak 2021 di tengah tekanan global.
Aksi jual investor asing dan faktor makro menjadi pemicu utama penurunan.
Fundamental BBCA tetap solid dengan pertumbuhan laba dan kualitas aset terjaga.
Jakarta, FORTUNE — Saham BBCA mengalami tekanan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini tercermin dari penurunan harga hingga menyentuh level terendah sejak 2021.
Pada penutupan pekan lalu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 5,84 persen ke posisi Rp6.050, disertai aksi jual bersih investor asing (net foreign sell/NFS) mencapai Rp2,1 triliun dalam satu hari.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar global dan domestik yang memengaruhi sektor perbankan secara luas.
Data perdagangan menunjukkan, pada Senin (27/4), saham BBCA sempat dibuka di Rp6.025, naik tipis ke Rp6.050, kemudian turun ke Rp5.950 sebelum kembali bergerak di kisaran Rp6.000. Secara year to date, saham BBCA telah terkoreksi sekitar 25 persen.
Table of Content
Tekanan eksternal dan arus keluar dana asing
Penurunan saham BBCA sejalan dengan pelemahan saham perbankan besar lainnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat turun 2,81 persen ke Rp4.500 dengan NFS Rp655 miliar. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,85 persen ke Rp3.070 dengan NFS Rp447,3 miliar.
Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menjelaskan tekanan tersebut dipicu oleh faktor makro ekonomi dan sentimen global. Ia menilai investor asing tengah melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Faktor geopolitik juga menjadi salah satu pemicu utama, terutama konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum mereda. Kondisi ini mendorong harga energi tetap tinggi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, yang pada akhirnya memengaruhi aliran modal.
"Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat," sambungnya.
Selain itu, perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta evaluasi MSCI terhadap pasar saham domestik turut memicu keluarnya dana asing dari pasar.
Kinerja fundamental BBCA tetap terjaga
Di tengah tekanan harga saham, kinerja fundamental BBCA menunjukkan stabilitas. Pada kuartal pertama 2026, perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp14,7 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menyebut capaian tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
“Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM,” tulis mereka dalam risetnya.
Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6 persen secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi kontributor utama. Sementara itu, segmen konsumer masih menghadapi tantangan, khususnya pada pembiayaan kendaraan.
Dari sisi risiko, indikator kuartalan menunjukkan adanya tekanan di segmen non-korporasi. Namun secara tahunan, kualitas aset masih mengalami perbaikan, mencerminkan ketahanan portofolio.
“Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga,” tulis riset tersebut.
Valuasi dan strategi perusahaan
BBCA tetap mempertahankan panduan kinerja untuk tahun 2026, dengan target pertumbuhan kredit di kisaran 8-10 persen serta net interest margin (NIM) sebesar 5,4-5,6 persen.
Selain itu, perseroan juga menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun.
Dari sisi valuasi, BRI Danareksa Sekuritas menilai posisi saham BBCA saat ini berada di bawah rata-rata historisnya. Kondisi ini mencerminkan tekanan pasar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas,” tulis riset BRIDS.
Lembaga tersebut mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp10.900, yang mencerminkan potensi kenaikan dari posisi harga saat ini.
Dinamika pasar dan prospek sektor perbankan
Pergerakan saham perbankan, termasuk saham BBCA, mencerminkan sensitivitas sektor ini terhadap kondisi makro ekonomi.
Sebagai sektor yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi, perubahan sentimen global dan domestik berdampak cepat terhadap valuasi saham bank.
Tekanan yang terjadi sejak awal tahun menunjukkan adanya penyesuaian risiko oleh investor, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi nilai tukar.
Dalam kondisi tersebut, saham perbankan menjadi salah satu indikator utama yang mencerminkan persepsi pasar terhadap prospek ekonomi.
Meskipun demikian, data kinerja menunjukkan bahwa bank-bank besar masih mencatatkan pertumbuhan dan menjaga kualitas aset. Hal ini menjadi faktor yang diperhatikan dalam analisis pasar terhadap pergerakan saham sektor keuangan.
Sanggahan: Artikel ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca menjual, menahan atau membeli produk dari sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
FAQ seputar saham BBCA
| Mengapa saham BBCA turun tajam? | Penurunan dipicu faktor eksternal seperti ketidakpastian global dan aksi jual investor asing. |
| Berapa level terendah saham BBCA saat ini? | Per Senin (27/4) pukul 09.45 WIB, Saham BBCA sempat menyentuh level Rp5.950, terendah sejak 2021. |
| Bagaimana kinerja BBCA terbaru? | BBCA mencatat laba bersih Rp14,7 triliun pada kuartal pertama 2026, tumbuh 4 persen secara tahunan. |
| Apa rekomendasi analis terhadap saham BBCA? | BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp10.900. |















