Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Gubernur BI Mundur, Ini Implikasi ke Pasar Modal dan Keuangan

Gubernur BI Mundur, Ini Implikasi ke Pasar Modal dan Keuangan
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (dok. Bank Indonesia)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) berpotensi memicu ketidakpastian jangka pendek di pasar, terutama di tengah tingginya volatilitas global jelang pertemuan FOMC dan menguatnya tensi geopolitik pada minggu ini.

Kendati demikian, RHB Sekuritas menilai, penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI seharusnya mampu memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan stabilitas sistem keuangan akan tetap berlanjut.

Sebagai konteks, Gubernur BI, Perry Warjiyo mengundurkan diri setelah menjabat hampir selama tujuh tahun. Pengunduran dirinya efektif per 26 Juli 2026. Surat undur diri itu dilaporkan telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada proses penunjukan Gubernur BI yang definitif. "Transisi kepemimpinan yang berjalan mulus serta tetap menjaga kredibilitad dan independensi BI akan membantu meminimalkan dampak terhadap pasar keuangan," kata tim riset RHB Sekuritas, Senin (27/7).

Di lain sisi, jika muncul indikasi perubahan signifikan dalam arah kebijakan moneter, juga terdapat sinyal berkurangnya independensi bank sentral, hal tersebut berpeluang meningkatkan volatilitas rupiah, pasar obligasi pemerintah, dan saham-saham sektor perbankan.

"Perkembangan ini diperkirakan akan menjadi perhatian utama pelaku pasar, seiring investor menantikan keputusan pemerintah mengenai penggantinya serta mencermati implikasinya terhadap kebijakan moneter BI, kredibilitas kelembagaan, dan arah kebijakan ke depan," tulis Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa dalam risetnya.

Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan, opsisi Gubernur BI merupakan salah satu jabtan yang sangat vital karena setiap keputusan terkait suku bunga acuan, kebijakan nilai tukar, pengendalian inflasi, hingga kebijakan makroprudensial akan berdampak ke pergerakan rupiah, pasar obligasi, ataupun IHSG.

Oleh karena itu, investor tidak menyoroti pergantian sosok pemimpinnya saja, tapi juga kredibilitas, independensi, dan konsistensi kebijakan BI ke depan.

Di tengah sentimen tersebut, masih ada sentimen positif yang berpeluang membatasi tekanan terhadap pasar saham. Pertama, harga minyak mentah Brent yang sebelumnya mendekati level US$100 per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran US$87 per barel. Koreksi harga minyak itu dapat mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, menurunkan tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral, serta menekan risiko kenaikan biaya energi bagi dunia usaha.

Hendra mengatakan, bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, pelemahan harga minyak juga berppeluang memberi sentimen positif terhdap inflasi domestik, neraca perdagangan, dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia pun memperkirakan IHSG hari ini bergerak relatif melemah dengan rentang support di level 6.060 dan resisten di level 6.300. Selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar sebagai respons atas sentimen pasar.

"Namun, apabila level tersebut ditembus disertai meningkatnya tekanan jual dan arus keluar dana asing, maka peluang pelemahan yang lebih dalam akan semakin terbuka," kata Hendra.

IHSG dibuka melemah ke level 6.185,8 pada awal perdagangan Senin.

Share Article
Editorial Team

Latest in Market

See More