Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Tren Konsumsi Alkohol di Kalangan Anak Muda Turun, Ini Penyebaabnya
Ilustrasi bir bebas alkohol yang sering digambarkan sebagai bir encer atau menjemukan. (unsplash.com/Julia Kicova)
  • Data BPS menunjukkan konsumsi alkohol nasional turun dari 0,37 liter per kapita pada 2023 menjadi 0,30 liter pada 2025, terutama di kalangan muda yang beralih ke gaya hidup sehat.
  • Asosiasi Importir dan Distributor Minuman Indonesia menilai penurunan ini dipicu melemahnya daya beli masyarakat serta kebijakan impor yang tidak konsisten bagi produk kelas atas.
  • Meski tren konsumsi menurun, PT Multi Bintang Indonesia Tbk mencatat kenaikan penjualan bersih hingga Rp3,54 triliun pada 2025 dan memperkuat portofolio minuman non-alkohol seperti Green Sands dan BINTANG 0.0.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Belakangan, tren konsumsi minuman keras atau alkohol menunjukkan penurunan, terutama di kalangan generasi muda. Perubahan gaya hidup yang lebih sehat dinilai mendorong sebagian masyarakat beralih ke minuman alternatif seperti kopi dan matcha.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas, mencakup bir, wine, vodka, dan jenis lainnya, terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada Maret 2023, rata-rata konsumsi alkohol nasional tercatat 0,37 liter per kapita per tahun, lalu turun menjadi 0,30 liter per kapita per tahun pada Maret 2025

Sekretaris Jenderal Asosiasi Importir dan Distributor Minuman Indonesia (Apidmi), Ipung Nimpuno, menilai penurunan konsumsi minuman beralkohol lebih banyak dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat.

Terutama, bir lokal yang harganya lebih terjangkau banyak dikonsumsi kalangan muda. Dalam kondisi ekonomi saat ini, kelompok usia muda dinilai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Siasatnya, lanjut Opung, anak muda justru membeli minuman beralkohol secara patungan untuk dikonsumsi bersama.

"Gen Z yang sudah kerja kalau pendapatannya UMR, dia akan sangat sensitif masalah perbedaan harga. Fokus keuangan mereka ke kebutuhan primer," ujarnya kepada Fortune Indonesia (25/3).

Sementara itu produk impor seperti wine umumnya dikonsumsi kelompok menengah atas yang memiliki kondisi keuangan lebih stabil sehingga dampak perlambatan ekonomi tidak terlalu terasa terhadap pola konsumsi mereka.

Namun apabila terjadi penurunan pada kalangan konsumen kelas atas, dia menilai penyebabnya adalah kebijakan impor yang tidak konsisten. Walhasil, ketika kaum berpunya ini ingin membeli produk tertentu, barangnya justru raib di pasaran.

Dalam hal ini, PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) sebagai perusahaan minuman alkohol nasional menilai data pemerintah itu tidak sepenuhnya menggambarkan perilaku konsumennya.

Presiden Direktur Multi Bintang Indonesia, Roland Bala, mengatakan perusahaan tidak mengelompokkan konsumsi berdasarkan usia maupun perilaku konsumen secara spesifik. Namun, ia mengakui perubahan gaya hidup yang lebih memperhatikan kesehatan serta kondisi ekonomi belakangan turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

"Kami berhati-hati untuk tidak menarik kesimpulan mengenai perilaku Gen Z di Indonesia," ujarnya kepada Fortune Indonesia.

Kinerja keuangan perusahaan sepanjang 2025 mencetak pertumbuhan. MLBI mecatat penjualan bersih Rp3,54 triliun, naik 4,6 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp3,38 triliun. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terkerek naik menjadi Rp1,18 triliun, meningkat dari Rp1,14 triliun pada tahun sebelumnya.

Kendati demikian perlu digarisbawahi adalah kesiagaan MLBI. Perusabaan ini memiliki portofolio produk non-alkohol seperti Green Sands dan BINTANG 0.0 sebagai pilihan bagi konsumen dewasa. Dari laporan keuangan 2025, terlihat penjualan bersihnya berdasarkan kelompok produk alkohol menyumbang Rp3,29 triliun. Sebaliknya, segmen non-alkohol hanya sanggup menyumbang Rp248,5 miliar.

Editorial Team

EditorEkarina .