Jakarta, FORTUNE - Olahraga lari kini tak lagi sekadar aktivitas kebugaran. Dalam beberapa tahun terakhir, lari telah menjelma menjadi tren gaya hidup yang ikut memantik geliat industri sepatu lokal di Indonesia. Berbagai jenama berlomba menghadirkan inovasi teknologi, menciptakan sepatu yang tak hanya nyaman dan bertenaga, tetapi juga mampu menantang dominasi merek global.
Lonjakan minat terhadap olahraga ini mulai terasa sejak pandemi COVID-19. Survei RunRepeat yang melibatkan 3.961 pelari dari 139 negara menunjukkan pandemi berkontribusi memunculkan gelombang pelari baru. Sebanyak 28,76 persen responden pertama kali mulai berlari saat pandemi, ketika berbagai fasilitas olahraga tutup. Bagi 72 persen responden, motivasinya sederhana: menjaga kesehatan. Lari dianggap sebagai olahraga yang mudah dilakukan karena hanya membutuhkan sepasang sepatu dan pakaian olahraga, sehingga siapa pun dapat berlari di mana saja.
Pertumbuhan tren tersebut sejalan dengan peningkatan nilai industri olahraga global. The Business Research Company mencatat nilai pasar industri olahraga dunia mencapai hampir US$484 miliar pada 2023, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) 3,6 persen sejak 2018. Nilai ini diproyeksikan meningkat menjadi US$651 miliar pada 2028 dengan laju pertumbuhan 6,1 persen.
Di Indonesia, dinamika itu tercermin dalam laporan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Nilai agregat ekonomi olahraga pada 2024 tercatat sebesar Rp39,45 triliun atau setara dengan 0,19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini meningkat Rp2,17 triliun dibandingkan 2023 yang sebesar Rp37,28 triliun.
Menariknya, kontributor terbesar dalam industri olahraga nasional berasal dari produk sepatu, yakni mencapai 41,75 persen. Meski merek internasional memiliki penetrasi kuat, sebanyak 92 persen masyarakat Indonesia disebut lebih menyukai produk lokal. Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap lari, kebutuhan pelari juga semakin beragam. Sepasang sepatu saja tak lagi cukup bagi mereka yang serius berlatih. Terdapat kebutuhan berbeda untuk road-running, trail-running, hingga cross-training, serta kategori sepatu khusus seperti daily trainer, racing shoes, dan speed shoes.
Melihat tren tersebut, para pelaku industri sepatu lokal mulai fokus mengembangkan teknologi yang lebih canggih. Presiden Direktur sekaligus Co-founder 910Nineten, Anastasia Irene, mengatakan sejak 2014 PT Volans Indonesia yang menaungi merek tersebut telah fokus mengembangkan sepatu lari. “Pada 2020, kami membuat sepatu performance sesuai segmen dan kebutuhan latihan dengan harga affordable mulai Rp449.000 hingga Rp2,5 jutaan, tetapi dengan kualitas yang bagus. Kami mulai dengan model Geist Ekiden,” kata Irene kepada Fortune Indonesia (11/3).
Bagi produsen lokal, inovasi menjadi kunci untuk membangun kepercayaan pasar. Ortuseight, misalnya, mengembangkan sepatu lari berteknologi carbon plate, fitur yang lazim ditemukan pada sepatu premium merek global.
“Kalau di brand-brand internasional, itu top shoes-nya. Pada 2021, kami menjawab tantangan itu. Lahirlah generasi pertama sepatu lari Ortuseight dengan carbon plate pertama di Indonesia, namanya Hypersonic,” katanya. “Sepatu lari lokal carbon plate pertama hasil kreasi anak bangsa yang dijajal di ajang maraton kelas dunia.”
Dalam proses riset dan pengembangan, Ortuseight menggandeng world-class running coach, Mike Trees serta pro triathlete Andy Wibowo. “Mereka sudah profesional, tahu mana sepatu yang bagus dan apa yang kurang. Mereka juga telah mencoba berbagai merek, jadi bisa memberikan insight berharga bagi kami,” kata Arif Prijadi Wirawan, Co-founder & CEO Ortuseight.
