Survei BI: Nataru Katrol Penjualan Eceran pada Akhir 2021 

BI perkirakan tekanan inflasi bakal meningkat pada Mei 2022

Survei BI: Nataru Katrol Penjualan Eceran pada Akhir 2021 
Penjual melayani pembeli di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/12/2021). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta,FORTUNE - Survei Bank Indonesia (BI) mencatat, Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2021 sebesar 206,9 atau secara bulanan tumbuh 3,0 persen (mtm). 

Kepala Departemen Komunikasi yang juga Direktur Eksekutif BI Erwin Haryono menjelaskan, kinerja penjualan eceran  didorong meningkatnya permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan tahun baru (Nataru). 

"Peningkatan penjualan eceran terjadi pada Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Subkelompok Sandang," kata Erwin melalui keterangan resminya di Jakarta, Selasa (11/1). 

Secara tahunan, penjualan eceran Desember 2021 diprakirakan tumbuh 8,9 persen (yoy), terutama ditopang oleh kinerja penjualan Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang mencatat pertumbuhan tertinggi.

BI perkirakan tekanan inflasi bakal meningkat di Febuari dan Mei 2022

Dari sisi harga, responden memprakirakan tekanan inflasi pada Februari dan Mei 2022 meningkat. 

Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari dan Mei 2022 yang masing-masing sebesar 129,7 dan 140,0. Level tersebut lebih tinggi dari 125,5 dan 134,3 pada bulan Januari dan April. 

Responden menyatakan peningkatan harga didorong oleh faktor musiman seperti HBKN seperti Imlek dan Idulfitri  dan indikasi adanya kenaikan harga bahan baku.

Volatile food jadi salah satu penyebab utama Inflasi 2021

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2021 tercatat sebesar 1,87 persen (yoy) atau sedikit meningkat dibandingkan dengan inflasi IHK 2020 sebesar 1,68 persen (yoy).  

Sebelumnya BI juga menilai, meningkatnya tekanan inflasi IHK di akhir tahun didorong oleh kelompok inflasi volatile food dan administered prices. Inflasi inti tercatat 0,16 persen (mtm) atau relatif stabil dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,17 persen (mtm).  

Untuk inflasi kelompok volatile food, tercatat sebesar 2,32 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan lalu sebesar 1,19 persen (mtm), sejalan pola musiman akhir tahun.  

DBS perkirakan inflasi bakal meningkat di kisaran 3% pada 2022

Sementara itu, Radhika Rao selaku Senior Economist DBS Group Research menilai inflasi Indonesia bakal bergerak naik di 2022. 

Kenaikan tahun 2022 menurutnya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya reformasi subsidi bahan bakar, perubahan pajak, hingga kondisi bisnis. 

"Penerapan perubahan pajak, termasuk kenaikan tarif PPN kemungkinan akan memengaruhi setidaknya setengah dari inflasi dan kemungkinan menyebabkan kenaikan cukai tertentu," ungkap Radhika dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (10/1). 

Pihaknya bahkan memperkirakan inflasi RI di 2022 rata-rata berada pada kisaran 3 persen namun masih dalam target BI, yang sebesar 2 persen hingga 4 persen.

Magazine

SEE MORE>
Fortune Indonesia 40 Under 40
Edisi Februari 2024
Investor's Guide 2024
Edisi Januari 2024
Change the World 2023
Edisi Desember 2023
Back for More
Edisi November 2023
Businessperson of the Year 2023
Edisi Oktober 2023
Rethinking Wellness
Edisi September 2023
Fortune Indonesia 100
Edisi Agustus 2023
Driving Impactful Change
Edisi Juli 2023

Most Popular

Paylater Layaknya Pedang Bermata Dua, Kenali Risiko dan Manfaatnya
Bidik Pasar ASEAN, Microsoft Investasi US$2,2 Miliar di Malaysia
LPS Bayarkan Klaim Rp237 Miliar ke Nasabah BPR Kolaps dalam 4 Bulan
BI Optimistis Rupiah Menguat ke Rp15.800 per US$, Ini Faktor-faktornya
Saham Anjlok, Problem Starbucks Tak Hanya Aksi Boikot
Rambah Bisnis Es Krim, TGUK Gandeng Aice Siapkan Investasi Rp700 M