Jakarta, FORTUNE – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melaporkan adanya penurunan penerbitan obligasi korporasi sebesar 12,75 persen secara tahunan menjadi Rp139,65 triliun hingga kuartal III-2026.
Tren penurunan yang dipicu oleh pembengkakan biaya dana akibat kenaikan suku bunga acuan ini terjadi di tengah akumulasi penerbitan yang diperkirakan mampu menembus Rp183,16 triliun pada akhir tahun.
Penurunan volume emisi surat utang korporasi dari posisi Rp160 triliun pada periode sama pada 2025 tersebut utamanya dipicu oleh lonjakan yield acuan Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta BI Rate sepanjang 2026.
Kepala Divisi Economic Research and Consulting (ERC) Pefindo, Suhindarto, menjelaskan kenaikan yield pada instrumen acuan secara langsung mengerek tingkat kupon surat utang baru yang dibentuk di pasar, sehingga meningkatkan beban kupon bagi emiten.
“Sepanjang 2026 ini kami melihat adanya kenaikan biaya dana yang cukup signifikan, terutama ketika mulai terasa tekanannya sejak kuartal kedua 2026. Hal ini, seiring dengan kenaikan yield benchmark yang ada di pasar,” kata Suhindarto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (14/10).
Saat ini, yield acuan SBN adalah 7,16 persen, dan BI Rate 5,75 persen. Kendati menghadapi tekanan biaya dana, Pefindo memproyeksikan total nilai penerbitan obligasi hingga akhir tahun dapat mencapai Rp183,16 triliun. Estimasi tersebut didorong oleh potensi refinancing surat utang yang mencapai Rp43,56 triliun.
Ditinjau berdasarkan sektor industri, korporasi pada sektor kehutanan, pulp, dan kertas mendominasi realisasi penerbitan obligasi sepanjang tahun berjalan dengan nominal mencapai Rp21,2 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh sektor pembiayaan dengan emisi senilai Rp18,4 triliun, disusul entitas terkait pemerintah senilai Rp16,7 triliun.
Dari sisi profil risiko, penerbitan surat utang didominasi oleh korporasi berperingkat tinggi. Emiten dengan peringkat AAA berkontribusi 41,29 persen dari total emisi. Sementara itu, emiten berperingkat AA dan A masing-masing mencatatkan porsi penerbitan 18,70 persen dan 39,84 persen.
Di samping realisasi emisi, Pefindo mencatat mandat pemeringkatan surat utang korporasi senilai Rp56,19 triliun dari 40 perusahaan hingga September 2026. Dari total mandat tersebut, Rp33,73 triliun berasal dari perusahaan non-BUMN dan Rp22,46 triliun berasal dari BUMN beserta anak usahanya.
