Subung Naik, PEFINDO: Emiten Pilih Terbitkan Obligasi Tenor Rendah

- PEFINDO mencatat emiten kini lebih memilih menerbitkan obligasi jangka pendek sebagai strategi menghadapi tren kenaikan suku bunga dan yield yang masih tinggi.
- Data semester I 2026 menunjukkan total penerbitan surat utang korporasi turun menjadi Rp87,3 triliun atau menurun 3,91 persen dibanding tahun sebelumnya.
- Meski ada penurunan, PEFINDO tetap optimistis karena tingginya nilai jatuh tempo EBUS dan stabilnya pertumbuhan ekonomi diperkirakan mendorong penerbitan baru hingga Rp196,86 triliun pada 2026.
Jakarta, FORTUNE - PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat emiten mulai lebih memilih menerbitkan obligasi korporasi jangka pendek di tengah tren kenaikan suku bunga dan yield.
Head of Economic Research Division PEFINDO, Suhindarto, mengatakan, hal itu merupakan strategi pendanaan emiten ketika suku bunga tinggi. Harapannya, setelah kondisi pasar keuangan relatif lebih stabil dan suku bunga mencapai puncaknya, akan terjadi penurunan kembali.
"Sehingga dengan begitu mereka bisa mengganti surat utang di tahun ini yang terpaksa mereka terbitkan dengan kondisi suku bunga lebih tinggi, nantinya tahun depan relatif lebih rendah," katanya di Konferensi Pers PEFINDO III pada Rabu (22/7).
Berdasarkan data PEFINDO, saat ini pasar menunjukkan penerbitan obligasi dengan tenor 3 tahun ke atas mengalami perlambatan. Di sisi lain, obligasi dengan tenor 1 tahun justru meningkat.
Di luar strategi itu, emiten juga dinilai memilih menurunkan nilai penerbitan karena penyesuaian kebutuhan pendanaan. Pandangan tersebut terefleksi pada data PEFINDO sepanjang enam bulan pertama 2026.
Pada semester-I 2026, penerbitan surat utang korporasi berjumlah Rp87,3 triliun, turun 3,91 persen (YoY) dari Rp90,9 triliun. Sementara itu, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk menurun 11,1 persen (YoY) dari Rp90,3 triliun.
Kendati terjadi penurunan, PEFINDO masih optimistis pada prospek penerbitan surat utang korporasi pada 2026. Katalisnya, nilai jatuh tempo yang tinggi tahun ini, sehingga mendorong kebutuhan refinancing. Hingga akhir Juni 2026, nilai jatuh tempo EBUS berjumlah Rp107,51 triliun.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap stabil, seiring dengan kebijakan fiskal yang ekspansif dan kebijakan moneter yang diarahkan menjaga stabilitas pasar keuangan.
PEFINDO pun memproyeksikan penerbitan baru surat utang akan berkisar di antara Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun pada 2026, dengan titik tengah Rp175,77 triliun.













