Emiten Nikel Afiliasi Haji Isam Akan Tingkatkan Kapasitas Bijih Nikel

PACK mempertimbangkan aksi korporasi jangka pendek untuk meningkatkan kapasitas bijih nikel, memperbesar basis sumber daya, mengamankan bahan baku, dan mendukung integrasi bisnis hilir.
Melalui anak usaha, PACK memiliki kepemilikan minoritas di dua tambang Konawe Utara berkapasitas gabungan 10 juta ton menurut RKAB 2026; izin operasinya berlaku hingga 2035 dan 2049.
PACK membukukan laba bersih Rp190,7 miliar hingga 30 Juni 2026. Haji Isam memiliki 21,12 persen saham senilai Rp936,65 miliar, namun ditegaskan bukan pengendali.
Jakarta, FORTUNE - Emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. (PACK), mempertimbangkan aksi korporasi jangka pendek guna meningkatkan kapasitas bijih nikel perseroan. Aksi ini diambil guna memperbesar basis sumber daya sekaligus mengamankan pasokan bahan baku demi mendukung integrasi bisnis ke sektor hilir pada masa mendatang.
Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen PACK mengonfirmasi rencana pengembangan kapasitas tersebut, meski perincian skema aksi korporasi yang tengah dikaji masih dirahasiakan.
"Dalam jangka pendek, perseroan berencana meningkatkan kapasitas bijih nikel. Perseroan belum bisa memberikan informasi lebih lanjut terkait dengan aksi korporasi tersebut," demikian manajemen PACK dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (14/9).
Saat ini, perseroan telah mengamankan kepemilikan minoritas pada dua perusahaan tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, melalui dua anak usahanya. PT Sumber Cahaya Raya memegang 30 persen saham PT Konutara Sejati, sedangkan PT Adhi Prakarsa Raya menguasai 34,5 persen saham PT Karyatama Konawe Utara (KKU).
Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, akumulasi kapasitas produksi kedua tambang tersebut mencapai 10 juta ton, dengan perincian KKU sebesar 6 juta ton dan Konutara Sejati sebesar 4 juta ton.
Dari sisi legalitas operasional, KKU mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUPOP) yang berlaku hingga 2035, sementara IUPOP Konutara Sejati berlaku hingga 2049, dengan kedua izin tersebut masih dapat diperpanjang.
Di sisi lain, manajemen PACK juga menanggapi pergerakan positif harga saham perseroan di pasar modal. Manajemen menilai tren kenaikan tersebut murni merupakan mekanisme pasar yang ditopang oleh solidnya kinerja keuangan dan dukungan dari Eco Energi Perkasa selaku pemegang saham pengendali.
Hingga 30 Juni 2026, PACK sukses mengantongi laba bersih Rp190,7 miliar.
Perseroan turut melegitimasi posisi struktur kepemilikan Isam di dalam ekosistem perusahaan. Manajemen menegaskan bahwa Isam merupakan pemegang saham minoritas signifikan dan bukan pemegang saham pengendali.
Isam resmi menjadi pemegang saham PACK pada Mei 2026 setelah membeli 6,83 miliar saham atau setara 21,12 persen porsi kepemilikan dengan harga Rp137 per saham, sehingga total nilai investasinya mencapai Rp936,65 miliar.
Meski porsi kepemilikannya melampaui 20 persen, perseroan mengategorikan kepemilikan tidak langsung tersebut tidak bertindak sebagai pengendali perusahaan.











