Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Kenapa September Disebut Bulan Terburuk untuk Investasi?

Kenapa September Disebut Bulan Terburuk untuk Investasi?
ilustrasi investasi saham (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)
  • September Effect menggambarkan kecenderungan return saham lebih lemah pada September. S&P 500 rata-rata turun sekitar 1 persen selama 1928–2021.

  • Pelemahan kerap dikaitkan dengan aktivitas investor setelah musim panas, rebalancing akhir kuartal III, serta penjualan reksa dana menjelang tahun fiskal.

  • IHSG turun pada tujuh dari 10 September sepanjang 2016–2025, tetapi pola historis bukan kepastian dan perlu dibaca bersama kondisi pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

September disebut sebagai bulan terburuk untuk investasi karena pasar saham secara historis cenderung mencatat kinerja lebih lemah dibandingkan bulan lainnya. Fenomena musiman ini dikenal sebagai September Effect, terutama dari riwayat pergerakan indeks saham utama di Amerika Serikat.

Meski demikian, September Effect tidak berarti harga saham selalu turun setiap September. Pola historis bukan jaminan pergerakan pasar karena kinerja saham tetap dipengaruhi kondisi ekonomi, kebijakan moneter, sentimen investor, dan faktor lainnya.

Lantas, kenapa September disebut bulan terburuk untuk investasi? Berikut sejumlah faktor yang kerap dikaitkan dengan lemahnya kinerja pasar saham pada bulan tersebut.

  1. Kenapa September disebut bulan terburuk untuk investasi?

  2. 1. Memiliki rekam jejak return yang lemah

    September Effect merujuk pada kecenderungan pasar saham mencatat kinerja lebih rendah selama September. Dilansir Investopedia, indeks S&P 500 mencatat rata-rata penurunan sekitar 1 persen pada September sepanjang periode 1928 hingga 2021.

    Pola ini bukan hasil dari satu peristiwa ekonomi tertentu. Anomali tersebut lebih banyak dikaitkan dengan perubahan perilaku investor dan aktivitas pengelolaan portofolio pada periode tersebut.

    Dalam beberapa tahun terakhir, efek September juga terlihat semakin melemah. Rata-rata return bulanan S&P 500 dalam 25 tahun terakhir berada di sekitar minus 0,4 persen, sedangkan median return bulanannya sudah positif.

  3. 2. Aktivitas investor berubah setelah musim panas

    Salah satu penjelasan yang sering dikaitkan dengan September Effect adalah perubahan aktivitas investor setelah periode musim panas. Volume perdagangan pada musim panas cenderung lebih rendah karena sebagian investor mengurangi aktivitas pasar.

    Ketika aktivitas kembali meningkat pada September, investor dapat melakukan penyesuaian terhadap posisi yang sebelumnya sudah direncanakan. Perubahan tersebut dapat meningkatkan tekanan jual atau membuat pergerakan harga lebih aktif.

    Sebagian pengelola dana juga melakukan rebalancing portofolio menjelang akhir kuartal III. Posisi yang dinilai tidak lagi sesuai dengan strategi dapat dikurangi, sementara aset lain dapat ditambah.

  4. 3. Akhir tahun fiskal mendorong penyesuaian portofolio

    Aktivitas reksa dana menjelang akhir tahun fiskal juga kerap dikaitkan kenapa September dinilai kurang "ramah" untuk investasi. Sejumlah reksa dana mengakhiri tahun fiskal pada September sehingga pengelola dana melakukan penyesuaian portofolio.

    Penyesuaian tersebut dapat mencakup penjualan aset yang merugi untuk mengurangi beban pajak atau tax-loss harvesting. Jika dilakukan secara bersamaan oleh banyak pengelola dana, aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan jual di pasar saham.

    Namun, aktivitas reksa dana bukan satu-satunya penyebab September Effect. Pelemahan pasar pada September dapat dipengaruhi berbagai faktor dan tidak selalu terjadi setiap tahun.

  5. 4. IHSG menunjukkan pola musiman

    September Effect juga terlihat pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam 10 tahun terakhir, IHSG melemah pada tujuh dari 10 periode September sepanjang 2016–2025 dengan rata-rata return minus 0,88 persen dan median minus 0,55 persen.

    Meski lebih sering melemah, IHSG mencatat kenaikan pada September 2017 sebesar 0,63 persen, September 2021 sebesar 2,22 persen, dan September 2025 sebesar 2,94 persen. Sementara itu, penurunan terdalam terjadi pada September 2020 sebesar 7,03 persen di tengah ketidakpastian akibat pandemi.

    Catatan tersebut menunjukkan September Effect merupakan kecenderungan historis, bukan pola yang selalu berulang. Pergerakan IHSG pada September tetap dipengaruhi kondisi pasar dan sentimen yang berkembang.

  6. September Effect tidak selalu terjadi setiap tahun

    Catatan historis tersebut perlu dibedakan dari kepastian pergerakan pasar. Dilansir Investopedia, September Effect menjadi kurang konsisten sejak 1990-an. Penurunan besar juga lebih jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

    Salah satu penjelasan yang muncul adalah pre-positioning, yaitu investor melakukan penjualan lebih awal pada Agustus setelah pola September semakin dikenal. Perubahan perilaku ini dapat membuat sebagian tekanan pasar terjadi sebelum September dimulai.

    Karena itu, pola kalender tidak cukup untuk menentukan arah pasar pada satu periode tertentu. Pergerakan saham tetap dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, kebijakan moneter, kinerja perusahaan, serta sentimen investor.

  7. Investor perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh

    Pola historis September dapat menjadi salah satu konteks untuk melihat risiko pasar, tetapi bukan dasar utama dalam mengambil keputusan investasi. Investor tetap perlu mempertimbangkan fundamental aset, kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan pergerakan pasar.

    Jadi, kenapa September disebut bulan terburuk untuk investasi? Sebutan tersebut muncul karena pasar saham secara historis cenderung mencatat kinerja lebih lemah pada September dibandingkan bulan lainnya. Namun, September Effect bukan jaminan bahwa pasar akan selalu turun pada periode tersebut.

    FAQ seputar kenapa September disebut bulan terburuk untuk investasi

    Kenapa September disebut bulan terburuk untuk investasi?

    September memiliki rekam jejak return pasar saham yang secara historis lebih lemah dibandingkan bulan lainnya.

    Apa itu September Effect?

    September Effect adalah kecenderungan historis pasar saham mencatat kinerja lebih lemah selama September.

    Apakah IHSG selalu turun pada September?

    Tidak, IHSG tetap mencatat kenaikan pada tiga dari 10 periode September 2016 hingga 2025.

    Apakah investor harus menjual saham pada September?

    Pola musiman tidak cukup menjadi dasar keputusan investasi tanpa mempertimbangkan kondisi pasar dan aset.

Share Article
Editorial Team

Latest in Market

See More