Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

ANTM Siapkan Capex Rp6 Triliun untuk Dorong Bisnis Emas-Nikel

ANTM Siapkan Capex Rp6 Triliun untuk Dorong Bisnis Emas-Nikel
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) (antam.com)
  • ANTM menyiapkan capex sekitar Rp6 triliun pada 2026 untuk memperkuat bisnis emas dan rantai baterai kendaraan listrik, dengan realisasi bertahap sesuai kesiapan proyek dan pendanaan.
  • Proyek emas mencakup fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik berkapasitas 30 ton per tahun, masih pra-konstruksi dan ditargetkan beroperasi komersial pada 2028.
  • Di Buli, ANTM mengembangkan proyek HPAL bersama konsorsium CBL dan RKEF hingga 2027, sambil mengevaluasi return, biaya, regulasi, serta kondisi pasar sebelum investasi dieksekusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp6 triliun pada 2026. Anggaran tersebut akan difokuskan untuk mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) serta bisnis emas yang menjadi dua penopang utama pertumbuhannya.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang, Arini Kasmira, mengatakan investasi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan masing-masing proyek. Manajemen juga akan menyesuaikan realisasi capex dengan kebutuhan pendanaan dan perkembangan proyek.

“[Alokasi capex] dengan porsi cukup besar terkait rantai baterai kendaraan listrik dan juga emas, dua kontributor utama dari pertumbuhan laba kami,” kata Arini dalam acara Public Expose Live 2026, Kamis (10/9).

Menurut Arini, besaran investasi yang direalisasikan akan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kesiapan proyek, perizinan, struktur pendanaan hingga aspek keekonomian. ANTM juga akan melihat tingkat pengembalian investasi sebelum memutuskan eksekusi sebuah proyek.

“Setiap investasi, kami selalu evaluasi berdasarkan berbagai indikator mulai cash flow hingga value creation serta pertumbuhan. Tidak hanya mengejar skala, tapi juga mengejar return yang sehat bagi pemegang saham,” ujarnya.

Pada bisnis emas, salah satu proyek yang tengah dikembangkan ANTM adalah fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 30 ton emas per tahun atau hingga lima juta keping produk dengan kadar 99,99 persen.

Proyek manufaktur logam mulia Gresik saat ini masih berada pada tahap pra-konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028. Pengembangan fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi sekaligus memenuhi pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik.

Sementara itu, pada bisnis nikel, ANTM terus memperluas ekosistem baterai kendaraan listrik dari sektor hulu hingga hilir. Salah satu proyek strategisnya adalah pengembangan fasilitas high pressure acid leach (HPAL) di Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara.

ANTM memiliki 30 persen kepemilikan dalam proyek HPAL yang dikembangkan bersama konsorsium CBL. Proyek ini memiliki kapasitas produksi 55.000–60.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun dengan nilai investasi US$1,9 miliar.

Selain HPAL, ANTM juga mengembangkan proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di Buli dengan kepemilikan 40 persen. Proyek tersebut mencakup delapan lini RKEF sekaligus kawasan industri dengan kapasitas produksi sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.

Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai US$1,4 miliar dan pengembangannya ditargetkan berlangsung hingga 2027.

Arini menegaskan ANTM tidak akan mengejar ekspansi proyek semata tanpa mempertimbangkan tingkat keekonomiannya. Setiap investasi akan dievaluasi secara berkala mengikuti perubahan harga komoditas, biaya bahan baku, biaya operasional, regulasi, serta kondisi pasokan dan permintaan.

“Kebutuhan investasi tidak semata-mata berdasarkan target untuk hanya bangun-bangun proyek saja, tapi berdasarkan kemampuan proyek tersebut menghasilkan return yang optimal dan berkelanjutan bagi kami,” ujarnya. 

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Market

    See More