Adhi Karya Fokus ke Bisnis Inti dan Jual Usaha Lain

- Adhi Karya merampingkan bisnis dengan melepas aset dan lini usaha di luar kompetensi inti konstruksi.
- Divestasi mencakup bisnis air, energi, jalan tol, perhotelan, serta pelepasan saham pada tiga entitas anak.
- Dana divestasi disiapkan untuk modal kerja dan kewajiban, sementara ADHI tetap menggarap 117 proyek aktif hingga Agustus 2026.
Jakarta, FORTUNE — PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) merampingkan struktur bisnisnya dengan melepaskan sejumlah aset dan lini usaha non-inti mulai tahun ini. Itu adalah strategi restrukturisasi keuangan serta streamlining perseroan guna memperkuat modal kerja, menyelesaikan kewajiban kepada kreditur dan vendor, serta mengembalikan fokus ADHI pada bisnis utama konstruksi.
Aset yang masuk dalam program divestasi meliputi bisnis pengelolaan air, energi, konsesi jalan tol, serta tiga aset hotel yang saat ini dioperasikan oleh anak perusahaan.
Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko Adhi Karya, Rozi Sparta, menyatakan pada 2026 perseroan menargetkan pelepasan saham pada tiga entitas anak.
“Ini merupakan satu bagian dalam program kerja perseroan ke depan untuk dilakukan proses divestasi,” kata Rozi dalam Public Expose Live, Rabu (9/9).
Hasil dari likuidasi aset potensial tersebut tidak hanya dialokasikan untuk memperkuat modal kerja, tetapi juga digunakan untuk melunasi kewajiban perseroan kepada subkontraktor, vendor, dan kreditur.
Direktur Keuangan Adhi Karya, Bani Iqbal, menjelaskan program streamlining dan restrukturisasi keuangan akan dimulai pada 2026 dan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya. Selain divestasi, ADHI juga berencana melakukan reprofiling terhadap kredit perbankan dan obligasi guna memperbaiki postur neraca di tengah besarnya kewajiban perseroan.
“Kami juga melakukan penguatan modal kerja atas aset kami yang cukup potensial untuk dilikuidasi, pada tahun 2026 dan seterusnya. Nanti hasil divestasi aset ini tidak hanya modal-modal kerja, tetapi juga untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban kepada subkon vendor maupun kreditur,” ujar Bani.
Direktur Utama Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, menegaskan percepatan restrukturisasi keuangan dilakukan melalui penataan anak usaha secara bertahap dan terukur.
“Kami fokus kembali ke bisnis inti, yaitu sebagai kontraktor. Kami juga sedang melakukan penataan anak perusahaan yang akan kami eksekusi secara terukur,” kata Moeharmein.
Sebagai bagian dari penataan tersebut, ADHI bersama Danantara tengah melakukan uji tuntas (due diligence) terhadap sejumlah proyek properti yang dikembangkan anak usaha, termasuk proyek LRT City yang tersebar di 12 lokasi. Evaluasi ini bertujuan memetakan kendala operasional sekaligus merumuskan opsi penyelesaian terbaik atas kewajiban keuangan anak perusahaan.
Di sisi operasional, aktivitas bisnis utama perseroan tetap terjaga. Hingga Agustus 2026, ADHI menggarap 117 proyek aktif yang mencakup sektor infrastruktur, gedung, perkeretaapian, hingga energi.
Dari segi kinerja keuangan, ADHI membukukan pendapatan Rp3,11 triliun pada semester I-2026. Kendati pendapatan berada dalam tekanan, laba bersih perseroan tumbuh 12,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp8,49 miliar.
Sementara itu, EBITDA mengalami kenaikan 28,1 persen mencapai Rp551,64 miliar.











