Penjualan Emas Tembus Rp50 T, Laba Bersih ANTM Naik 34% di Semester I 2026

- ANTM membukukan laba bersih Rp6,91 triliun pada semester I 2026, tumbuh 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
- Penjualan bersih mencapai Rp62,71 triliun, dengan emas menyumbang 80 persen atau senilai Rp50,39 triliun.
- Penjualan feronikel dan bijih nikel tumbuh 32 persen, sementara kas dan setara kas tercatat Rp9,23 triliun.
Jakarta, FORTUNE — PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam membukukan laba bersih sebesar Rp6,91 triliun pada semester I 2026, tumbuh 34 persen dibandingkan Rp5,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba tersebut ditopang peningkatan profitabilitas dan kinerja operasional perseroan.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, EBITDA Antam tercatat Rp9,62 triliun atau meningkat 35 persen pada semester I 2026, dari Rp7,11 triliun pada semester I tahun lalu.
Direktur Utama PT Aneka Tambang, Untung Budiharto mengatakan perseroan mempertahankan kinerja keuangan positif melalui penguatan operasional serta disiplin dalam mengelola modal kerja, arus kas, dan likuiditas.
“Pada semester pertama 2026, perusahaan mampu mempertahankan kinerja keuangan yang positif, didukung oleh penguatan kinerja operasional serta penerapan disiplin pengelolaan modal kerja, arus kas, dan likuiditas secara konsisten,” ujar Untung dalam keterangan resmi, Jumat (28/8).
Pada periode yang sama, ANTM mencatat laba kotor Rp10,85 triliun, naik 32 persen dari Rp8,24 triliun. Laba usaha juga meningkat 38 persen menjadi Rp8,44 triliun dari Rp6,14 triliun pada semester I 2025.
Penghasilan lain-lain turut meningkat 41 persen menjadi Rp559,37 miliar, terutama didorong kenaikan laba selisih kurs dan bagian keuntungan entitas asosiasi. Dengan pertumbuhan tersebut, laba bersih per saham dasar ANTAM mencapai Rp265,85, naik 36 persendari Rp195,43 per saham pada semester I 2025.
Penjualan Emas dan Feronikel Naik

Ilustrasi emas Antam. Foto: Istimewa Dari sisi pendapatan, ANTM melaporkan perolehan penjualan bersih dari seluruh produk sebesar Rp62,71 triliun pada semester I 2026, tumbuh 6 persen dibandingkan Rp59,02 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan domestik tercatat Rp60,15 triliun atau berkontribusi sekitar 96 persen terhadap total penjualan. Produk emas menjadi kontributor terbesar dengan porsi 80 persen terhadap total penjualan.
Penjualan emas Antam tercatat Rp50,39 triliun, naik 1 persen dari Rp49,68 triliun pada semester I 2025. Volume penjualan emas mencapai 18.080 kilogram, sementara produksi emas dari tambang perseroan mencapai 433 kilogram.
ANTM juga mencatat pertumbuhan pada segmen nikel. Penjualan feronikel dan bijih nikel mencapai Rp10,41 triliun, naik 32 persen dibandingkan Rp7,87 triliun pada semester I 2025. Segmen tersebut berkontribusi sekitar 17 persen terhadap total penjualan perseroan.
Produksi bijih nikel mencapai 7,78 juta wet metric ton (wmt), dengan volume penjualan 6,77 juta wmt. Sementara produksi feronikel tercatat 7.788 ton nikel (TNi), dengan penjualan meningkat 32% persen menjadi 7.605 TNi dari 5.763 TNi pada semester I 2025.
Segmen bauksit dan alumina juga mencatat pertumbuhan. Penjualan segmen tersebut mencapai Rp1,88 triliun, naik 28 persen dari Rp1,46 triliun pada semester I 2025.
Di tengah pertumbuhan profitabilitas, ANTM juga memperkuat pengelolaan arus kas dan modal kerja. Perseroan meningkatkan fokus pada cash conversion, optimalisasi persediaan, serta pengelolaan likuiditas untuk menjaga fleksibilitas keuangan.
Pada akhir semester I 2026, total aset ANTM tercatat Rp61,27 triliun, naik 27 persen dari Rp48,38 triliun pada semester I 2025. Ekuitas meningkat 14 persen menjadi Rp38,53 triliun dari Rp33,71 triliun.
Sementara itu, kas dan setara kas tercatat Rp9,23 triliun. Posisi tersebut menjadi penopang likuiditas perseroan untuk kebutuhan operasional dan pelaksanaan proyek strategis.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTM Arini Kasmira mengatakan perseroan akan berfokus memastikan pertumbuhan profitabilitas dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami fokus memastikan kinerja tersebut dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan. Untuk itu, perseroan terus memperkuat disiplin pengelolaan modal kerja dan persediaan, cash conversion, serta alokasi modal secara prudent,” ujar Arini dalam keterangan tertulis, Senin (31/8).
Dengan kombinasi pertumbuhan laba, peningkatan penjualan komoditas nikel dan emas, serta posisi kas yang tetap terjaga, ANTM optimistis memasuki paruh kedua 2026 dengan ruang keuangan untuk mempertahankan operasional sekaligus mendukung agenda pertumbuhan perseroan.














