Harga Minyak Tembus di Atas US$100, Serangan Kapal AS-Iran Picu Gangguan Pasokan

- Harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel pada Kamis, sementara WTI berada di US$96,24 per barel.
- Serangan Iran dan Amerika Serikat terhadap kapal memicu kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
- Gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan Laut Merah membuat pasar fisik tetap ketat serta menopang premi risiko geopolitik.
- Harga Brent bertahan di US$101,10 per barel, setelah menembus US$100; WTI berada di US$96,24. Brent telah melonjak hampir 30 persen dari titik terendah awal Agustus.
- Iran menyerang 10 kapal dekat Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima tanker Iran, memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan pada arus minyak kawasan Teluk Persia.
- Gangguan Selat Hormuz dan ancaman serangan Houthi di Laut Merah memperketat pasar fisik; EIA menaikkan proyeksi harga minyak karena persediaan global menyusut.
Jakarta, FORTUNE — Harga minyak dunia bertahan pada level tinggi pada Kamis (10/9), setelah harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel. Pelaku pasar yang khawatir akan gangguan pasokan yang lebih besar setelah Iran dan Amerika Serikat melancarkan serangan terbesar terhadap kapal-kapal sejak konflik kedua negara berlangsung selama enam bulan.
Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun tipis 0,1 persen menjadi US$101,10 per barel pada pukul 02.56 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berada di level US$96,24 per barel, naik 0,2 persen.
Harga Brent melonjak hampir 30 persen dari titik terendah yang dicapai pada awal Agustus. Kenaikan tersebut terjadi setelah kesepakatan permanen antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan serangan tidak kunjung tercapai, sementara pertempuran kembali pecah pada akhir bulan lalu.
Pada Rabu (9/9), Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah Amerika Serikat menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan akan ada balasan terhadap setiap serangan lanjutan.
“Serangkaian serangan balasan menunjukkan bahwa arus minyak dari kawasan Teluk Persia kemungkinan akan terus terganggu dalam waktu yang cukup lama,” kata Daniel Hynes, analis ANZ, dalam catatan kepada klien dikutip dari Reuters, Kamis (10/9).
Jalur minyak melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui untuk mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas global hingga masih jauh di bawah level sebelum perang.
Tekanan juga meningkat terhadap jalur alternatif ekspor minyak dari kawasan Teluk. Kelompok militan Houthi yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga mengancam pengiriman minyak mentah melalui Laut Merah.
“Ketidakpastian volume minyak yang sebenarnya keluar melalui Selat Hormuz serta gangguan pengiriman yang terus berlangsung membuat pasar fisik tetap ketat dan menopang premi risiko geopolitik dalam harga minyak,” kata Christopher Wong, analis OCBC, dalam sebuah catatan.
Di pasar minyak mentah fisik, dated Brent, yang menjadi acuan harga bagi sekitar dua pertiga pasokan minyak global, telah berada di atas US$100 per barel sejak 3 September, berdasarkan data LSEG.
Pada Rabu, Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan. Kenaikan proyeksi tersebut terjadi seiring dengan menyusutnya persediaan minyak global akibat hilangnya pasokan dari kawasan Timur Tengah.









